Kemana Perginya Sektor Ekonomi Kreatif?

image

“Salam Kreatif! Karena dengan kreatif kita akan bahagia dan sejahtera.”

Salam khas yang selalu disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Bersatu II Mari Elka Pangestu sepertinya akan saya rindukan dalam 5 tahun ke depan.

Seusai menyimak pengumuman Kabinet Kerja 2014-2019 di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo Minggu (26/10/2014) sore, pertanyaan yang langsung menyeruak di kepala saya adalah kemana larinya sektor ekonomi kreatif?

Pasalnya, tidak ada lagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan yang ada hanyalah Kementerian Pariwisata yang saat ini dinakhodai Arif Yahya – CEO PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Bukankah dengan tidak ada kementerian yang khusus mengurusi sektor yang berkontribusi sebesar Rp641,81 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) 2013 menunjukkan tidak adanya perhatian khusus?

Sesuai hemat saya, hal itu berarti ekonomi kreatif hanya akan menjadi bagian kecil dari kementerian lainnya, apakah itu mungkin masuk dalam ranah Kementerian Perdagangan seperti masa KIB I, atau masuk Kementerian Perindustrian atau bahkan dalam Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Padahal, saya sempat berekspektasi bahwa ekonomi kreatif akan dinaungi oleh kementerian sendiri yang bahkan lebih khusus dari sebelumnya menjadi Kementerian Ekonomi Kreatif.

Pikiran itu muncul setelah saya melihat bagaimana antusiasme presiden ke-7 Indonesia yang selalu menggadang-gadangkan ekonomi kreatif, dan konon akan memprioritaskan sektor yang menempati peringkat ketujuh penyumbang PDB itu pada masa pemerintahannya.

Meskipun saya baru intens mengikuti perkembangan ekonomi kreatif dalam 4 bulan terakhir, tapi saya tahu bagaimana ekonomi kreatif diperjuangkan pada masa Kemenparekraf.

Bagaimana secara bertahap semua Orang Kreatif (sebutan bagi pelaku usaha di sektor ekonomi kreatif) dikumpulkan dan diikutsertakan untuk bersama-sama menyusun cetak biru pengembangan ekonomi kreatif hingga 2025.

Dalam waktu sekitar 3 bulan, seluruh pemangku kepentingan dari 18 subsektor ekonomi kreatif berdiskusi dan merumuskan isu-isu strategis dan rencana kerja yang akan dilaksanakan secara kolaborasi oleh quadhelix (pemerintah-akademisi-dunia usaha-komunitas) demi menjadikan ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru ekonomi.

Hasil diskusi itu pun dibentuk dan disusun menjadi rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) dan rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) yang disepakati dengan komitmen bersama demi  perkembangan dan pertumbuhan ekonomi kreatif di masa depan.

Sekarang, bagaimana nasibnya rencana-rencana strategis yang telah disusun di atas jika tidak ada yang benar-benar fokus untuk mengurusi ekonomi kreatif?

Sungguh sangat disayangkan jika semua konsep dan fondasi yang telah disusun dan dibangun pada pemerintahan sebelumnya tidak dilanjutkan dan diimplementasikan pada pemerintahan saat ini.

Dan tampaknya, jalan panjang menjadi daya saing baru ekonomi demi Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur itu akan semakin panjang jika tidak ada katalisasi yang dilakukan oleh Kabinet Kerja.

Lantas, sekarang saya harus bertanya kepada siapa jika ingin tahu bagaimana kabar dan nasib ekonomi kreatif pada masa Presiden Joko Widodo?

5 komentar

  1. aku ngga mau berkomentar ke sisi tulisannya, tapi tulisan ini khas tulisan seorang wartawan hihi

    halo teh, lama ya aku ndak blogwalking ke sini..

  2. Sayangnya aku gak ngerti yang beginian..😦

  3. Salam Kreatif!

    Isunya sih, yang kreatif2 ini akan ada lembaganya sendiri… gak ikut kementerian…

  4. Dilihat saja nanti aksi pak jokowi nantinya. Saya yang wong solo melihat pak jokowi concern dengan ekonomi kreatif sewaktu jadi walikota solo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: