Yurei Kanagawa

The first duty of man is to conquer fear; he must get rid of it, he cannot act till then. – Thomas Carlyle

Hal apa saja yang kamu takuti di dunia? Jujur, saya termasuk orang yang takut dengan setan, hantu, genderuwo dan makhluk-makhluk halus yang mengerikan lainnya.

Saya sadar kalau sejak kecil saya orang yang penakut jika dihadapkan dengan hal-hal horor. Saya tidak pernah berani untuk menonton film horor dengan sengaja, kalaupun iya, sudah hampir dipastikan saya tidak akan bisa tidur nyenyak dalam 3 hari ke depan.

Selain itu, dampaknya bisa bertahan hingga berbulan-bulan, pasalnya bayangan hal-hal horor itu biasanya akan tiba-tiba muncul di kepala ketika saya sedang sendirian. Hiii…

Senin (4/11/2013) kemarin, saya dengan sangat terpaksa mengantar teman saya Siska, untuk memacu adrenalin di Rumah Hantu Yurei Kanagawa. Pertunjukan horor yang digelar di La Piazza Kelapa Gading Jakarta Timur untuk merayakan Halloween itu entah kenapa sangat menarik di mata Siska.

posterwebcopy_2_large

Dengan berat hati, akhirnya saya harus menempuh jarak puluhan Kilometer dan berdesak-desakan di bus Transjakarta demi hal yang menurut saya sangat ‘aneh’. Berangkat sekitar pukul 13.30 WIB dari kos saya di daerah Karet Tengsin, kami sampai di La Piazza sekitar pukul 16.00.

Awalnya Siska bilang pertunjukkan dimulai pukul 16.00, tapi ternyata untuk weekday pertunjukkan dimulai pukul 17.00. Alhasil kami beristirahat dan menjalankan salat ashar dulu. Setelah itu, kami mulai mendatangi loket pembelian tiket. Tak dinyana, ternyata antrean sudah mengular, padahal loket tak kunjung dibuka.

FYI, pertunjukan yang bakal dibuka hingga 10 November 2013 itu ditarif Rp15.000 per tiket per orang untuk Senin-Kamis, sedangkan untuk weekend dibanderol Rp20.000. Adapun untuk harga tiket VIP (saya tidak tahu apakah VIP merujuk untuk jumlah hantu yang lebih banyak atau seperti apa) dibanderol 2 kali lipat harga tiket yang berlaku.

Tiket Yurei Kanagawa

Akhirnya setelah pukul 17.00 lebih sedikit, loket tiket pun dibuka. Ternyata antrean tak berhenti sampai membeli tiket, karena untuk masuk wahana-tidak-penting itu kami juga harus mengantre di antara ratusan orang ‘pemberani’. Jumlah orang yang masuk ke rumah hantu dibatasi maksimal 8 orang.

Sepanjang awal perjalanan hingga sampai pada antrean untuk masuk wahana itu, pikiran saya berkecamuk. Di satu sisi rasa takut saya merajai, tapi di sisi lain logika saya bermain dan meyakinkan saya kalau tidak akan terjadi apa-apa, apalagi sebenarnya saya tahu makhluk-makhluk menyeramkan di rumah hantu itu cuma bohongan, mereka sama seperti saya, cuma manusia biasa yang tak luput dari dosa. #eh

Sambil menunggu giliran, Siska terus bicara pada saya kalau kami harus bersikap stay cool. Enggak perlu takut dan enggak perlu lari, karena hantu-hantu di dalam sana tidak akan melakukan kontak fisik terhadap pengunjung. Saya hanya bisa mengangguk-angguk sambil memberanikan diri.

Satu hal yang bikin saya kagum sama penyelenggaraan wahana-tidak-penting itu adalah mereka benar-benar niat untuk menakut-nakuti kami. Terlihat dari cara mereka memperlakukan kami sejak di antrean. Mereka sudah mulai membangun perasaan ngeri dengan menyebarkan bau alkohol dan bau pembersih lantai yang biasanya dipakai di rumah sakit melalui kipas angin. Dan, hal itu sukses membuat saya mulai merinding.

??????????

Sampai tiba giliran kami… jreng jreng!

Saya dan Siska kebetulan masuk dengan 3 orang mas-mas dan 3 orang dedek seumuran SMP akhir atau SMA awal. Kami masuk dan diharuskan berbaris memanjang. Kami masuk dengan urutan: 1 mas-mas di depan, Siska, saya, 3 dedek-dedek di belakang saya, dan 2 mas sisanya di belakang.

Pertama masuk, bau alkohol menyeruak dengan pekat serta penglihatan kami menjadi buram karena pencahayaan yang kurang, Di awal masuk kami sudah disuguhi pemandangan mbak-mbak suster berwajah entah dengan satu orang yang berbaring seperti ‘korban’.

Kami masuk dari satu ruang gelap ke ruangan lain. Sepanjang perjalanan yang saya rasakan hanya teriakan dan dorongan dari dedek-dedek yang berdiri di belakang saya. Mereka dengan kerasnya menarik tas dan kerudung saya, sampai kacamata yang saya pakai bergeser dari tempatnya. Sementara itu saya berpegangan kencang pada pinggang Siska supaya tidak terlepas dari rombongan.

Aih… saya masih ingat bagaimana para hantu-hantu itu berusaha menakuti kami. Mereka mulai membuat gaduh dengan benda-benda yang berada di sekitar, seperti menggebrak pintu, membanting ‘peralatan medis’ (ingat, rumah hantu ini setting-nya di Rumah Sakit). Apalagi, setiap masuk ke ruangan baru, sesuatu dari pojok pasti muncul dan mengagetkan kami.

Selain itu suara rintihan juga terdengar mengikuti kami sepanjang perjalanan. “Kembalikan kaki sayaaaa…” “Tolong… lepaskan saya dari sini…” “Mbak, tolong anak saya baru lahir…” dan macam-macam lainnya.

Beberapa kali rombongan sempat stuck di satu ruangan karena tidak bisa menemukan jalan keluar. Yah, tapi hal itu tidak berlangsung lama karena mas-mas yang di depan akhirnya bisa memandu kami ke ruangan lain.

Sampai akhirnya kami sampai di garis finis. fyuh. Saya keluar dengan bentuk tidak karuan. Kerudung yang awalnya saya pakai dengan rapi menjadi tak jelas bahkan hampir terlepas, dan yang paling parah kacamata yang sebelumnya sudah saya betulkan, jadi patah lagi!

Owmaygattt. Kayanya yang bikin horor di rumah hantu itu ya si dedek-dedek 3 orang yang tidak berhenti berteriak sambil menarik-narik saya sepanjang perjalanan. Dan tentunya antrean tanpa ampun yang membuat saya berdiri hampir 1,5 jam!

??????????

Namun, setelah kami beristirahat beberapa menit. Kemudian saya tertawa sendiri. Ada hal lucu yang saya sadari ketika melewati wahana-tidak-penting tadi. Ternyata saya sama sekali tidak membuka mata sepanjang perjalanan, alias merem.

Duh, ternyata saya masih saja penakut sampai-sampai tidak berani membuka mata. Hihihi. So please jangan tanya saya seperti apa bentuk hantu-hantu penghuni Yurei Kanagawa itu, karena yang saya tahu semuanya hitam.😀

Ah, tapi setidaknya saya sudah selangkah lebih maju. Saya sudah berani untuk masuk rumah hantu (ini merupakan pertama kalinya sepanjang hidup saya) meskipun saya ‘tidak menikmati dengan total’ harga tiket Rp15.000 itu.

Oke, saatnya kembali ke dunia nyata! Kemudian saya dan Siska pulang ke Tanah Abang menggunakan bus Mayasari Bakti dari Pulomas. Bye bye om dan tante hantu Yurei Kanagawa.

***

PS: Setelah sampai ke kos, ternyata saya masih merinding. Saya jadi merasa ‘tidak aman’ ketika sendirian. Ya Tuhaaan, sepertinya saya akan menikmati perasaan seperti ini hingga beberapa hari ke depan.

6 komentar

  1. tomikurniawan · · Balas

    ” Ternyata saya sama sekali membuka mata sepanjang perjalanan, alias merem.”

    carane piye kui? melek tapi merem?😀

    1. huahahhaa. salah. mari edit :p

  2. wooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooow
    tumben kowe gelem?😀

    1. hahaha. gue gituloh. kan harus move on #eh

      1. tomikurniawan · · Balas

        nek move on ki sekalian….
        mumpung mas umar saiki yo mbut gawe ning jakarta😀
        *hura nyambung nanging disambung-sambungke

  3. huahuahauhauhua.. saya kirain berani melihat.. ternyata merem juga.. saya sih kalo masih manusia, walaupun serem masih berani lah.. kalo beneran baru deh mikir entah mo lari, pingsan atau bengong.. hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: