Menikmati Kabut di Bromo

Mengunjungi kawasan pegunungan Bromo merupakan salah satu impian saya sejak lama, dan Sabtu (23/2/2013) hal itu menjadi kenyataan. Namun sayang, hujan yang turun di malam hari sebelum saya berangkat membuat kawasan Bromo menjadi berkabut. Sehingga saya dan rombongan lainnya tidak bisa menikmatinya dengan sempurna. Meski demikian, Bromo tetap indah dan cantik.

Pada kesempatan itu saya berangkat sekitar pukul 22.00 WIB dari Kampung Inggris, Pare, Kediri. Perjalanan dari Kediri menuju destinasi pertama yaitu menikmati sunrise di Penanjakan, Pasuruan kami lalui dengan menggunakan mobil elf berkapasitas 15 orang.

Kami sampai sekitar pukul 03.00 di parkiran mobil kemudian dijemput mobil hardtop 4 WD untuk mendaki ke lokasi view voint. Sambil menunggu mobil jemputan selanjutnya datang, para pengunjung bisa mulai mempersiapkan diri untuk menantang dingin.

Di parkiran itu banyak pedagang yang menjajakan sarung tangan, kaos kaki, syal dan kupluk, harganya sekitar Rp10.000-Rp50.000, tergantung kepiawaian kita dalam menawar harga. Bagi yang belum membawa jaket, jangan khawatir di sana juga ada yang menyediakan jasa penyediaan jaket, harganya berkisar Rp20.000-Rp25.000 dan bisa dipakai selama menikmati sunrise.

Setelah mobil hardtop jemputan datang, anggota rombongan dibagi menjadi enam orang tiap mobil. Setelah itu mobil melaju melewati rute yang cukup curam. Sesampainya di kawasan view point Penanjakan, udara di sana terasa sangat dingin. Meskipun saya sudah mengenakan dua lapis jaket lengkap dengan sarung tangan dan kaos kaki, tapi rasa dingin masih terasa menusuk. Selain itu asap juga keluar dari mulut saat kami bernafas.

Di point view Penanjakan itu sudah disediakan kursi kayu menghadap arah terbitnya matahari. Sayang sekali lagi sayang, meskipun kami tunggu sampai pukul 06.30, matahari tak mau juga muncul. Hanya warna putih kabut yang bisa kami nikmati. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke mobil hardatop dan melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya.

Destinasi kedua adalah melihat kawah Gunung Bromo yang berada di tengah-tengah pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Kami diturunkan di tempat parkir hardtop dan harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke kawah Bromo itu.

Karena saat itu saya ngintili teman perjalanan saya yang berasal dari Cirebon (maklum saat itu saya saya tidak kenal siapa pun) dan mereka memutuskan untuk naik kuda sampai di bawah tangga tanjakan, akhirnya saya ikut juga. Ya itung-itung mencoba mengendarai kuda setelah terakhir kalu waktu masih kecil.

Untuk naik aik kuda yang dijajakan sejak turun dari hardtop, kami harus merogoh kocek senilai Rp50.000 untuk PP dari parkiran hardtop sampai ke bawah tangga menuju kawah. Saat itu, kuda yang saya tunggangi baru berumur dua tahun. “Umur segitu sudah mulai diajari,” ujar Harsono, 43, pria yang menjadi guide saya saat menunggang kuda.

Pantas saja, saya sempat terjatuh waktu pertama kali menungganginya karena kuda berjalan miring-miring. Sejak itu, saya jadi agak sedikit ketakutan untuk melanjutkan perjalanan dengan menaiki kuda melewati medan berpasir itu. Harsono menjelaskan kawasan kawah Bromo itu biasanya ramai sampai pukul 20.00.

Ketika turun dari kuda dan mulai meniti anak tangga satu per satu, bau belerang mulai tercium, semakin mendekati puncak, baunya pun semakin kuat. Tapi menurut saya baunya masih kalah dibandingkan dengan bau kawah Candradimuka di Dieng.

Pengalaman pertama saya ke Bromo ini malah membuat saya untuk kembali ke tempat itu, dengan harapan bisa menikmati keindahan Bromo dengan sempurna tanpa tertutupi kabut. Keinginan itu juga diiringi dengan harapan saya agar bisa berbagi kuasa Tuhan itu dengan sahabat-sahabat saya.

Ayo ke Bromo Lagi!

7 komentar

  1. yaah, fotonya cuma satu😀

    1. Belom ditransfer yang lainnya.😀
      Maklum ni ngepost via BB. Untuk foto lainnya segera menyusul kalo udah sampe Solo😀

  2. Sayang ga bisa liat sunrise ya mbak.

  3. wih, ditunggu foto lainnya ya mbak ^^

  4. Bromo Tanjung Pondok Tani
    Memperkenalkan ” Kawasan Tengger-Bromo” dari segala aspek, menginap di pondok tani tanjung-tosari, cukup membayar dng sukarela “tanpa tarif” (khusus untuk rombongan)
    * rute: pasuruan-warungdowo-ranggeh-pasrepan-puspo-tanjung (BTPT) KM 99 (Baledono-Tosari)
    @.kamar los + 2 km mandi luar, dapur, teras serba guna, kapst: 8 s/d 16 orang, cukup memasukkan dana “sukarela” ke kotak dana perawatan pondok pertanian.
    @.kamar utama + km mandi dalam + perapian, kapst: 4 s/d 6 orang. Rp.150.000,- /malam
    # untuk informasi hub per sms/tlp: 081249244733 – 085608326673 ( Elie – Sulis ) 081553258296 (Dudick).

  5. Mantab banget trip reportnya..

    Bromo Tour , Bromo Tour Travel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: