Kasihan Pak Mardjana

Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Iya, karena kesalahan satu orang, bisa jadi berdampak pada satu perusahaan besar. Saya benar-benar kecewa pada pelayanan PT Pos Indonesia karena seorang petugas kantor pos.

Akhir pekan tentunya jadi momen yang sangat dinantikan oleh para pekerja, termasuk saya. Namun sayang, pada Sabtu (12/4/2014), akhir pekan yang indah yang saya nantikan harus rusak karena kekecewaan saya pada PT Pos Indonesia.

Diawali dengan kabar saya mendapatkan kiriman uang melalui wesel instan (jujur ini memang agak konvensional), saya pun mulai mencari informasi terkait kantor pos yang paling dekat dengan kos-kosan saya.

Hal pertama yang saya lakukan, tentu saja: googling. Hasil pencarian mengantarkan saya pada website posindonesia.co.id, sialnya website resmi itu enggak bisa diakses karena ada masalah dengan server.

Tak pendek akal, akhirnya saya beralih ke social media: twitter. Saya searching official akun PT Pos Indonesia dan akhirnya ketemu @PosIndonesia. Saya mention dengan pertanyaan jam berapa operasional Kantor Pos pada Sabtu itu.

Tak ada respons, saya pun mencoba untuk menghubungi call center. Nomor saya dapatkan dari hasil googling: 161 dan 021-161. Dengan semangat saya tekan nomor tersebut dari HP. Tidak terdengar nada tunggu yang ada malah jawaban ‘maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi’.

Saking pusingnya dan kebetulan saya memang sedang butuh duit itu, akhirnya saya nekat untuk mendatangi kantor pos di daerah Tanah Abang. Beruntung saya dapat clue dari teman blogger yang menulis artikel tentang alamat Kantor Pos, sangat berguna saat website resmi tidak bisa diandalkan.

Akhirnya saya naik angkot 03A sambil lirik kanan-kiri mencari keberadaan kantor pos di sepanjang Jl KH Mas Mansyur dari Karet Tengsin hingga komplek Pasar Tanah Abang.

Tidak ada tanda-tanda, akhirnya saya turun di dekat Blok B dan bertanya kepada orang di sana. Akhirnya saya dapat info kalau ada kantor pos di komplek kelurahan Kebon Kacang. Okesip. Akhirnya saya jalang sekitar 300-500 meter.

Sampai di TKP, saya celingak-celinguk. Kok sepi? Akhirnya saya tanya pada satpam yang jaga. Katanya, kantor pos di sana Sabtu tutup mengikuti jam kerja PNS. Okesip.

Kemudian saya kembali ke komplek pasar Tanah Abang, karena kantor pos selanjutnya ada di dalam komplek tersebut. Untuk jelasnya kemudian saya tanya ke satpam di Blok F, kemudia dia kasih saya petunjuk kalau kantor pos ada di Blok A lantai 9 dan buka setengah hari.

Dengan semangat, saya langsung melangkahkan kaki dan masuk ke pasar tekstil yang konon terbesar di Asia Tenggara itu. Tombol lift saya pencet langsung ke lantai tujuan. Keluar lift, yang ada cuma tempat parkir tanpa petunjuk keberadaan kantor pos.

Seperti biasa, akhirnya saya pakai GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) alias bertanya, dan diberi tahu kalau kantor pos berada di pojokan. Saya pun berjalan, dan perasaan lega muncul ketika bertemu dengan sebuah ruangan yang bagian luarnya didominasi warna oranye. Kantor Pos Tanah Abang 102250.

Saya masuk. Ada dua orang petugas di sana. Sama-sama sibuk. Yang satu sibuk melayani pelanggan yang tampaknya sedang mengurus pengiriman barang, yang satunya sibuk menelpon. Entah menelpon siapa, kalau hasil nguping sih kayanya dia lagi telponan sama teman lamanya.

Saya sudah mulai tidak respek dengan bapak-bapak petugas yang telponan itu. Saya dianggurin sekitar 3 menit. Bayangpun! Gak profesional banget sih pak. Kamu tuh lagi kerja woy, malah telponan gak jelas.

Oke, kemudian saya menyabar-nyabarkan diri saya sampai si bapak kelar telponan. Kemudian saya tanya dan menjelaskan maksud kedatangan saya ke kantor pos itu.

S: Pak, saya mau ambil wesel instan, bisa?
B: Wah enggak bisa, sistemnya lagi offline, jadi tidak ada transaksi.
S: Lah, gimana sih pak? Terus nasib saya gimana dong?
B: Emang kiriman dari mana sih?
S: Dari Solo, gimana pak saya butuh banget nih.
B: Ya, gimana lagi. Sana ke Kantor Pos di Pasar Baru aja, buka juga hari Sabtu.
S: Ya ampun pak itu jauh.
B: Ya udah gimana lagi, kalau mau nunggu Senen aja entar balik ke sini lagi.
S: Pffft… Yaudah deh pak, kalau gitu beli materi 6.000-nya aja satu (ngeluarin uang yang tinggal selembar 100.000)
B: Ya ampun neng gak ada kembaliannya, pake uang kecil aja
S: Yah pak, uang saya tinggal ini doang, pan tadi gak bisa ngambil wesel.
B: Ya gimana lagi gak ada kembalian kok, belum ada transaksi.
S: Yaelah pak.
B: Makanya neng, gak usah ribet.
S: -_____-

Setelah percakapan itu, hati saya jadi super gondok. Benar-benar gondok. Tak ada ucapan permintaan maaf atau ucapan yang setidaknya bikin pelanggan ayem. Kalau pelayanannya kaya begini, gimana pelanggan bisa puas.

Saya jadi kasihan sama Pak Mardjana (baca: I Ketut Mardjana, CEO PT Pos Indonesia) orang yang sudah berjuang mengangkat PT Pos Indonesia dari keterpurukan. Orang-orang macam bapak petugas tadi itu yang bisa membuat usaha Pak Mardjana sia-sia, karena membuat citra PT Pos Indonesia menjadi buruk dan ditinggalkan (lagi).

Padahal bisa dibilang saya dulu merupakan penggemar berat PT Pos Indonesia. Saya suka mengunjungi kantor pos untuk melihat atau membeli koleksi perangko terbaru. Maklum, saya sempat menjadi seorang filatelis meskipun hobi tersebut tidak saya lanjutkan.

Semoga tulisan ini tak sekadar jadi luapan emosi saja, tapi bisa menjadi kritik bagi pelayanan di perusahaan-perusahaan pelat merah.

4 komentar

  1. Semoga keadilan cepat berbicara … dan semoga Pak Mardjana diberikan yang terbaik kedepannya🙂

  2. yang sabar aja nisa, saya juga pernah mengalami yang seperti itu juga, harus menunggu diantara banyak antrian, tp mau gimana lagi yang melayani cuman 2 orang yang antri bejibun,mana yang ngelayani cewek jutek lagi, moga kejadian yang seperti itu tak terulang lagi , dan berharap karyawan PT Pos Indonesia lebih profesional lagi

  3. Tipikal pegawai BUMN & PNS. Pernah ada pengalaman di kantor pos Fatmawati, menanyakan kabar paket yg sdh berbulan2 gak sampai. Petugasnya sama sekali gak ada niat membantu, customer direndahkan dan dibuat seperti mengemis untuk mendapat haknya.

  4. Emang gtu pelayanan pos di pasar tanah abang blok A lantai 9, kurang ramah pelayanannya… sok sibuk… apalagi bapak2 yang difoto itu tu… pas banget… ngejengkelin…. paket lama juga sampainya….malah sampai sebulan paket blm sampai2…. gk ada kabar apa2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: