Ini Dia Tiga Produk Lokal yang Sudah Go Global #SmescoNV

Kalian masih bangga pakai produk impor? Atau masih ragu dengan kualitas produk lokal? OMG, kemana aja sih kok kurang kekinian banget? Masa hari gini masih enggak bangga menggunakan produk dalam negeri, padahal pada saat yang bersamaan bule-bule pada berharap bisa pakai produk Indonesia loh…

Gak percaya? Sebenarnya kalian bisa dengan mudah mendapatkan keyakinan dengan melihat produk-produk buatan anak bangsa. Coba deh datang ke berbagai pameran yang banyak diselenggarakan di ibu kota untuk mendorong industri kreatif, atau bisa datang ke SMESCO UKM Gallery untuk melihat produk-produk unggulan UKM Indonesia.

Kalau sudah tidak sabar pengen tahu produk apa saja sih yang keren-keren itu, Ini nih ada beberapa produk lokal yang sudah go global dan konsumennya kebanyakan dari luar negeri…

Sapu Upcyclye Product

banbekas

Salah satu produk Sapu Store yang mengolah ban bekas menjadi produk bernilai jual tinggi. / sapustore.net

Siapa sangka kerajinan dari ban bekas ternyata sangat diminati oleh konsumen luar negeri. Pasalnya, kegiatan mengolah limbah tersebut sangat dihargai dan dinilai bersahabat bagi lingkungan.

Kesempatan tersebut dengan cerdik diambil oleh Sindu Prasastyo, inisiator Komunitas Sapu Salatiga yang telah berhasil memproduksi berbagai macam aksesori dan produk yang telah diekspor ke beberapa negara di Eropa.

Sindu memaparkan ide tersebut berawal saat dirinya aktif dalam sebuah organisasi di bidang linkungan dan belajar untuk mengembangkan produksi barang-barang daur ulang.

Kegiatan pengolahan limbah tersebut disebut dengan upcycle karena proses perubahan bentuk dari barang bekas ke barang berguna tidak membutuhkan waktu lama.

Sindu dan komunitasnya memproduksi lebih dari 30 macam produk hasil pengolahan dari ban bekas, mulai dari gelang, dompet, tas, hingga produk-produk interior.

Dalam sebulan, Komunitas Sapu bisa memproduksi hingga 1.000 item, dan 70% dari total produk diserap oleh pembeli dari Belanda, Perancis, Inggris dan Australia, sedangkan sisanya dipasarkan di Yogyakarta dan Bali dengan menyasar turis asing.

Semua produk hasil kreasinya tersebut bisa dilihat dan dibeli melalui website sapustore.com atau sapuupcycle.com.

Di sisi lain, perkembangan bisnis produk upcycle ini sebenarnya juga sangat terpengaruh pada kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dengan menggunakan produk-produk daur ulang.

“Sekarang masih butuh proses untuk mengedukasi masyarakat, dan semakin lama bisnis ini akan terus tumbuh seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Ivee Guitars

iVee Guitars, gitar resonator logam buatan Cimahi yang laris di Eropa.

iVee Guitars, gitar resonator logam buatan Cimahi yang laris di Eropa. / FB iVee Guitars

Keterampilan tangan para perajin Indonesia sebenarnya sudah banyak yang diakui dunia, termasuk dalam urusan produksi gitar. Sudah tak terhitung berapa banyaknya gitar lokal yang berjaya di luar negeri.

Salah satu perajin gitar atau luthier yang memiliki keunikan tersendiri adalah Ivan Mulia. Dia memproduksi gitar resonator berbahan logam atau metal yang diberi nama Ivee Guitars.

Ivan mulai memproduksi prototipe gitar logam pertamanya pada 2009 setelah 10 tahun melakukan riset dan eksperimen dalam pembuatan gitar logam. Sebelumnya, Ivan sudah mendalami gitar sejak 1991 dan mulai menekuni seni pengecoran logam sejak 1999.

“Saya sangat mencintai musik dan tertarik kepada gitar resonator yang berbodi logam atau metal. Kebetulan gitar seperti itu langka dan mahal karena berkualitas, dan saya terdorong untuk membuatnya,” paparnya.

Saat tengah memproduksi prototipe gitarnya, Ivan aktif di beberapa forum gitar Eropa untuk bertanya, mengumpulkan data serta meng-update perkembangan dari gitar buatannya untuk mendapatan masukan dari para ahli.

Keputusannya untuk aktif di forum Eropa tersebut juga merupakan langkah besar, karena produknya langsung dikenal dan disejajarkan dengan gitar butik Eropa lainnya. Belum lagi, ketika Ivan memberikan sentuhan ornamen ukiran khas nusantara, respons yang didapatkan sangat positif dari masyarakat luar negeri.

Karena gitar buatannya sangat eksklusif dengan proses pembuatan yang tidak sederhana, kapasitas produksinya pun sangat terbatas. Apalagi, hingga saat ini Ivan masih mengerjakannya sendiri di sela-sela kesibukannya menjalankan bisnis workshop pengecoran logam di Cimahi, Jawa Barat.

Dalam setahun, Ivee Guitars hanya diproduksi sekitar 20-30 unit, di mana sebanyak 12-20 unit di antaranya dibuat sesuai pesanan, dan sisanya untuk stok atau dilelang.

Meskipun hanya dipasarkan dan dipromosikan melalui media sosial, Ivan mengaku pesanan yang datang ke padanya sudah melampaui kemampuan produksinya. Bahkan saat ini dia sudah memiliki daftar pesanan hingga Desember 2017.

Adapun, komposisi konsumen Ivee Guitars mayoritas berasal dari Eropa, karena di sanalah konsep gitar resonator logam berkembang. Sementara itu, para konsumen pun lebih banyak menjadikannya sebagai pajangan ketimbang dipakai karena sayang digunakan.

Harga yang dibanderol untuk satu unit Ivee Guitars berada pada kisaran 4.000-7.000 euro untuk semua model. Harga yang relatif tinggi tersebut sebagai biaya untuk karya seni yang dibuatnya, ditambah dengan beberapa bagian yang harus diimpor dengan harga tinggi dan biaya pengolahan logam yang tidak murah.

Bingkai Kacamata Kayu Taru Wood

Taru Wood, bingkai kacamata berbahan kayu yang keren.

Taru Wood, bingkai kacamata berbahan kayu yang keren. / website taruwood.com

Berbagai inovasi dalam dunia fesyen dewasa ini terus bermunculan, salah satunya penggunaan kayu sebagai material pembuat bingkai kacamata. Karena ide yang unik dan kreatifitas tanpa batas, produk ini pun dibanderol dengan harga jutaan.

Salah satu pelopor pembuatan bingkai kacamata kayu adalah Nur Anreza dengan produk bermerek Taru Wood sejak 2013. Pria yang disapa Reza tersebut memproduksi bingkai kacamata dengan memanfaatkan limbah kayu jati.

Ide tersebut muncul karena Reza dan tiga orang temannya yang bekerja di sebuah toko ritel yang menjual produk impor. Dia melihat, produk-produk yang dijual di tempat tersebut sebenarnya bukan produk dengan merek yang terkenal, tetapi bisa dibanderol dengan harga tinggi karena berkesan eksklusif.

“Dari situ saya melihat ada peluang untuk produk-produk dengan brand premium di Indonesia. Meskipun harganya mahal, masih ada pasar yang bisa menyerap produknya,” katanya.

Keempat pria itu pun sepakat untuk memilih kacamata sebagai produk perdananya, pasalnya mereka merupakan pengguna kacamata dan merasa akan lebih mudah untuk mengulik produknya.

Ide bingkai kacamata dari kayu itu kemudian muncul karena dua orang dari timnya tersebut berasal dari Jepara yang terkenal oleh kerajinan ukiran kayu.

Taru juga sengaja menggunakan bahan baku kayu limbah sisa pembuatan furniture. Selain menggunakan bahan baku dengan kualitas yang sudah terjamin, Reza juga membawa misi ramah lingkungan untuk mendaur ulang kayu yang sudah tidak digunakan.

Tak disangka, ada beberapa konsumen dari luar negeri yang tertarik dengan produk uniknya. Permintaannya pun cukup tinggi, dan Reza pun mulai bekerja sama dengan seorang reseller di Singapura.

“Akhirnya kami putuskan untuk memasarkannya di Singapura. Setelah trennya mulai terasa, karena banyak orang Indonesia yang berbelanja di Singapura, akhirnya kami mulai lagi untuk memasarkannya di dalam negeri,” katanya.

Tak bisa dipungkiri, strategi seperti itu dijalankan karena apresiasi masyarakat Indonesia terhadap produk dalam negeri memang masing kurang, dan cenderung lebih menyukai produk impor. Sehingga saat produknya cukup booming di Singapura, akhirnya mulai diminati di tanah air.

Sekarang, dalam sebulan Taru bisa menjual hingga 150 bingkai kacamata, dengan harga per buahnya sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Produknya tersebut dijual ke beberapa peritel yang tersebar di Singapura dan Jakarta, juga akan segera dipasarkan di Jerman, Bali dan Surabaya.

***

Jangan salah, ketiga produk tersebut hanya bagian sangat kecil dari potensi dan kekayaan local brand di Indonesia. Jadi, sudah tidak ada alasan lagi buat masyarakat Indonesia, termasuk kamu, untuk bangga terhadap produk lokal. Apalagi kamu bisa jadi pahlawan loh hanya menggunakan local brand!

LOCAL BRAND, LEBIH KEREN!

4 komentar

  1. mysukmana · · Balas

    Semoga menang smesconya

  2. Ahhh makin cintaaaaa dengan produk-produk Indonesia…!

  3. wah…hebat…cintailah produk-produk Indonesia…

  4. Heran sama bocah-bocah yang gak mau melek produk lokal. Malah terlalu mentingin prestise. Padahal dengan produk lokal banyak manfaat yang lebih sustainable.

    Selain itu produk lokal juga banyak yang udah keren dan bagus tanpa kita sadari.

    Inilah Alasan Kenapa Anda Harus Membeli Produk Lokal, Menurut Penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: