Beijing Ala Solo

487968_4312252688105_1423074540_n

Foto di depan gerbang Pasar Gede, colorful! (by: Maulana Tri Surya Utama)

Sejak pertama kali saya berada di Solo, sekitar tahun 2008, menjelang Imlek atau perayaan tahun baru China kawasan Pasar Gedhe selalu dihiasi dengan berbagai macam hiasan. Seperti lampion, lampu berwarna-warni yang kelap-kelip dan replika binatang simbol shio atau tahun China. Kebetulan untuk tahun ini, hiasan yang dipasang cukup berbeda, ditandai dengan dibuat hiasan semacam pintu gerbang saat memasuki wilayah Pasar Gedhe dari arah Jl Jenderal Soedirman. Selain itu, lampion merah yang biasanya dipasang melintang di atas jalan, sekarang dipindah di pinggir jembatan seperti tirai.

Selain itu, hiasan juga tambah semarak di dekat klenteng Tien Kok Sie, ada replika pohon sakura dan rumah-rumahan ala China. Barang tentu spot itu jadi tempat favorit yang digunakan untuk foto model. Selain itu, lampion berwarna merah juga disusun melingkar di atas tugu jam Pasar Gedhe dan tak jauh dari sana, replika hewan naga dan ular juga dibuat bercahaya sebagai tanda pergantian dari tahun Naga Emas ke Ular Air.

Kalau saya boleh membandingkan, jumlah pengunjung yang datang untuk menikmati kilauan cahaya dari lampion dan lampu-lampu itu tiap tahun semakin meningkat. Setidaknya sampai tiga tahun ke belakang di mana saya selalu ikut menikmati dan mengamati para pengunjung di sana. Mungkin hal itu ditambah dengan penataan baru Jl Jenderal Soedirman dan bangungan baru gedung Bank Indonesia yang juga cukup menarik perhatian masyarakat untuk keluar malam dan sekadar mengabadikan momen di sana.

Seakan tak ingin melewatkan setiap momen di Pasar Gedhe yang berdandan ala Beijing itu, saya bersama rekan-rekan melakukan prosesi pemotretan di sana. Tak tanggung-tanggung, saya sampai melakukan empat sesi pemotretan dengan orang-orang yang berbeda. Ya, hitung-hitung bisa dianggap sebagai momen-momen terakhir saya di Solo sebelum mudik ke Cianjur. Hiks.

Hasil pemotretan juga cukup memuaskan, dengan memanfaatkan empat sampai lima fotografer berbeda dari media lokal di Solo (beruntungnya punya teman fotografer :D). Apalagi perjuangan untuk melakukan proses pemotretan juga tidak mudah. Spot-spot foto yang apik hampir dipastikan selalu penuh orang sampai lebih dari jam 12.00 malam, sehingga saya dan rekan-rekan yang lain sempat harus menunggu sampai pukul 02.00 untuk mendapatkan momen yang pas. pfyuh.

Meskipun tulisan saya agak terlambat, karena mungkin setelah membaca tulisan ini lampion dan lampu-lampu sudah dikukut (karena puncak Imlek
sudah lewat), semoga saja bisa menambah rasa penasaran pembaca dan bisa ikut menikmati indahnya Beijing Ala Solo tahun depan.😀 #ayoKeSolo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: