Memeluk Mimpi di Theater of Dreams

 

“Pokoknya aku harus ke Old Trafford!” bentaknya sambil membanting pintu kamar.

Kalimat itu seakan menghempaskanku ke selusin tahun yang lalu, saat aku juga masih duduk di kelas 6 SD. Saat itu aku juga pernah bermimpi untuk menginjakkan kaki di Old Trafford, stadion gagah tempat para pemain bola idolaku meraih kejayaannya.

***

Kemarin malam, adikku yang masih kelas 6 SD menangis setelah sepanjang siang dia diejek habis-habisan oleh teman-temannya di sekolah karena kekalahan tim favorit kami, Manchester United yang terpaksa bertekuk lutut melawan tim sepak bola papan tengah.

Sepertinya memang sudah jadi kebiasaan, di sekolah setiap anak selalu mengagung-agungkan tim sepak bola favoritnya masing-masing dan berlagak sok jagoan saat timnya menang di sebuah pertandingan. Hal itu dilakukan sambil mengejek dan menjelek-jelekan tim lawan. Begitu pula adikku, dan aku juga pernah – dulu.

Hampir sepanjang musim ini, Si Setan Merah memang tidak dalam performa terbaiknya pasca-Sir Alex Ferguson mundur dan digantikan David Moyes. Masih belum beradaptasi kalau menurutku, meskipun akhirnya banyak yang menyudutkan Moyes hingga dia dipecat dan diganti oleh pelatih interim Ryan Giggs.

Tiap kali MU kalah, sudah bisa dipastikan adikku selalu pulang dengan wajah kusut dan mengeluh. Melihat raut wajahnya yang sendu itu, jujur aku tidak bisa menahan air mataku. Ada perasaan tak tega yang hadir, apalagi sadar kalau dia sudah ditinggal kedua orangtua kami sejak belia.

***

Ayah kami meninggal delapan tahun yang lalu saat adikku masih berumur empat tahun dan aku kelas 1 SMA. Tentu, adikku belum mengenal sosok ayah yang telah mengenalkanku dan pernah membuatku jatuh cinta pada sepakbola.

Lima tahun kemudian, ibu menyusul ayah ke surga. Ya, aku pernah benar-benar mencintai sepak bola. Meskipun aku seorang perempuan dan (saat itu) dirasa tak lazim untuk menyukai olahraga yang biasa dimainkan lelaki, aku tetap ngotot dan seringkali ikut pertandingan dengan teman-teman di kampung.

Kecintaanku terhadap sepakbola diawali saat aku masih berumur 6 tahun, saat itu Piala Dunia 1998 digelar di Prancis. Aku masih ingat bagaimana pertama kali ayahku mengenalkanku pada olahraga yang konon berasal dari Inggris itu. Hampir tiap malam, atau dini hari tepatnya, ayahku selalu membangunkanku untuk menemaninya menonton bola.

Aku masih ingat bagaimana ayahku mengiming-imingiku untuk mau bangun dengan membuatkan mie instan atau nasi goreng. Bahkan, sejak sore dia seringkali membuat cemilan yang disiapkan untuk nonton bareng, comro misalnya.

Awalnya aku tak begitu tertarik, dan hanya menjalankan ritualku untuk ‘pindah tidur’ saja ke depan televisi. Sampai akhirnya pada satu dini hari aku terkesima dengan permainan salah satu negara yang menjadi finalis di perhelatan akbar sepakbola itu. Tim berseragam putih-putih itu tampak gagah melawan tim berseragam biru langit.

Namun, di tengah-tengah pertandingan, kejadian menggemparkan terjadi. Kaptem tim putih tampak terjatuh oleh kapten tim biru langit, selanjutnya kapten tim putih malah melakukan pelanggaran yang membuatnya diganjar kartu merah. Itu merupakan momen yang membuatku terkesima, terheran-heran dan malah merasa kagum pada kapten tim putih itu.

Kala itu merupakan pertandingan antara Inggris lawan Argentina, dan David Beckham-lah pemain yang diganjar kartu merah itu. Sejak malam itu, aku resmi menobatkan diriku sendiri sebagai hooligans yang akan tetap setia mendukung Inggris walau menang ataupun kalah.

Setelah perhelatan tingkat dunia yang dimenangkan oleh tim Prancis itu berakhir, aku merasa kehilangan. Sudah tidak ada lagi pertandingan dini hari yang membuat hatiku deg-degan. Karena setelahnya aku masih terkesima dengan David Beckham, kemudian aku berusaha untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pria kelahiran 2 Mei 1975 itu.

Ternyata, Beckham merupakan pemain tim papan atas di Liga Inggris, Manchester United. Singkat cerita, akupun jatuh hati pada Manchester United, tak hanya karena Beckham dan jersey berwarna favoritku: merah, tetapi semakin lama aku semakin larut dengan filosofinya.

Di akhir kelas 6 SD saat aku akan masuk ke SMP, aku sempat mengutarakan sebuah keinginan pada ayahku: “Aku ingin ke Old Trafford”. Saat itu, ayah hanya tersenyum sambil mengusap kepalaku.

***

Momen piala selanjutnya pun aku tunggu-tunggu. Tahun 2002, Piala Dunia diselenggarakan di Korea dan Jepang. Karena perbedaan waktu tak terlalu jauh dengan Indonesia, pertandingan selalu disiarkan pada siang atau sore hari. Seringkali aku mencuri-curi waktu di sekolah untuk menonton pertandingan itu di kantin atau koperasi sekolah.

Kecintaanku pada MU juga semakin menjadi. Apalagi di musim 2002-2003 MU berhasil menjadi juara liga, dan setahun kemudian menyabet piala FA. Saat itu, koleksi poster, jersey, syal dan segala hal tentang MU kepunyaanku semakin menggunung.

Empat tahun kemudian menjadi piala dunia terakhir yang bisa aku saksikan bersama ayahku. Piala Dunia di Jerman pada 2006 menjadi pesta sepakbola pamungkas, karena beberapa bulan setelah Jerman menjadi juara dunia, ayahku meninggal dunia karena stroke dan pembuluh darah di kepala pecah.

Sejak saat itu ibuku terpaksa menjadi seorang single parent untuk menghidupi kami berdua. Hidup serasa tak semudah dan sebahagia dulu. Sebagai siswa yang baru masuk ke sekolah baru – SMA, masa adaptasiku pun jadi terasa lebih sulit. Aku cenderung jadi siswa yang murung. Tapi, kecintaanku pada Manchester United tetap terpatri dan itu menjadi satu-satunya hiburan untukku.

Musim 2006-2007 MU kembali menjadi juara liga, setahun kemudian MU menyabet dua gelar sekaligus: juara liga dan juara liga champion. Kesedihan hati karena kehilangan ayahku cukup terobati. Apalagi musim-musim itu MU memang sedang gemilang, belum lagi kehadiran pemain muda dari Lisbon, Christiano Ronaldo membuat MU lebih bergairah.

Namun, hal itu juga tak berlansung lama. Ibu menyusul ke surga. Saat itu aku benar-benar hancur. Sekarang hanya ada aku dan adikku yang masih kelas 3 SD tersisa di dunia. Saat itu, aku sudah kuliah tingkat III.

Jujur, semenjak masuk kuliah aku sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan sepak bola. Semua hal yang berbau Manchester United pun sudah aku amankan dan simpan dengan rapi.

***

Tangisan adikku malam itu, mengingatkanku pada tangisannya tiga tahun lalu saat ibu meninggal. Dia selalu menanyakan dimana ibu. Saat itu aku hanya terdiam tak bisa menjawab. Tak ada yang bisa aku lakukan untuk membuatnya berhenti menangis. Sampai aku teringat dengan boneka berbentuk bola sepak yang kusimpan bersama pernak-pernik MUFC lainnya.

Ketika kuberikan itu, terlihat senyum adikku mulai terkembang dan dia tak bisa dilepaskan dengan boneka bola milikku itu. Seakan penasaran dengan isi kardus tempat aku simpan boneka bola itu, adikku kemudian melihat-lihat koleksiku, dan dia pun tampak tertarik.

Mungkin karena mayoritas koleksi berwarna merah yang mecolok serta bentuknya yang bermacam-macam mulai dari boneka berbentuk setan –logo MU, syal dengan rumbai-rumbai, juga mug yang disablon dengan warna meriah. Lalu dia banyak bertanya tentang tim favoritku itu.

Dengan senang hati kemudian aku ceritakan bagaimana para pemain Manchester United selalu bersemangat dan berani untuk terus menyerang dan menjadi juara. Itulah kemudian yang membuat adikku menjadi bersemangat dan ikut mencintai MU.

***

Tiga tahun berlalu dan sampai pada malam ini, saat adikku menangis dan membanting pintu. Dia mempertanyakan di mana tim Manchester United yang kuat, yang telah membuatnya bersemangat waktu dulu.

Dia seakan tak rela tim kesayangannya terus-terusan menjadi bahan bulan-bulanan teman-temannya. Hingga akhirnya dia bertekad untuk ke Old Trafford, untuk bertemu dengan para penggawa MU dan menyemangati mereka untuk terus maju, sama seperti saat adikku bersedih karena kehilangan, dia merasa disemangati oleh para pemain MU yang pantang menyerah.

Lalu, malam itu sepertinya aku benar-benar ingin membawanya terbang ke Inggris, ke Negeri Para Raja dan mengajaknya menjejakkan kaki di stadion megah berkapasitas 75.731 orang yang bernama Old Trafford. Memeluk kembali mimpi kami berdua di Theater of Dreams.

Sabar ya dik, suatu saat kita pasti bisa ke stadion berumur 104 tahun itu. Pasti.

  Cianjur, 18 Mei 2014 00:30

 PhotoGrid_1400509437370

 

 

 

Semua kisah dalam tulisan ini fiksi, kecuali bagian tokoh aku yang mengidolakan Manchester United. Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kontes Ngemil Eksis Pergi ke Inggris #inggrisgratis yang diselenggarakan oleh Mister Potato Indonesia @MisterPotato_ID.

 

4 komentar

  1. nice …

    Pilih kado unik n cantik hanya di http://myloly.com/

  2. menarik articlenya mbak..enak dibaca.hehe..
    saya tunggu article yang berikutnya ya mbak..
    thanks dan salam kenal..

  3. mantap nih gan infonya.
    ane ijin share ya gan… http://goo.gl/uabhai

  4. thanks sob untuk postingannya…
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu…
    salam kenal yach…
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: