Solo, Love at First Sight

Sebagian orang percaya dengan adanya love at first sight atau cinta pada pandangan pertama, begitu pula dengan saya. Saya merasakan hal itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bengawan, lebih dari 5 tahun lalu. Saat itu, saya tahu hati saya sudah tertawan di sana sehingga saya merasa telah memiliki Solo.

Solo merupakan kota di Jawa Tengah yang memiliki sejarah panjang dan kebudayaan tinggi itu memang ramah pada siapa saja. Para pendatang yang hanya sekadar mampir sebentar bisa langsung merasakan kehangatan atmosfirnya. Apalagi akhir-akhir ini Solo sedang besar-besaran meningkatkan brandingnya, hal itu ditambah dengan semakin populernya sosok Jokowi mantan Walikota Solo yang sekarang menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengakui sebelumnya Solo hanya menjadi destinasi pelengkap bagi para pelancong yang memilih Jogja sebagai tujuan utamanya, namun sekarang dengan berbagai upaya Solo mulai dilirik sebagai tujuan utama wisata.

Sejak beberapa tahun lalu, Pemkot Solo mulai giat menggelar berbagai macam agenda wisata yang sengaja digelar untuk menarik minat pariwisatawan, misalnya dengan menggelar berbagai macam karnaval dan festival internasional. Sebut saja Solo Batik Carnival (SBC), Solo Internasional Etnik Music (SIEM), Solo Internasional Performing Art (SIPA) dan lainnya.

Upaya pemkot juga disambut baik sampai ke tingkat kelurahan, sehingga seringkali warga di kelurahan menggelar kirab secara mandiri sebagai upaya mengangkat branding daerah tersebut. Maka tak heran rekan-rekan saya sering berkelakar dan menyebut Solo sebagai Kota 1001 Kirab, karena hampir semua kegiatan pasti dimeriahkan dengan kirab dan berpusat di Jl Slamet Riyadi.

Tentu saja bagi para pendatang dan wisatawan kegiatan seperti itu cukup menarik karena belum tentu bisa mereka temukan di daerah asal, tetapi berbagai keluhan juga tidak bias dibendung. Banyak yang menilai intensitas kirab dan festival yang terlalu berdekatan menyebabkan daya tariknya berkurang, selain itu juga mengganggu lancarnya transportasi.

Di samping itu, Solo juga terus berbenah dan bersolek untuk menyambut gelombang wisatawan yang semakin tinggi. Beberapa hotel baru dibangun dalam dua tahun terakhir dan waiting list pembangunan hotel lainnya juga sudah semakin panjang sampai beberapa tahun ke depan. Hal itu tentu menjadi hal positif untuk meningkatkan perekonomian Solo.

Beberapa inovasi dalam bidang transportasi juga mulai digalakkan, mulai dari Batik Solo Trans, Bus Werkudara, Sepur Kluthuk Jaladara, Monorail Batara Kresna, sampai terakhir pembenahan koridor Jl Jenderal Soedirman.

Secara garis besar, meskipun saya bukan warga Solo, tapi saya mendukung semua program Pemkot yang berupaya untuk memperbaiki Solo menjadi lebih Berseri, asalkan tetap memperhatikan kondisi dan keadaan masyarakatnya secara real. Sehinga tak melulu mengurusi masalah pariwista dan branding kota, melainkan menyelesaikan masalah masyarakat dan membuat mereka menjadi lebih nyaman dan sejahtera.

Dengan berbagai kenangan yang telah saya dapatkan di Solo, ketika sadar sebentar lagi harus move on dan pindah ke tempat lain, ada perasaan tidak rela untuk meninggalkannya. Apalagi banyak pelajaran mengenai hidup yang saya dapatkan di sana.

 Dirgahayu #268 Kota Solo, Semoga Semakin Berseri dan Mempesona…

5 komentar

  1. happy bday solo………

  2. Selamat hari jadi, moga makin keren kotanya.

  3. Bravo kota Solo!!
    Semoga semakin maju, warga sejahtera.

  4. Jadi sekarang dah balik menetap kembali keCianjur lagi kah Nden…?
    Sukses buatmu ya…

    1. yoi mas… trims doanya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: