Ketakutan dan Rasa Aman

ta·kut a 1 merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana #KBBI

Tau gak sih lo, kalau rasa takut itu muncul karena perasaan tidak aman dan tidak percaya diri. Ya, setidaknya itu kesimpulan saya setelah merasakan tegangnya wahana permainan di Dunia Fantasi.

Jadi begini, saya berkesempatan untuk menikmati keseruan wahana Dunia Fantasi Ancol pada Kamis (10/4/2014) . Bisa dibilang ini aji mumpung sih ya, soalnya saya masuk free pass dengan hanya menunjukan ID PERS karena memang berniat liputan.

Saat itu kebetulan ada peluncuran wahana baru Ice Age Arctic Adventure. Buanyak banget teman-teman media yang datang dan sengaja hadir buat liputan itu. Tapi saya sih cuma ngejar buat ketemu Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk aja, tanya-tanya tentang aksi korporasi yang bakal dilakuin perseroan tahun ini.

(Buat yang pengen tahu apaan itu Ice Age Arctic Adventure, untuk sementara bisa kunjungi link ini dan ini).

Kebetulan saya ngajak rekan saya satu orang buat liputan ke tempat itu. Karena tujuan utama buat wawancara Dirut-nya sudah tunai pas break makan siang, kami masih punya banyak waktu sebelum deadline, akhirnya kami pun memanfaatkannya untuk mencoba beberapa wahana permainan di Dufan.

Itu bukan kali pertama saya tempat rekreasi di Jakarta Utara itu, jadi saya lebih memilih untuk mencoba wahana yang belum pernah saya jajal sebelumnya. Jadilah saya dan rekan saya yang bernama Lili menguji adrenalin dengan naik Hysteria, Halilintar, Ontang-anting, ditambah suplemen Kora-kora, Poci-poci dan Bianglala.

Saya sih PD-PD aja mau naik wahana mana pun, toh sebelumnya saya naik Tornado dan Power Surge dengan ekspresi biasa-biasa saja (maksudnya saya gak sampe ketakutan dan kapok untuk naik wahana semacam itu).

Wahana pertama: Hysteria.

Hysteria – Ancol.com

Semua berjalan lancar sesuai ekspektasi, level deg-degannya 8/10, tapi kurang nendang karena durasi yang pendek. Saya sih suka karena jadi bisa lihat pemandangan dari atas, tapi pas nengok ke samping, si Lili yang sedari awal sudah baca-baca mantra malah merem aja. Sayang banget melewati pemandangan yang ga bisa dilihat tiap hari.

Wahana kedua: Halilintar.

Halilintar – Ancol.com

Oke, yang ini agak menyeramkan, level deg-degannya 8,5/10. Yang paling ngeri adalah saat miring dan dalam keadaan terbalik. Panjang lintasannya level menengah, jadi gak terlalu pendek dan panjang, pas-pas saja. Ekspresi Lili? Masih sama. Merem. Tapi yang ini gak pake baca mantra.

Wahana ketiga: Ontang-anting.

Ontang-anting – Ancol.com

Sebelum naik, level deg-degannya cuma 5/10. Awal-awal naik jadi 6/10, makin lama level deg-degannya makin tinggi dan klimaksnya sampai 9/10. Padahal saya dengan PD-nya duduk di lingkaran terluar (dan itu tempat yang paling menegangkan). Baru ini wahana  yang bisa bikin saya bener-bener lemes. Saya bingung, kenapa wahana yang sederhana (cuma duduk di kursi ayunan lalu diputer-puter) itu bisa mengalahkan saya dibandingkan dengan Hysteria dan Tornado yang lebih ngehits.

Setelah ditelaah dengan seksama, kemungkinan besar karena saya tidak merasa aman dengan wahana tersebut. Secara, pengamannya cuma besi yang diameternya enggak seberapa. Selain itu, tempat duduknya juga cuma anyaman rotan yang digantung sama dua tali saja. Hal itu kontras banget sama pengamanan di Hysteria dan Tornado yang menggunakan safety tools yang lebih modern dan menggunakan teknologi lebih canggih lah.

Saya pun jadi teringat dengan pengalaman saya naik wahana rekreasi pas pasar malam Sekatenan di Solo, saya paling suka naik kora-kora mini. Tiap naik atau setelahnya, saya selalu bilang ke teman saya: “Yang bikin mengerikan naik ini tuh bukan karena permainannya, tapi karena suara karat besinya dan kemanannya yang enggak terjamin”.

Nah, berarti udah jelas. Karena saya merasa pengamanan di wahana ontang-anting itu tidak ‘aman’ alhasil saya tidak percaya diri dan menghasilkan rasa takut yang berlebih. Andai saja waktu itu saya merasa aman dan yakin terhadap keamanan ontang-anting, saya rasa gak bakal teriak-teriak sampe lemes *pembelaan*.

Oh ya, satu lagi. Permainan ontang-anting itu luamaaaaaaa banget. Di puter-puter gak tau sampe berapa kali. Pokoknya saran aja, kalau mau naik, mendingan milih kursi yang di lingkaran paling dalem aja, itu rasanya lebih aman aja dan ga terlalu bikin lemes. (Nah, di wahana ini baru deh si Lili bisa ngecengin gue, itu pun gara-gara dia duduk di lingkaran dalem).

Okesip. Kayanya itu saja yang pengen dicurhatin dan diceritain tentang pengalaman saya. Jadi pesannya adalah: kalau kamu yakin semuanya akan baik-baik saja, kamu pasti akan menikmati semua permainan di wahana Dufan (atau mana pun). Oh ya, jangan lupa berdoa dulu juga sih. hehe🙂

 

2 komentar

  1. Dari kecil sampe gedek kayak gini naik yang begituan masih taaaakuuuuttttt… hahaha

  2. kalau saya belum pernah naik macam ginian lo..
    kalau saya berani apa gak ya? hehehe kayaknya gak berani deh hahaha ketahuan kalau penakut.
    oh ia saya numpang nitip link ya, siapa tahu saja ada yang berkenan berkunjung http://cara-membuat-blog-ramadlan.blogspot.com/2014/04/1.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: