Front Pejuang KPR

“Harus punya rumah, segera ngajuin KPR!”

Pikiran tersebut menguasai kepala saya dalam dua tahun terakhir. Ya, saya sangat terobsesi untuk memiliki rumah sendiri dalam waktu dekat. Walaupun masih kredit pemilikan rumah dan perlu nyicil tiap bulan, setidaknya saya sudah punya sendiri dan tak perlu numpang atau ngontrak sana-sini.

Keinginan untuk punya rumah sendiri (benar-benar mandiri tanpa campur tangan orangtua atau suami) itu muncul di kepala saya sebagai salah satu upaya untuk menunjukkan perempuan harus berdaya, apalagi target pribadi saya rumah itu harus sudah saya dapatkan sebelum status lajang saya di KTP berubah jadi menikah.

Rumahnya sih tidak usah muluk-muluk, bagi saya cukup rumah mungil yang memiliki atap, pintu dan jendela dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang keluarga (sekaligus ruang tamu), serta dapur.

IMO, perempuan harus berdaya jangan cuma jadi ‘parasit’ yang mengandalkan suami. Apalagi di zaman seperti ini perempuan sebisa mungkin sudah terbebas dari masalah-masalah finansial, yang membuat belenggu nikah paksa seperti zaman Siti Nurbaya ikut hilang. Sudah tidak zaman memegang prinsip cuma kasur, dapur dan sumur, tapi sekarang perempuan juga harus bisa ngatur.

Dalam bayangan saya (bahkan ada beberapa kasus serupa yang terjadi), perempuan yang tidak punya daya tawar apa-apa dalam kehidupan rumah tangga (hubungan suami-istri) cenderung menjadi inferior, dan bukan tak mungkin dimanfaatkan oknum suami untuk berbuat sewenang-wenang, sehingga tak jarang muncul kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang disebabkan si istri tidak berani melawan.

Lalu, pikiran ekstrim yang sempat melintas di kepala saya adalah: saat si istri memiliki rumah dan ditempati oleh sebuah keluarga, maka ketika si suami kurang ajar yang kelewat batas, si pemilik rumah (dalam hal ini istri) bisa dengan mudah membuatnya angkat kaki. Setidaknya hal itu bisa menjadi senjata terakhir ketika tidak ada jalan damai lain yang bisa ditempuh.

Itu yang ekstrim. Tapi kalau dilihat dari sudut lain, keberdayaan perempuan untuk memenuhi kebutuhan papan tersebut bisa menjadi penyokong perekonomian keluarga. Misal saja ternyata si suami juga sudah punya rumah sendiri, rumah si istri tentunya bisa dijadikan sebagai investasi. Apalagi investasi di bidang properti dinilai sebagai investasi yang tidak akan mati selama cinta masih ada di muka bumi.

Sebenarnya tak cuma masalah rumah yang terpenting, melainkan kembali lagi tentang terbebas dari masalah finansial. Setidaknya sudah punya penghasilan minimal untuk menghidupi dirinya sendiri.

Pentingnya keberdayaan seorang perempuan dalam hal ekonomi dapat dirasakan ketika kepala keluarga meninggal dalam usia relatif muda, sementara belum ada anak yang berpenghasilan dan dapat menyokong ekonomi keluarga.

Bayangkan jika saat itu si istri hanya seorang ibu rumah tangga, sementara harus menghidupi lebih dari 2 orang anak yang masih sekolah, sudah pasti perekonomian keluarga akan kolaps, kecuali jika si suami memang tajir dan meninggalkan harta warisan yang melimpah ruah.

Tapi siapa yang bisa menjamin kita para perempuan bisa dapat suami yang kaya raya? Daripada berjudi dengan peluang yang relatif kecil, lebih baik menyiapkan diri sendiri dengan kemampuan yang maksimal.

Nah, semoga pemikiran saya masalah rumah ini tidak dianggap aneh, soalnya saya belum mendengar gagasan serupa dari teman-teman perempuan sebaya yang saya kenal. Kebanyakan dari mereka lebih fokus untuk mendapatkan suami yang ideal, atau bahkan sebagian lainnya sudah sibuk mengurusi pesta pernikahan.

 

Karet Tengsin, hujan lebat dan was-was akan mati listrik

25 Januari 2014, 1:18

 

NB:

Anyway, karena kebijakan loan to value Bank Indonesia terhadap kepemilikan rumah kedua dan ketiga mulai ketat di tahun ini, sebaiknya cukup punya rumah 1 dulu (secara yang satu aja juga belum dapet), dan segera ambil sebelum suku bunga acuan BI naik lagi yang membikin cicilan KPR bisa makin membengkak.

Oh ya, mari doakan juga supaya Kementerian Perumahan Rakyat sukses dengan program pembangunan 250.000 rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah pada 2014. Semoga tepat sasaran juga ya pak!

6 komentar

  1. mysukmana · · Balas

    sya dl beli rumah juga KPR kak, lumayan murah, 15 juta di bantu sama pemerintah..DP cuma 15 jt daerah Solo Timur🙂 terus per bulannya cuma 600an, dengan rumah tipe 36/88 minimalis lumayan buat bulan madu berdua sama istri🙂

  2. Waini,Gadis idaman para suami, hehehehe

  3. Mau tetanggaan, ambil di Salatiga.. dibawah merbabu.. dingin.

  4. aku akhir 2011 juga beli rumah.. rumah 2nd bahkan melalui KPR, tipe rumah sederhana cukup untuk berdua sama si dia di daerah cibubur, awalnya cuma mimpi tapi alhamdulilah terwujud, jadi didoakan terwujud juga😀, klo butuh info2 rumah di seputaran cibubur jangan sungkan ya😀

  5. ikutan mikir juga..
    apa gak mau numpang melulu di rumah orang tua hehe

  6. ini yang bikin kagum, pemikiran kiblat feminisme mulai semakin mengental

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: