Mubazirisasi Smartphone

Kemampuan prosesor yang kelewat cepat, kapasitas memori yang kelewat besar, layar yang terlampau luas dan ukuran kamera yang berlebihan menurut saya merupakan salah satu bentuk mubazirisasi smartphone bagi kalangan masyarakat tanpa kelas seperti saya.

Satu bulan lalu saya sempat dilanda kegalauan ketika harus memilih smartphone apa yang bakal dijadikan sebagai pengganti handphone yang dikudeta adik saya. Sejak dulu saya berusaha untuk membeli barang yang sesuai dengan kebutuhan dan budget, dan itulah yang saya amini sebagai berhemat.

Dengan berbekal satu situs yang menyajikan spesifikasi smartphone lengkap dengan harganya, saya mulai mencari-cari gadget yang pas dengan kebutuhan saya. Saya pun mulai mendata apa saja yang saya butuhkan antara lain gadget yang bisa dipasangi aplikasi office, memiliki kamera minimal 5 MP (untuk dokumentasi bahan tulisan), bisa diinstal candycrush (ini paling penting XD) dan dual simcard. Ya, sebenarnya cukup itu saja, yang lain-lainnya saya anggap sebagai bonus.

Kemudian muncullah beberapa merek dan tipe handphone dengan berbagai macam harga, dari yang paling murah sampai paling mahal. Saya coba bandingkan dari satu merek dengan merek lain, sampai akhirnya saya mendapati 3 macam merek dan tipe yang menurut saya sudah sesuai dengan kebutuhan saya.

Saya pun mengemukakan beberapa bakal calon gadget pilihan saya kepada beberapa rekan, responsnya beragam, Ada yang mengomparasikan dengan gadget kepunyaannya yang kebetulan berkelas high-end, ada yang berkomentar masalah merek, ada pula yang malah ikutan bingung karena sebenarnya rekan saya yang satu ini juga sedang membutuhkan gadget baru,

Akhirnya tanpa ba-bi-bu, akhirnya saya memantapkan pilihan pada smartphone lowend yang sudah sesuai dengan kebutuhan saya. Jujur, saya tidak terlalu peduli masalah prosesor, ram atau pun hal-hal teknis lainnya yang menurut saya hanya dibutuhkan oleh orang-orang yang memang membutuhkan gadget sebagai piranti utama kerjanya (sampai sekarang saya masih berpikir kira-kira kerjaan apa yang membutuhkan spesifikasi smartphone setinggi itu).

Saya juga sering bingung dengan orang-orang yang mengagung-agungkan kemampuan prosesor dan besarnya memori dari smartphonenya, padahal yang saya tahu mereka hanya menggunakanya untuk berkomunikasi dan mengakses sosial media, sisanya paling banter untuk ngegame candy crush atau youtube-an.

Nah, kalau memang seperti itu, bukankah itu namanya hambur? Tidak perlulah itu prosesor dengan kecepatan yang bisa mengalahkan mobil di formula1 atau kapasitas RAM yang bisa digunakan untuk bangun ruma tipe 36. Buktinya, saya dan smartphone low-end baru saya yang hanya dibanderol Rp1 juta bisa melakukan semuanya.

Rasanya juga lebih puas ketika menggenggam smartphone murah tapi kemampuannya bisa setara dengan handhone seharga 2 kali UMR Jakarta, atau lebih plong ketika smartphone lowend saya menderita gangguan karena harganya yang memang pas-pasan.

Karena itu, hati saya juga sempat amburadul ketika berkesempatan meliput eksklusive preview smartphone premium seharga 3 kali gaji buruh di Jakarta. Spesifikasi dan kemampuannya benar-benar wow dan berhasil bikin saya ngiler. Konsep dan inovasi yang dihadirkannya juga sukses membuat saya berdecak kagum. Saat itu saya sempat berkeinginan untuk mengantonginya.

Ah beruntung, karena saya termasuk orang yang selalu berkantong cekak, keinginan yang saya anggap berlebihan itu akhirnya bisa diredam dan saya sadar diri. Akhirnya akal sehat saya kembali dan saya bisa bersyukur, saya masih diselamatkan dari godaan barang yang bisa merampok jatah makan saya selama tiga bulan.

[Tapi jujur saja, smartphone baru dengan brand ambassador Joe Taslim itu emang yahud. Kalau penasaran dengan smartphone yang saya juluki smartphone anti kepo itu, kawan-kawan bisa cek tulisan saya di sini dan di sini]

Lalu, apasih motif saya menulis artikel ini? Saya hanya berupaya kembali menyadarkan diri saya sendiri supaya tidak tergoda pada mubazirisasi smartphone, belajar bersyukur dan puas atas apa yang sudah saya miliki. Bukankah lebih baik anggaran untuk beli atau ganti smartphone dialokasi untuk hal lain yang lebih bermanfaat?🙂

2 komentar

  1. istilahnya mirip vickiysasi ya. terkait soal smarthphone/gadget saya lebih memegang pada prinsip bahwa beli yang sesuai kebutuhan saja… buat apa beli yang “mubazirisasi” itu jika kebutuhanya cuma buat chating, socmed, sms dan telponan aja. hehehe
    salam

  2. walaupun henpon2 highend itu sangat menggiurkan, saya setuju banget sama mbak…
    Jangan mau jadi korban konspirasi kemakmuran produsen henpon.
    Tulisan mba kembali menyadarkan saya..

    salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: