Kenali dan Tanggap Gejala Tuberkulosis (TB)

Tuberkulosis (TB) merupakan nama penyakit sudah tidak terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun, apakah masyarakat sudah benar-benar mengenal tentang penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis itu?

Jujur, jika saya sendiri dihadapkan langsung dengan penderita TB bisa jadi tidak mengenali tanda-tandanya, padahal TB dengan mudahnya menular melalui udara. Ketika seorang penderita TB batuk, bersin, berbicara atau meludah kemudian memercikkan kuman TB atau bacilli ke udara, seseorang dapat terpapar TB hanya dengan menghidup sejumlah kecil kuman TB.

Seseorang yang terdiagnosa TB dengan status TB Basil Tahan Asam (BTA) positif dapat menularkan sekurang-kurangnya kepada 10 hingga 15 orang lain dalam satu tahun. Bahkan, hingga saat ini sepertiga dari total masyarakat di dunia sudah tertular TB, dan sebagian besar merupakan pasien berusia produktif antara 15-55 tahun.

Tentu kita tidak ingin keluarga dan lingkungan kita terkena kuman TB, kan? Untuk itu kita harus mulai menjaga kesehatan serta mengenali dan mengetahui bagaimana tanda-tanda penyakit TB. Selain itu juga tanggap dengan apa yang harus kita lakukan ketika gejala TB sudah mulai terlihat.

Lalu, seperti apa sih tanda-tanda seseorang terkena TB?

Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai, karena hal-hal di bawah ini bisa mengindikasikan seseorang terkena TB, namun yang menjadi gejala utama adalah batuk berdahak dan berkepanjangan selama lebih dari dua minggu.

Di samping itu, ada beberapa gejala tambahan, di antaranya:

  • Dahak bercampur darah/batuk darah
  • Sesak nafas dan rasa nyeri pada dada
  • Demam/meriang lebih dari sebulan
  • Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas
  • Badan lemah dan lesu
  • Nafsu makan menurun dan terjadi penurunan berat badan

Gejala TB

Kalau menemukan orang yang terindikasi TB, apa yang harus dilakukan?

Jika ada seseorang di keluarga atau di lingkungan kita yang mengidap gejala di atas, sesegera mungkin diberi pengertian dan diajak ke rumah sakit atau puskesmas terdekat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk mendiagnosis TB, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama di daerah paru/dada dan bisa jadi meminta pemeriksaan tambahan berupa foto rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan dan darah, juga tes tuberkulin. Hal itu untuk menentukan pengobatan apa yang cocok diberikan kepada pasien tersebut.

Pengobatan TBC adalah pengobatan jangka panjang, biasanya selama 6-9 bulan dengan paling sedikit 3 macam obat. Pasien TB kemudian harus mengikuti pengobatan sampai tuntas, setidaknya 6 bulan. Walau badan dirasa sudah enak dan tidak ada keluhan setelah 2-3 bulan, konsumsi obat tetap tidak boleh berhenti dan harus tuntas hingga 6 bulan.

Untuk biayanya bagaimana?

Jangan khawatir, saat ini akses untuk diagnosa penderita TB dapat dijangkau dengan mudah, selain itu obat-obatan pun diberikan secara cuma-cuma. So, jangan ragu untuk memeriksakan diri, keluarga atau masyarakat di lingkungan kita yang memiliki gejala TB.

Ayo Temukan dan Sembuhkan Pasien TB demi Indonesia Bebas Tuberkulosis!

 

referensi tulisan:

http://www.pppl.kemkes.go.id

http://www.who.int

http://www.wikihow.com

 

One comment

  1. Mas saya juga pernah kena TB kemarin, bener2 harus berobat rutin selama 6 bulan, sekali aja bolong harus ngulang dari awal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: