Retorika Senyuman*

Dua pekan lalu, aku bertemu dengannya pertama kali di sini, di bangku di bawah pohon beringin di pinggiran kota Solo.

Dua pekan lalu, aku bertemu dengannya pertama kali di sini, di bangku di bawah pohon beringin di pinggiran kota Solo.

Retorika Senyuman*

Senyum itu kembali berawang dalam senang. Tak peduli raut sedang sedih atau memerah marah. Siapa gerangan ini.

***

Dua pekan lalu, aku bertemu dengannya pertama kali di sini, di bangku di bawah pohon beringin di pinggiran kota Solo. Dia duduk sendiri dengan mata sayu dan wajah kuyu. Di pangkuannya ada sebuah plastik besar dengan isi entah, tapi yang pasti dia pegangi dengan kukuh.

Ku perhatikan lelaki pemilik paras khas Indonesia timur itu. Tanpa berani menyapa. Meski matanya sembab ia masih saja terlihat waspada. Apa yang ditakutkan lelaki itu? Padahal di sebelahnya hanya wanita berkacamata, yakni diriku.

Pria plastik besar. Akhirnya kupanggil dia dengan sebutan itu, sejak pertama kali bertemu, aku tak pernah melupakannya. Dari situ, semua tanda tanya semakin subur di kepalaku. Lelaki si mata sayu. Pria plastik besar. Laki-laki dari timur. Semuanya misterius. Tapi ada satu hal, senyumannya lelaki itu. Senyuman lelaki yang mungkin lebih tinggi lima cm diatasku sungguh menusuk tajam ke ulu hati. Memberikan semacam kenangan.

Kami tidak pernah sama sekali bercakap, tetapi setiap kali matanya yang memburu itu bertemu dengan dua bola mata di balik kacamataku ini, ada sebuah kisah yang tiba-tiba hadir di kepalaku. Kenangan akan pria plastik besar mengantarkanku pada kenangan yang lebih dulu lama terpendam. Kenangan akan sosok yang ku kasihi. Lelaki yang kiranya telah meminangku. Insan yang telah menyeret kehidupannya untukku, begitu juga sebaliknya.

***

Suamiku. Pria plastik besar. Mereka memiliki senyum serupa. Senyum yang tertahan tapi tampak tulus. Matanya yang teduh melengkapi gambaran pria penyayang tapi pekerja keras. Tapi kenapa pria plastik besar itu tampak ketakutan saat itu? Apakah dia sedang bersembunyi dari sesuatu? Apakah dia membawa barang yang berbahaya? Semua pertanyaan-pertanyaan konyol itu muncul ketika lelaki bermata sayu itu memalingkan wajahnya.

Ah masa bodoh dengan apa yang terjadi dengan si plastik besar. Aku sedang ingin bernostalgia dengan memori, kepada pria yang kucintai. Membelai kenangan kisah cinta yang dulu menggebu. Mengemas kasih dalam balutan kemesraan. Tapi, dua tahun lalu. Tepat di saat dokter memberitahuku bahwa aku hamil. Tuhan menjemputmu dengan caranya. Kecelakaan mobil di depan rumah sakit di mana aku sedang memeriksakan kandungan.

Kehilanganmu sontak membuatku merasa jadi perempuan paling malang sedunia. Kamu tiada, separuh hidupku lenyap. Kamu tiada, anak di kandunganku tidak berbapak. Selama dua tahun aku hidup dibalut kesepian. Selama setahun anakmu meyatim. Tapi, semua berubah sejak dua pekan lalu. Senyum yang tertahan tapi tampak tulus membuatku merasa mampu meraih lagi segalanya. Senyum dari pria yang duduk di bangku di bawah pohon beringin.

Selain pria yang kutemui di bangku taman lalu, ada satu lagi lelaki yang memiliki senyumanmu. Iya, dialah darah dagingmu sendiri. Shando. Sebuah nama yang kau idamkan dulu. Kamu berkelakar inilah nama yang akan menyatukan kita selamanya. Nama yang akan mengingatkan pada tulusnya cinta. Shando, yang berarti juga Marsha dan Ando. Namaku dan namamu terukir manis untuk nama pewarismu.

Namun sayang, Shando, lelaki cilik berumur satu tahun itu sama sepertiku. Tidak kuat menahan kerinduan yang teramat padamu. Di usianya yang pertama, dia akhirnya memutuskan untuk menjumpaimu dan meninggalkanku lagi dalam kesendirian di dunia ini.

PLAK….!! PLAK…..!!! PLLAAAAKK…!!

Kutampar pipiku sendiri. Biarlah rasa sakit raga ini menutupi rasa perih di hati. Bangunlah Marsha! Bangun!! Jangan terlalu lama kamu terlena dengan kenangan. Di depanmu sekarang juga ada kehidupan. Nyata dan tentu saja berirama. Suami dan anakmu sudah lebih dulu menemui Tuhannya, sedang kamu masih tetap bernafas di bumi ini agar kamu mampu berbuat sesuatu yang baik untuk mereka. Aku berbicara dengan diriku sendiri, mencoba membangunkannya dari lamunan.

Hai Marsha, apa yang kamu pikirkan. Bangkitlah, kau bukan perempuan yang paling malang di dunia. kamu masih punya harapan, kamu masih punya kesempatan memperbaiki diri dan kehidupanmu. Lihatlah, masih banyak orang yang tersenyum kepadamu, seperti pria plastik besar dengan senyum tertahan itu. kenapa kamu tak bisa belajar darinya, dia masih tetap berusaha menghadapi dunia dengan senyumanya, harusnya kamu juga bisa Marsha.

Hai fajar, semburatmu membawa kembali semangat-semangat ini. Rona merah seakan melupakan kenangan pahit semalam. Hari ini aku ingin melakukan yang baik. Aku pun bergegas, menyiapkan diri untuk menjadi pengajar. Rutinitasku sehari-hari. Tiba-tiba terbesit di hati, “semoga aku bertemu dengan si plastik besar”.

Hari baru dan harapan baru. Kucoba sempatkan diri kembali melewati bangku di bawah pohon beringin itu. Ya, tak perlu bertemu, hanya mencoba mengenang kembali senyum yang tertahan tetapi tampak tulus. Senyuman pria plastik besar yang tak ku kenal, tapi mampu menyadarkanku bahwa hidupku masih indah. Terima kasih.

TN,

Solo, 10122012 – 24122012

*a collaboration short story with Tomi Kurniawan

3 komentar

  1. manissssss……………

  2. […] Mau tahu hasilnya? Monggo bisa dicek tulisan saya sebelum ini yang berjudul Retorika Senyuman, atau cukup klik di sini. […]

  3. saya yakin senyum saya yang paling manis hehhehe (narsis)

    kunjungi :
    akumembagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: