Semarang I’m in Love

Akhirnya, cita-citaku yang sudah terpendam hampir dua tahun terwujud juga: naik ke menara Mesjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Ya, akhirnya Minggu pekan lalu (21/10) saya nekat jalan-jalan ke Semarang dengan tujuan utama mengamati kota Semarang dari ketinggian 19 lantai di menara MAJT. Perjalanan itu dimulai Minggu siang. Awalnya memang sudah direncanakan sejak beberapa hari sebelumnya, tapi sayang tugas yang harus dikerjakan Minggu pagi menyebabkan rencana berangkat pagi hari gagal, dan sempat menyebabkan berpikir untuk menggagalkan rencana melancong hari itu.

Tapi karena keinginan yang sudah tak terbendung, akhirnya motor matic-ku dinyalakan, dan sekitar pukul 11.30 WIB perjalanan menuju Ibu Kota Jawa Tengah dimulai. Karena perjalanan yang cukup mengikuti jalan utama Solo-Semarang menyebabkan saya tak kesulitan menuju Salatiga, kemudian mampir ke masjid agung Salatiga untuk salat dzuhur.

Masjid Agung Salatiga

Setelah itu perjalanan dilanjutkan. Dengan navigasi dari temanku yang kebetulan asli Semarang, akhirnya saya sampai juga ke Taman KB, atau taman kota yang terkenal dengan sebutan taman janda –karena terdapat patung ibu dengan dua anak dan tanpa bapak—. Di sana, tak afdal rasanya kalau tidak mencicipi kuliner khas Semarang, yaitu tahu gimbal! Harga makanan berbahan dasar tahu yang disiram bumbu kacang dan dilengkapi irisan bakwan udang di Taman KB itu berkisar antara Rp10.000-Rp12.000.

Tahu Gimbal

Kamu itu seperti bakwan udang dalam tahu gimbal, gak ada kamu hidupku tak lengkap. #eaaa #gombalgimbal

Setelah kenyang bertahu gimbal, perjalanan dilanjutkan menuju tujuan utama, menara MAJT. Masjid yang berada di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, itu memiliki  Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Pengunjung bisa naik ke menara pandang di lantai 19 dengan membeli tiket seharga Rp5.000. Semuanya harus mengantre untuk naik ke atas menggunakan lift yang dipandu operator. Menara pandang itu bisa dikunjungi sampai pukul 21.00 WIB.

Menara Al Husna

Di lantai 19 disediakan lima teropong yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan di sekitar. Untuk menggunakan teropong pandang cukup membayar Rp1.000 per satu setengah menit. Dari ketinggian lantai 19 angin terasa begitu kencang menerpa wajah, selain itu MAJT dapat terlihat secara keseluruhan. Ternyata, di lantai 18 ada Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat, hanya saja kafe itu buka dalam waktu-waktu tertentu, kebetulan saat itu saya belum sempat mencobanya.

Dari Ketinggian 19 Lantai

MAJT dari Menara al Husna

Setelah puas menikmati hembusan angin, kemudian saya menunaikan salat ashar di MAJT. Itu bukan kali pertama saya mengunjungi MAJT, sebelumnya sudah pernah sekitar tahun 2010, dan tak banyak yang berubah setelah dua tahun itu.

Perjalanan dilanjutkan dengan berkeliling daerah sekitar Kecamatan Gayamsari, sampai ke Pasar Johar dan Kauman. Saat waktu salat magrib tiba, saya mampir ke Masjid Agung Semarang untuk beribadah. Konon, pasar yang berada di seberang masjid agung itu awalnya adalah alun-alun, tapi akhirnya berubah menjadi tempat transaksi jual beli para pedagang dan masyarakat sekitar.

Karena sudah masuk waktu makan malam, akhirnya tempat kuliner jadi tujuan selanjutnya. Kampung Semawis. Tempat kuliner semacam Gladag Langen Boga (Galabo) di Solo itu berada di Pecinan Semarang. Pertama kali masuk ke area itu, suasana oriental langsung terasa, dengan ornamen lampion dimana-mana ditambah suara lagu-lagu mandarin yang dinyanyikan pengunjung.

Kampung Semawis

Dengan referensi dari salah satu tulisan di blog, saya jadi tahu kuliner yang jadi andalan di sana adalah Es Cong Lik. Es puter rasa buah itu rasanya mak nyuuusss banget, terasa benar rasa buahnya –serasa iklan—. Dengan harga Rp8.000, pembeli disuguhi satu pisin (piring kecil) es disertai agar-agar, mutiara dan buah siwalan. Ketika es masuk ke mulut, wow dinginnya langsung terasa sampai ubun-ubun. Es cong lik itu tersedia dalam berbagai rasa, ada sirsak, blewah, jeruk, durian dan lain sebagainya.

Es Cong Lik

Selain Es Cong Lik, di Kampung Semawis bisa ditemukan pisang plenet. Kudapan berbahan dasar pisang yang diplenet (dipenyet) itu bisa didapatkan dengan merogoh kocek hanya Rp4.000 untuk satu porsi. Pisang plenet disajikan seperti sandwich pisang yang diisi dengan gula halus dan taburan mieses cokelat.

Pisang Plenet

Pisang Plenet

Setelah kenyang mencicipi kuliner di Kampung Cina Semawis, perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi daerah Kota Lama sampai ke dalam-dalamnya melalui jalan tikus. Kemudian lanjut ke tempat nongkrong para Agase a.k.a Anak Gaul Semarang, yaitu Tugu Muda. Taman kota dengan landmark tugu di tengah-tengah air mancur itu berada tak jauh dari Lawang Sewu. Karena sebelumnya saya sudah pernah mencicipi kengerian di Lawang Sewu, maka objek wisata yang dikelola PT KAI itu tak saya kunjungi. Di Tugu Muda itu bisa dilihat anak-anak muda semarang yang sedang bergaul bersama teman-temannya. Ada yang sekadar mengobrol sambil klesotan di rumput, ada juga yang mengukuhkan ke-eksis-nnya dengan berfoto.

Lawang Sewu

Tugu Muda

Selain tugu muda, tempat Agase lainnya ada Simpang Lima. Tempat semacam alun-alun di tengah kota itu tetap ramai meski jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Kala itu, pedestrian simpang lima dipenuhi pengunjung yang menggunakan in line skate a.k.a sepatu roda dan kendaraan kecil semacam otopet. Semua yang datang ke sana bisa ikut merasakan keseruan itu dengan menyewa alat-alat gaul itu di sekitaran simpang lima. Sayangnya, karena tren itu, para pejalan kaki seperti saya jadi tidak bisa menikmati jalan-jalan seru karena pedestrian telah dikuasai.

Simpang Lima

Sebelum nongkrong di Simpang Lima, saya menyempatkan diri untuk salat isya di Masjid Raya Baiturrahman. Itu adalah masjid keempat yang saya kunjungi selama melakukan perjalanan Solo-Semarang. Dari lantai III masjid itu bisa terlihat keramaian Simpang Lima dengan jelas.

Masjid Raya Baiturrahman

Karena malam sudah larut, akhirnya diputuskan untuk melakukan perjalanan kembali ke Solo. Tapi tentunya tidak langsung pulang, masih ada beberapa objek yang bisa dikunjungi selama perjalanan pulang. Salah satunya adalah Bukit Gombel. Dari bukit Gombel, bisa dilihat suasana kota Semarang melalui lampu-lampu yang menyala dan tampak dari kejauhan. Rasa-rasanya seperti bukit bintang yang berada di Jogja. Di sekitaran Bukit Gombel ada beberapa cafe yang bisa dikunjungi untuk sekadar mencicipi kopi sambil menghangatkan tubuh, ditemani landscape apik Kota Semarang.

Bukit Gombel

Setelah kalah oleh ngantuk dan dinginnya malam, akhirnya perjalanan kembali menuju Solo dilanjutkan. Selama perjalanan pulang, senyum selalu hadir di wajah tanda senang dan bersyukur karena bisa menikmati hari yang menyenangkan. Terima kasih Ibu Kota Jawa Tengah, Semarang I’m in Love

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

3 komentar

  1. Reblogged this on : Kebun Jeruk : and commented:

    Ayo jalan-jalan lagi.. tak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini selain melakukan sebuah perjalanan, sambil mengumpulkan kepingan-kepingan cerita di antaranya..

  2. sewa mobil jakarta · · Balas

    Makasih informasinya. Kebetulan tahun depan saya mau ke Semarang. Bisa jadi referensi buat saya sekeluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: