Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memutuskan Berbagi Kamar

Hidup di Ibu Kota memang membutuhkan banyak biaya, selain kebutuhan perut alias makan dan transportasi, tempat beristirahat alias kos-kosan menjadi urutan teratas pengeruk harta kekayaan, tetapi hal itu masih bisa disiasati, kok.

Di daerah Karet Tengsin, Jakarta Pusat, harga kos per bulan rata-rata sekitar Rp600 ribu. Itu pun hanya pas-pasan dengan ukuran kamar sekitar 2 meter x 1,5 meter. Untuk yang agak mendingan dengan ukuran kamar 2 meter x 3 meter ditambah kamar mandi pribadi paling sedikit harus merogoh kocek Rp800 ribu perbulan. Bandingkan dengan harga kos-kosan di Solo yang bisa dapat Rp1,5 juta per tahun atau Rp200 ribu per bulan.

Semisalnya seseorang hanya digaji sedikit di atas UMK, misal Rp3 juta, biaya untuk kos-kosan saja sudah menyedot 1/5 gaji, belum ditambah ini-itu perlengkapan kamar. Kalau begitu, kesempatan untuk menabung semakin kecil.

sharing room illustration. (image: mamiverse.com)

sharing room illustration.
(image: mamiverse.com)

Nah, salah satu cara berhemat adalah dengan berbagi kamar, alias sekamar berdua. Biasanya harga kamar akan jadi lebih murah. Sebagai ilustrasi, sebuah kamar yang ditarif Rp800 ribu per bulan untuk 1 orang, bisa menjadi Rp1,1 juta per bulan untuk 2 orang atau seharga Rp550 ribu per orang, dengan kata lain dalam 1 bulan bisa hemat minimal Rp150 ribu dari biaya kos-kosan.

Namun, banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan berbagi kamar dengan orang lain, karena berbagi kamar sama dengan berbagi ruang dan hal-hal privat lain yang dimiliki. Tak jarang banyak pasangan yang gagal dalam mengarungi bahtera berbagi kamar, hal itu bisa jadi karena mereka tidak memerhatikan hal-hal mendasar yang sebenarnya penting.

Sebagai praktisi berbagi kamar yang telah sukses selama 3 tahun, saya mencoba untuk berbagi tips dan trik bagi para pendatang baru yang ingin mencoba serunya berbagi kamar.

Pertama, pastikan kalian benar-benar siap ketika memutuskan untuk berbagi kamar.

Pasalnya kita tidak akan memiliki ruang privat yang benar-benar privat serta harus menolelir kadar kenyamanan. Mungkin butuh dipikirkan berulang kali terkait hal ini. Karena mungkin saja suatu saat kita butuh untuk menyendiri dan kenyamanan lebih dengan berbuat sesuka hati di kamar.

Kedua, dewasalah.

Berbagi kamar menuntut kita untuk lebih dewasa. Mulai melepaskan ego pribadi dan belajar untuk berbagi. Setelah memiliki room-mate, seharusnya sudah tidak ada lagi yang namanya mengutamakan kepentingan pribadi tapi seharusnya kepentingan kamar bersama.

Ketiga, buat rules.

Pastikan kamu dan room-mate kamu sudah berdiskusi intens tentang rencana berbagi kamar ini. Selain itu tentukan aturan-aturan apa yang harus dilakukan berdua. Misalnya jadwal untuk bersih-bersih kamar, atau barang mana saja yang bisa dipakai berdua, atau mana yang milik pribadi.

Keempat, mengalah.

Ya, buat kamu yang kebetulan punya room-mate agak resek (dan ini seharusnya sudah disadari sejak awal), cobalah untuk sedikit mengalah. Misalnya, hal ini terkait tentang penggunaan lampu kamar dan pemutaran musik. Maksudnya, ada sebagian orang yang tidak bisa tidur dalam keadaan lampu menyala atau padam, tapi ada yang nyaman dalam kedua kondisi (seperti saya). Untuk urusan seperti itu enggak mungkin kan kalau lampunya dibuat idup-mati-idup-mati kaya di disko supaya bisa mengakomodasi ‘kenyamanan’ berdua. Nah, untuk menyiasatinya, coba deh siapkan lampu tidur. Jadi buat yang gak bisa tidur kalau lampunya padam (sedangkan pasangan menginginkan untuk dipadamkan), maka lampu tidur bisa jadi solusi. Begitu pula dengan urusan musik, ada orang yang gak bisa tidur kalau berisik sedikit saja, tapi ada orang yang butuh musik pengantar tidur supaya bisa lelap. Untuk hal ini cukup sediakan headset, jadi si penikmat lulabi tetap bisa nyenyak tanpa mengganggu teman sekamarnya.

Kelima, cuek dan keep silent.

Ya, cuek! Ini jadi jurus pamungkas supaya tetap bisa nyaman di kamar meskipun tidak punya ruang privat. Maksudnya cuek di sini bukan berarti kita enggak ambil pusing masalah urusan kamar, tapi cobalah mengabaikan hal-hal kecil yang bisa jadi penyulut konflik. Selain itu, tetap diam dan jaga rahasia. Seringkali kita keceplosan saat ngobrol dengan teman kita yang lain tentang kebiasaan ‘buruk’ room-mate kita. Sebaiknya itu benar-benar dihindari karena menyangkut harga diri dan masa depan pertemanan kita dengan si romm-mate.

Keenam, pikirkan lagi konsekuensinya berulang-ulang.

Ya, selain bisa berhemat dan mendapatkan teman di malam hari, berbagi kamar juga bisa menjadi latihan untuk menghadapi kehidupan rumah tangga. Tapi sekali lagi, pikirkan lagi matang-matang urusan berbagi kamar ini. Karena kenyamanan pribadi pasti akan tergusurw walau sebaik atau seklop apapun room-mate kita.

So, sudah siap untuk berbagi kamar?

6 komentar

  1. jadi saat denganku ga dihitung nih,,… -_-

    1. lah kui wes karo kowe yooo…
      karo koe kan pirang taun sih? 2 kan? :p

  2. gimana kalau cari rumah mertua di Jakarta ?

    1. ide bagus sih, tapi ya sama aja.
      cuma dicari doang kan rumah mertuanya, gak buat ditinggalin :p

  3. betul banget.. saya dulu juga sempat beberapa kali sharing kamar.. alhamdulillah cocok aja sama beberapa orang. ada juga beberapa teman yang nawarin sharing pernah saya tolak karena saya pikir ada beberapa kebiasaannya yang kurang saya suka. daripada hal kecil malah jadi besar, mending saya tolak saja sekalian.. jadi memang banyak pertimbangan sebelum menerima partner berbagi kamar

    1. bener banget…
      harus pinter-pinter juga milih room-mate supaya awet🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: