Perjalanan yang Tak Terduga (Bag.2)

kisah sebelumnya…

Dengan lesu lunglai, akhirnya kami merebahkan badan di kursi tunggu bandara sambil mencari jadwal penerbangan selanjutnya yang paling pagi dan murah tentunya.

Kami sempat berpikir untuk melanjutkan perjalanan esok pagi sesuai dengan yang dikatakan oleh petugas check in? Kami bisa menukar jadwal penerbangan kami dengan jadwal paling pagi, dengan catatan menambah selisih harga tiketnya.

Tapi, saya dapatkan tiket pulang dengan harga yang sangat murah, jika harus menambah selisihnya, sudah pasti harganya tinggi. Lagipula, kami tidak punya persediaan ringgit yang memadai. Ringgit yang tertinggal di dompet saya sekitar 100RM, dan Siska sekitar 150RM.

Kami cek harga di web reservasi online, untuk esok pagi tiket sekitar 250RM. Ah, terlalu mahal kupikir. Kemudian temanku punya ide. Bagaimana kalau kita pulang melalui bandara di Johor Bahru? Saat itu kami tengok harga tiketnya masih di bawah 200RM. Lumayan bisa dicoba.

Setelah siap booking, masalah lainnya muncul. Kami tidak punya kartu kredit. Sudah pasti hal itu bakal menganggu proses pembayaran meskipun kami punya duit segambreng di rekening ATM.

Kemudian kami pun berputar mencari ATM di setiap pojok LCCT. Akhirnya ketemu, ATM dengan logo ‘Bersama’. Sedikit lega, kemudian saya mulai melongok ke mesin ajaib yang bisa mengeluarkan uang itu. Ah, harapan saya kembali limbung. Ternyata ada tulisan yang menyatakan mesin itu sedang tidak bisa digunakan.

_larkin

Larkin Bus Terminal, Malaysia

Saya cari mesin lain yang bisa kompatibel dengan kartu ATM yang saya punyai. Oh ya, perlu dicatat, kebetulan saat itu saya juga sedang kere, saya cuma punya uang sekitar Rp400.000, dan si Siska, kartu ATM-nya belum lama dia blokir karena hilang.

OMG, cobaan apalagi ini! Sepertinya sudah tidak mungkin melakukan transaksi langsung hingga akhirnya saya ingat teman-teman saya yang baik di Solo. Saya pikir bisa pinjam uang dan meminta bantuan untuk memesan tiket pesawat terbang untuk pulang ke Tanah Air. Transaksi berbelit-belit pun kemudian dimulai.

Saya biasanya meminta bantuan untuk reservasi online pada temanku yang berinisial S. Dia punya akun VCN yang bisa digunakan untuk transaksi. Namun sayangnya, saat itu dia tidak punya saldo yang memadai untuk memesan dua tiket pulang.

Kemudian saya meminta tolong temanku yang biasanya punya banyak duit, sebut saja U. Kemudian saya minta dia untuk mentransfer sejumlah uang ke teman saya S, kebetulan S dan U saling kenal, jadi tak terlalu susah.

Nah, sudah agak lega kemudian saya beri dia intruksi untuk memesan tiket. Setelah cek web reservasi, OMG! Harga tiket sudah melambung. Semuanya di atas 300RM. Saya gak habis pikir, mana saat itu VCN yang dipunyai S entah kenapa tidak bisa digunakan.

Saat kondisi rumit seperti itu, ide-ide lain bermunculan. Bagaimana kalau pulang dari Singapura? Ah tidak, kurs SGD terlalu tinggi, jatuhnya pasti lebih mahal. Bagaimana kalau dari Batam? Olala, ide bagus, lagi pula pesan tiket pesawat dari Batam yang sudah Indonesia itu bisa menggunakan debit. Sepertinya transaksi akan lebih mudah.

Namun, di tengah banyak alternatif tersebut, dan tak ada satu pun transaksi booking tiket yang berhasil, kami memutuskan lebih baik untuk sampai ke Bandara Johor Bahru dulu, lagi pula perjalanan dari LCCT ke bandara itu membutuhkan waktu sekitar 4 jam menggunakan bus.

Bus pertama yang berangkat ke Johor Bahru sekitar pukul 03.00 am, kami masih harus menunggu sekitar 2 jam yang kemudian kami habiskan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui internet. Beruntungkan wi-fi LCCT cukup kencang dan gratis tentunya.

Bus yang akan kami tunggu datang juga, harga tiketnya 58RM. Busnya besar, tempat duduknya luas. Memang nyaman untuk perjalanan jauh. Di tengah perjalanan di bus, ide gila kami lanjutkan.

Kami berencana untuk turun di Larkin Bus Terminal, sesuai referensi yang kami baca di blog. Di sana kami berencana untuk melanjutkan booking pesawat melalui wi-fi publik yang kami harapkan tersedia.

Anyway, Larkin adalah terminal bus transit yang bisa mengantarkan kami ke Singapura melalui jalan darat, dan kalian tahu? Harga tiketnya hanya 2RM!

Maka, turunlah kami di terminal itu sekitar pukul 07.00 am, masih cukup gelap. Kami berencana untuk menukarkan ringgit ke SGD dan kami menemukan money changer. 100RM milik saya ditukar menjadi 38SGD.

Bus pun sampai, kami naik kemudian memasukan empat koin 1 ringgit dan mendapatkan dua tiket kecil Bas SBS Transit. Oke Singapura, here we come

(masih) Bersambung…

9 komentar

  1. c joe... · · Balas

    urepmu uenak tenan to nen…. dolan terus

    1. alhamdulillah. namanya juga maksain Joe. Nek gak gitu yo gak iso nengndi2. haha😀

  2. kelanjutane suwi men nden. gak sabar pengin baca kik. hahaha

    1. yaelah, emang yang sebelumnya sudah baca? haha😀

  3. Sudah dong. Buruan dibikin kelanjutannyaa. Gawe penasaran. Untunge gak telantar lalu ditemukan orang di jalananan.. Hahaha *Berasa baca cerpen bersambung*

  4. thanks yo atas postingannya gan..menarik untuk dibaca..
    maju terus dan salam kenal..

  5. wah pasti seru tuh di imigrasi woodlans naik turun bikin ddengkul lemes :)))

  6. thanks sob untuk postingannya…
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu…
    salam kenal yach…
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: