Sekolah VS Bimbel

Rasa-rasanya biaya untuk sekolah sudah cukup mahal, tapi kenapa masih banyak orangtua siswa atau siswa itu sendiri yang menggantungkan persiapan menghadapi ujiannya di lembaga bimbingan belajar? Apakah sekolahnya sia-sia? Apakah orangtua siswa tidak percaya dengan kualitas pendidikan di sekolah?

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, gerombolan siswa mulai meninggalkan bangunan sekolah yang mayoritas berwarna putih pucat. Hanya pagar dan gerbang bercat hijau yang membuat bangunan itu sedikit berwarna.

cover-bimbel

chabibaah.blogspot.com

Sementara itu tak jauh dari sana, sebuah bangunan berwarna kuning dan merah tampak menarik perhatian setiap yang melintas di depannya. Bangunan itu juga dihiasi berbagai macam spanduk dengan tulisan-tulisan promotif seperti Jaminan Lulus Ujian Nasional, Revolusi Belajar dan The King of The Fastest Solution.

Gedung itu merupakan tempat Lembaga bimbingan belajar (bimbel) yang biasanya menjadi tujuan siswa sepulang sekolah. Hampir tiap sore lembaga bimbel itu dipenuhi siswa tingkat akhir untuk memantapkan materi yang diterima di sekolah dan mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional (UN).

Salah satu siswa SMA Negeri 4 Solo, Natasya Aprineta Nastiti, menjelaskan dirinya mengikuti bimbel karena ada beberapa mata pelajaran yang kurang dimengerti. Dia menilai pada proses pembelajaran di bimbel siswa bisa sepuasnya bertanya pada tentor bimbel, sedangkan di kelas tidak leluasa untuk bertanya pada guru pengajar. “Kadang malu karena guru tahu nilai di kelas seperti apa,” ujarnya.

Selain itu, di bimbel dirinya mendapatkan cara cepat untuk menyelesaikan soal, sehingga tidak perlu menggunakan rumus yang diajarkan di sekolah yang menurutnya lebih rumit. Dia juga menilai informasi mengenai Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) bisa dia dapatkan lebih banyak di bimbel di bandingkan dari sekolah. “Di bimbel informasinya lebih komplit, seringkali informasi lebih cepat diterima dari bimbel dibanding sekolah,” ujarnya.

Wakil Kepala Kurikulum SMA Negeri 8 Solo, Hindarso, menjelaskan pihaknya yakin siswa sebenarnya bisa lulus ujian dengan nilai baik meskipun tanpa mengikuti bimbel. Asalkan siswa dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah dari guru, misalnya untuk belajar lebih giat dan mengerjakan tugas.

Hindarso juga menjelaskan guru di sekolah sebenarnya lebih unggul karena memiliki pengalaman yang lebih banyak, sehingga bisa mengerti materi lebih mendalam. Apalagi guru-guru sekarang telah dituntut lebih kreatif dalam menyampaikan materi pada siswa. “Kami sudah mendorong para guru untuk meningkatkan kompetensi dan kreativitasnya,” jelasnya.

Sekolah juga tidak habis akal untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa dalam menghadapi UN atau SNMPTN. Beberapa strategi telah dilakukan seperti menggelar jam tambahan tiap sebelum dan sesudah jam pelajaran reguler, bahkan di beberapa sekolah juga menggelar motivation training agar siswanya yakin dan percaya diri dalam menghadapi UN.

Sementara itu, Kepala Bagian Akademik Lembaga Bimbel Ganesha Operation Solo, Agitya Putra Kusuma, menjelaskan metode pembelajaran dan konsep pengajaran yang ditonjolkan lebih pada penciptaan suasana belajar yang nyaman, karena menurutnya ketika siswa belajar dalam keadaan nyaman dan santai materi yang disampaikan akan mudah diterima.

Selain itu, dirinya juga selalu memotivasi semua tentor untuk mengajar dengan penuh semangat dan passion agar ikut menular kepada siswa yang diajarnya. “Kalau ingin siswanya semangat, ya harus diawali dari pengajarnya,” katanya.

Agitya juga menjelaskan metode pembelajaran yang diberikan kepada siswa diberlakukan secara sistematis dan diberikan sesuai kebutuhan siswa. Semua perangkat yang mendukung juga disesuaikan dengan materi yang disampaikan, misalnya silabus dan buku ajar.

Lembaga bimbel juga berperan untuk memperkaya dan meningkatkan kemampuan siswa pada sebuah materi pelajaran dengan memberikan variasi soal yang lebih banyak.  “Kalau siswa butuh materi tentang salah satu bab, ya kami beri, apalagi waktu yang kami berikan fleksibel sehingga siswa bisa berkonsultasi kapan saja,” paparnya.

Meski demikian, Agitya menjelaskan bimbel tetap tidak bisa berjalan tanpa sekolah. Pasalnya pihaknya menempatkan diri sebagai mitra sekolah, bukan sebagai pesaing sekolah. Sehingga diharapkan sekolah dan lembaga bimbel bisa berjalan bersama. “Untuk materi pelajaran mungkin siswa bisa hanya mendapat dari bimbel, tapi mereka tetap butuh sekolah untuk masuk sistem pendidikan nasional, misalnya mendaftar perguruan tinggi,” ujarnya.

 

versi lain tulisan ini telah diterbitkan di rubrik Humaniora Harian SOLOPOS pada Januari 2013.

5 komentar

  1. Mungkin sekarang lg ngetren bimbel ya… bagaimanapun bimbel tetap sebagai suplemen yg utama tetap sekolah

  2. seorang dosen pernah mengeluh terhadap mahasiswa yang dulunya ikut bimbel.
    Mereka memang jago saat UN, tapi ketika kuliah, mereka keteteran, karena ga boleh pakai jurus kilat😀

  3. kalau sekolah SD dan SMP di desa desa sih gratis tapi jangan tanya kualitas sekolah. hehehe

  4. sekolah itu utama dan bimbingan belajar itu pendukung, jangan dibalik🙂

  5. bimbel itu memaksa kita buat belajar lebih banyak lagi..klo ga bimbel, waktu diluar jam sekolah pasti dibuat bermalas-malasan, iya ga? ngaku ajalah haha. Sebenernya bisa aja dimanfaatin buat belajar sendiri, tapi ya mualesnya itu loh poooool banget. #justopini, karena gw pernah ikut bimbel, motivasinya krn itu tadi, biar ada yang maksa gw untuk belajar lebih, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: