Kabur Menuju Kebebasan

Penat dengan hiruk-pikuk sibuknya Ibu Kota bisa jadi faktor penyebab stres. Akibatnya juga bisa lebih panjang, tak sekadar capek pikiran yang kemudian merembet sampai sakit fisik, bahkan sampai capek hati yang bikin hidup serasa remang-remang.

Selama 1,5 tahun hidup merantau sebagai kaum urban, tempat pelarian saya dari penatn lebih banyak dengan nongkrong di angkringan bersama teman-teman. Ngobrol apa saja, dari yang serius sampai yang jorok, ikut mengisap asap rokok yang keluar dari mulut-mulut mereka, sambil menenggak es teh kampul favorit.

Untuk beberapa lama cara itu memang cukup ampuh setelah melewatkan satu hari yang teramat sibuk karena terus-terusan dikejar deadline. Tapi, semakin kemari saya merasa kekurangan waktu untuk sendiri, butuh kabur dari banyak orang hanya untuk mencari kebebasan dan bersolilokui.

Pernah sengaja mampir ke warung kopi, sendiri, menyibukkan diri mencari kebebasan. Cukup ampuh tapi tak bertahan lama. Warung kopi yang nyaman, yang lengkap dengan wifi dan colokan harganya ampun-ampunan. Semua orang tahu itu, termasuk kondisi finansial saya. Makanya opsi itu sangat jarang saya pilih kecuali kepepet.

Pilihan lainnya, cuma menggelepar di kamar kos yang bisa beralih fungsi menjadi tempat sauna tiap sinar matahari menantang atap yang terbuat dari asbes. Opsi ini hanya dipilih jika setan bernama malas berhasil menyekap saya.

Akhirnya, dalam beberapa pekan terakhir, karena tuntutan PR yang harus saya kerjakan, saya mencari tempat yang bisa membuat saya duduk tegak tanpa biaya sehingga bisa fokus untuk menyelesaikan pekerjaan sambik menjaga cashflow isi dompet. Pilihan saya kemudian jatuh pada perpustakaan umum.

Berdasarkan rekomendasi dari beberapa teman dan banyak artikel di blog tentang perpustakaan-perpustakaan umum di Jakarta, saya memilih untuk menyambangi Perpustakaan Umum Freedom Institute yang beralamat di Jl. Proklamasi No.41, tepat di seberang Taman Proklamator.

Perpustakaan Umum Freedom Institute

Pertama kali mengunjungi tempat tersebut, saya mengajak kolega saya yang memang bisa diandalkan karena selalu memiliki banyak waktu selo. Bersamanya pada Sabtu, saya berangkat dengan menaiki bus trayek 213 dari Jl. Jendral Sudirman, kemudian turun di kawasan Stasiun Cikini/Metropole.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, melewati Hotel Mega Proklamasi, Sekolah Tinggi Teologi, Showroom Lexus Menteng, dan akhirnya sampai di Wisma Proklamasi 41. Tempat perpustakaan umum berada di dalam kompleks wisma, di gedung sendiri yang menjulang di samping Kedai Kopi Proklamasi.

Bagi yang pertama kali datang ke perpustakaan itu, mungkin akan sedikit bingung, karena pintu masuknya ada di bagian belakang, sehingga kami harus sedikit berjalan lebih ke dalam dan melewati taman hijau yang saya rasa sangat cocok untuk berdiskusi.

Yang paling menarik sebelum masuk ke dalam perpustakaan, di bagian luar gedung banyak berjuntai lonceng-lonceng yang akan bersuara saat disapa angin, nada yang keluar juga seakan diatur sehingga menghasil irama yang nyaman di kuping. Selain itu ada sejenis kursi taman yang menurut saya merupakan modifikasi antara kursi goyang dan ayunan.

Saat memasuki ruang perpustakaan, anda akan disambut metal detektor yang saya tidak yakin apakah itu berfungsi untuk memindai buku koleksi perpustakaan yang dibawa keluar tanpa izin. Setelah melewati itu, cobalah tengok ke sebelah kiri, ada meja penitipan barang gratis.

Saat menitipkan barang, biasanya petugas akan menanyakan kartu keanggotaan. Jika punya, cukup diserahkan supaya dipindai demi data statitistik kunjungan. Jika belum punya, akan ditawari pembuatan kartu anggota, GRATIS. Itu opsinonal, pengunjung bisa membuat kartu atau tidak.

????

Barang yang kita titipkan akan disubtitusi dengan sebuah totebag berangka, yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang yang akan kita bawa ke area membaca, sekaligus sebagai nomor penitipan barang yang bisa kita tukar dengan barang yang dititipkan.

Setelah prosedur penitipan barang selesai, di tengah ruangan akan terlihat meja besar di tengah yang dilengkapi 8-10 kursi, yang bisa digunakan untuk membaca atau mengetik. Bagi yang punya laptop bapuk seperti saya, yang tidak bisa digunakan tanpa aliran listrik, jangan khawatir, di bagian bawah meja disediakan banyak colokan listrik yang bisa kita gunakan.

Jika tidak terlalu nyaman dengan meja komunal seperti itu, di bagian samping ruang juga disediakan kubikel-kubikel kayu yang juga bisa digunakan. Lebih privat. Cocok bagi pengunjung yang ingin mendapatkan fokus tanpa terganggu aktivitas orang lain di sampingnya.

Tak sekadar itu, bagi pengunjung yang mendewakan kenyamanan, sofa-sofa empuk juga disediakan di ruangan bagian lainnya. Lokasinya memang agak ke bagian dalam ruangan, jadi jangan segan untuk mengeksplorasi seluruh ruangan.

????

Untuk urusan koleksi buku, bisa dibilang memang tidak selengkap di perpustakaan nasional, karena terbatas. Mayoritas koleksi merupakan buku politik dan ekonomi, ada juga beberapa buku sastra, sejarah dan lainnya. Tapi jangan khawatir, pengunjung masih bisa mendapatkan banyak referensi bacaan lain dengan memanfaatkan fasilitas wifi gratis.

Sejak kunjungan pertama ke tempat ini, saya langsung merasa nyaman dan betah. Dengan kondisi seperti itu, saya merasakan kebebasan. Kebebasan untuk berinteraksi dengan diri saya sendiri, baik dengan media membaca buku, menulis atau pun sekadar mendengarkan musik favorit.

Sekarang, hampir setiap pekan saya menyempatkan diri untuk kabur dari ingar-bingar Jakarta, sekadar mencari tempat buat ngadem. Mendinginkan fisik, juga mendinginkan pikiran. Jadi, bagi Anda yang juga ingin mencoba mencari kebebasan, tak ada salahnya untuk mencoba mengunjungi fasilitas umum ini.

Perpustakaan buka dari Senin-Sabtu, dengan jam operasional pukul 09.00-19.00 pada hari kerja dan pukul 10.00-17.00 pada Sabtu. Untuk informasi lebih lengkapnya, bisa kunjungi halaman resminya http://perpus.freedom-institute.org.

5 komentar

  1. senengnya kalau punya hobi baca seperti kita, punya kesaman dalam kesukaan, sayangnya aku ga berani klo keluar sendiri, di kota juga ada perpustakaan umum tapi belum pernah sekkalipun aku kesana.

  2. mau ikutan kaburrrrrrrrrrr🙂

    http://judionline168.com

  3. coba deh sesekali jalan-jalan ke sulawesi, disana lebih tenang

  4. […] pilu itu tentang tutupnya sebuah tempat favorit di pusat Jakarta: Perpustakaan Umum Freedom Institute. Sebuah perpustakaan yang selalu berhasil memberikan saya ketenangan dan kenyamanan di tengah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: