Solusi ide mandek: Cerpen Kolaborasi

CerpenAkhir-akhir ini saya sedang keranjingan baca buku-bukunya Djenar Maesa Ayu, termasuk kumpulan cerita pendek (cerpen) berjudul 1 Perempuan 14 Laki-laki.Berkat baca buku itu, saya jadi terinspirasi dengan ide yang disuguhkan Djenar: Membuat cerpen kolaborasi. Kalau soal musik mungkin orang sudah terbiasa mendengar sebuah lagu dinyanyikan berdua, tapi bagaimana dengan cerpen yang ditulis oleh dua orang?

Awalnya saya kira hal itu bakal cukup mudah dilaksanakan, melihat proses pembuat cerpen kolaborasi yang dilakukan Djenar hanya cukup membutuhkan waktu sehari atau dua hari saja. Pembuatan cerpen dilakukan dengan menulis secara bergantian bersama rekan duet. Tiap orang menuliskan ide yang mereka miliki, boleh satu paragraf atau hanya satu kalimat. Bebas. Yang pasti, rekannya yang lain harus mencoba meneruskan kalimat atau paragraf selanjutnya. Begitu seterusnya hingga tercipta sebuah cerpen yang utuh.

Dengan percaya diri, akhirnya saya mengajak salah satu rekan saya, Tomi Kurniawan, untuk bergabung dalam proyek cerpen kolaborasi saya. Proyek itu kami mulai 10 Desember 2012 dengan saling melempar ide cerpen melalui pesan elektronik (e-mail). Hal ini agak berbeda dengan yang dilakukan Djenar, mereka membuat cerpen kolaborasi itu dengan duduk bersama. Sebelum dan saat pembuatan cerpen, tidak ada komunikasi atau pembahasan rencana cerpen mau dibuat seperti apa, semuanya dibebasin terserah masing-masing pihak.

Awalnya kami cukup bersemangat menuliskan tiap kata yang keluar dari benak, maklum hal ini baru pertama kali kami lakukan. Ketika sudah sampai di tengah jalan baru terasa, bikin cerpen kolaborasi itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kendala yang saya rasakan, mulai dari tarik-tarikan ide, alur cerita yang akhirnya tidak seperti rencana awal. Ya, menyatukan dua isi kepala yang berbeda itu susahnya minta ampun kalau tidak ada komunikasi sama sekali.

Saya niatnya ngarahin cerita ke mana, eh di tengah-tengah malah digeret ke arah lain. niatnya si tokoh utama gini, eh malah dibuat gitu. Untuk menyelamatkan cerita dan alur agar sesuai dengan yang pengin dibuat, seringkali terpaksa bunuh-bunuhan karakter, supaya bisa disesuaikan dengan ide sendiriđŸ˜€. Beberapa kali proyek sempat terhenti hingga berhari-hari karena sama sekali tidak ada ide, bingung itu cerita harus digimanain. Akhirnya sering kali terpaksa bikin paragraf yang mengambang dan biar rekan kita yang bekerja mikir keras ngelanjutin itu cerita. hehe

Gara-gara itu, alur cerita kemudian jadi pabaliut atau enggak karuan. Kadang satu paragraf dengan paragraf lainnya benar-benar tidak sinkron, walhasil ceritanya jadi agak rancu. Tapi menurutku itu enggak begitu masalah sih, yang penting kan tetap produktif, tetap bisa menghasilkan karya dan bisa jadi bahan postingan blog, (ya meskipun tetap aja aneh -_-).

Oh ya, dengan model cerpen kolaborasi ini, sebenarnya bisa jadi seperti judul tulisan saya kali ini: solusi ide mandek. Nah, daripada punya draft  cerpen atau tulisan yang mangkrak berbulan-bulan (*menatap tiga cerpen saya yang tidak selesai-selesai) bisa tuh dilempar jadi cerpen kolaborasi, untuk mancing ide-ide baru buat nyelesain cerpen itu. Tapi ya enggak semuanya bisa dijadiin cerpen kolaborasi juga sih, kita kan tetap pengin punya karya yang benar-benar original hasil karya sendiri, gitu.

Tapi menurut penilaianku, dengan ide cerpen kolaborasi ini bisa sekaligus jadi latihan mengembangkan ide dan imajinasi lho, karena mau enggak mau kita dipaksa mikir untuk melanjutkan cerita sebelumnya, dan mencari akal supaya semuanya bisa sesuai dengan yang diinginkan bersama (*kalau cuma sesuai dengan ide sendiri, ya udah bikin cerpen sendiri aja).

Ya, proyek pertama cerpen kolaborasi antara saya dan Tomi Kurniawan kemudian selesai dalam jangka waktu 14 hari, atau selesai bertepatan dengan malam natal tahun ini (24/12). Cukup lama juga untuk hitungan cerpen dengan panjang hanya 725 kata saja. Dan sepertinya cara paling efektif agar proyek itu cepat selesai yang dengan meluangkan waktu khusus untuk duduk bersama, buka disambi seperti yang kami lakukan ini.đŸ˜€

Mau tahu hasilnya? Monggo bisa dicek tulisan saya sebelum ini yang berjudul Retorika Senyuman, atau cukup klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: