Ngaliwet: Guyub dan Egaliter ala Sunda

Photo-0007

liwet li.wet v memasak (nasi) dng direbus #KBBI

Ngaliwet, istilah tersebut sudah familier di telinga sejak saya masih kecil. Ngaliwet merupakan tradisi makan bersama di daerah Sunda. Tradisi tersebut sangat unik dan hal serupa belum saya temukan di daerah lain.

Ngaliwet atau kegiatan masak dan makan bersama ini tidak hanya dilakukan di waktu khusus, tetapi fleksibel bahkan bisa dilakukan tanpa direncanakan terlebih dulu. Meskipun biasanya memang ada persiapan agar proses memasak jadi lebih mudah.

Biasanya untuk ngaliwet setiap peserta diminta untuk udunan (sunda: patungan) baik dalam bentuk bahan masakan ataupun uang yang kemudian dibelanjakan. Selain itu, jika tempat ngaliwetnya dilakukan di luar rumah atau di suatu tempat yang jauh dari dapur, biasanya peserta juga ditugasi untuk membawa peralatan memasak, seperti kompor, kastrol, coet (sunda: cobek) dan lain-lain.

Setelah itu, proses memasak pun dilakukan dengan bagi tugas, ada yang kebagian memasak nasi, membuat sambel, menggoreng lauk pauk sampai ngala daun cau (sunda: mencari daun pisang) sebagai alas makan. Pokoknya semua orang diharapkan untuk berkontribusi demi kelancaran kegiatan ngaliwet tersebut.

Istilah ngaliwet diambil dari kata dasar liwet, sesuai dengan proses memasaknya yaitu merebus nasi dalam kastrol. Biasanya dalam proses memasak nasi dilakukan dengan menambahkan rempah-rempah seperti daun salam, sereh dan bumbu-bumbu seperti garam dan merica. Setelah nasi saat atau setengah matang, kemudian bawang, cengek (sunda: cabe rawit) dan bahan dasar untuk memuat sambel lainnya juga ikan asin ditumpangkeun di kastrol yang sama, sehingga nasi memiliki cita rasa dan wangi yang menggoda.

Oh ya, konon katanya untuk memasak nasi liwet dibutuhkan ketelitian, karena proses masak hanya dilakukan sekali. Kalau airnya terlalu banyak bakal jadi bubur, sedangkan kalau kurang nasi enggak bakal matang. Nah, makanya untuk urusan ini dari dulu saya tidak pernah ikut campur, rasanya saya lebih memilih tugas untuk bagian goreng-goreng atau ngala daun cau. J

Sebagai pelengkap nasi liwet sambel menjadi hal wajib, kemudian disusul dengan lalapan yang bisa berupa rebusan daun singkong, daun pepaya, roay, malanding, pete, jengkol dan berbagai macam tanaman lainnya. Setelah itu ikan asin seperti japuh, peda, sepat dan teri medan. Lalu menyusul lauk tambahan berupa tahu tempe goreng, ikan, ayam atau lauk lainnya yang bisa ditemukan di sekitar😀

ilustrasi kastrol untuk memasak liwet

ilustrasi kastrol untuk memasak liwet

Selain proses memasaknya yang unik, penyajiannya pun super unik, dan inilah yang membuat ngaliwet mampu menjadi ajang silaturahmi dan keguyuban masyarakat Sunda yang egaliter. Pasalnya, semua orang harus makan bersama-sama dalam satu tempat, duduk bersila dan menghadap makanan yang disebar di atas daun pisang. Tidak ada pembedaan, misalnya karena pejabat maka makannya di piring. BIG NO!

Ngaliwet ya makan di daun pisang, duduk bareng-bareng, nyomot sambel bareng-bareng, kalau perlu sambil rebutan nasi dan lauk-pauk. Selain itu pastinya diikuti dengan obrolan-obrolan ringan yang bisa mengakrabkan peserta ngaliwet satu sama lain. Itulah kemudian kenapa saya memberi judul tulisan ini dengan Ngaliwet: Guyub dan Egaliter ala Sunda karena memang ngaliwet menunjukkan tradisi guyub dan egaliter di masyarakat Sunda.

Oh ya, sebenarnya hasil masakan dari ngaliwet ini kadang rasanya sih enggak enak-enak banget di lidah, tapi yang bikin enak dan lezat itu yaitu ngariung dan guyubnya yang gak bisa dikalahkan dengan bumbu masak apapun. HAHAHA *lebay*

Meskipun sekarang industri kuliner maju pesat, semoga tidak melunturkan tradisi ngaliwet ini di kalangan masyarakat Sunda, karena banyak sekali nilai-nilai kebaikan yang bisa diambil dari kegiatan yang bikin kenyang dengan harga murah-meriah ini.

Hayu baraya urang ngaliwet sasarengan!

*foto diambil @dobelden saat ngaliwet MUSDA Relawan TIK Cianjur, Sabtu (8 Juni 2013)

11 komentar

  1. wah kerenn ulasannya… ini tradisi kebanggaan yg harus dipelihara…

    1. hehehe, hayu urang ngaliwet deui kang.😀

  2. Haha. Sebuah tradisi egaliter yg ekonomis, menyenangkan, dan mengenyangkan!
    Pernah juga saya posting ttg ini.

    1. Bener tuh!

      Oh ya, mau dong link tulisannya, siapa tahu bisa melengkapi yang ini. Maklum ini ditulis setelah berabad-abad tidak ngaliwet dan baru kemarin ngerasain ngaliwet lagi😀

      1. http://sokocon.wordpress.com/2012/01/12/botram/

        Postingan lama, poto-potonya udah pada ga muncul teh. Hehe.:mrgreen:

        1. ohhh itu lebih ke botram ya? iya, botram juga tradisi Sunda tuh. Botram, mayoran, ngaliwet dan papajar kudu dilestarikan😀

  3. Ahahahah seru banget keknya ngeliwetnya kak. Ajak-ajak donk. Hihihi…

    1. ayo donk kak Ucha kapan-kapan maen ke Cianjur😀

  4. kayanya enak banget nasi liwetnya..

  5. mysukmana · · Balas

    orang sunda memang suka yang berbau lalapan ya mbak🙂

  6. enaknyoo…
    cam mano tu rasanyo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: