Perspektif

per·spek·tif /pérspéktif/ n 2 sudut pandang; pandangan;

Saya masih ingat betul salah satu cerita hikmah yang pernah saya dengar dari sebuah pengajian yang entah kapan saya ikuti dulu. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana tingkah laku kita akan dinilai berbeda sesuai perspektif atau sudut pandang orang lain. Mungkin cerita ini memang sudah sangat familiar, tapi saya tetap menganggap kisah ini sebagai salah satu kisah terbaik, dan akan saya coba ceritakan kembali menurut versi saya.

Kisah hikmah ini mengenai cerita perjalanan ayah dan anak laki-laki yang akan menjual seekor keledai di kota seberang. Karena jaraknya yang lumayan jauh, mereka berangkat dari rumah si ayah berjalan kaki dan menuntun keledai yang dinaiki anak laki-lakinya. Mereka berjalan terus sampai memasuki sebuah desa. Ketika melewati beberapa warga setempat yang sedang berkumpul, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka dan berbicara kepada anak laki-laki..

Nak, harusnya kamu sadar, ayahmu kan sudah tua, masa dia yang harus berjalan kaki sementara kamu duduk santai di atas keledai..

Mendengar itu, si anak menjadi tak enak hati. Akhirnya ia meminta ayahnya untuk menggantikannya menaiki keledai, dan si anak yang berjalan kaki sambil menuntun tali kekang kedelai. Sampai suatu ketika mereka berpapasan dengan rombongan pengelana yang akan pergi berlawanan arah. Saat itu si ayah mendapat umpatan dari salah satu pengelana..

Orangtua kejam, masa’ anaknya disuruh berjalan kaki sedangkan dirinya enak-enakan duduk santai di atas keledai..!

Ayah dan anak itu kemudian tertegun heran, mereka bingung hingga akhirnya memutuskan untuk menaiki keledai bersama-sama. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kedelai dan sampai ke desa berikutnya. Ketika sampai di perbatasan desa, mereka diawasi oleh seorang ibu-ibu yang tampak pulang dari pasar. Ibu itu tak berkata apa pun ketika mereka berpapasan, sampai beberapa detik kemudian ia berteriak lantang..

Dasar manusia tak berperasaan, kalian tega keledai sekecil itu dipaksa mengangkut kalian berdua! ck ck..

Sejak saat itu si ayah dan anak merasa putus asa, kemudian mereka memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke pasar di kota tujuan mereka. Ternyata sesampainya di pasar, komentar tak juga surut. Salah satu pedagang di pasar bertanya..

Kenapa kalian berjalan kaki, padahal ada keledai yang bisa kalian manfaatkan untuk dinaiki?

Setelah mendengar perkataan itu, si Ayah berhenti dan kemudian menatap si anak sambil berkata…

Nak, Lihatlah, jika kita hanya menuruti perkataan/pikiran orang lain, maka tidak akan pernah ada habisnya dan bingunglah kita jadinya.

 

Begitulah kisah perjalanan ayah dan anak laki-laki yang akan menjual seekor keledai di kota seberang. Ada beberapa pesan yang bisa saya tangkap, salah satunya mengenai judul tulisan ini. Perspektif. Ya, tiap orang memiliki cara pandangnya sendiri dalam melihat sesuatu atau sebuah permasalahan, karena itu akan banyak sekali pendapat dan pikiran yang akan muncul dari orang lain. Oleh karena itu, lebih baik kita meyakini apa yang menurut kita baik dan Tuhan ridhai, sehingga tidak akan muncul keragu-raguan di hati kita. Selain itu, dengan cerita di atas saya jadi percaya bahwa sangat sulit membahagiakan banyak orang dalam waktu yang bersamaan, apalagi kepentingan mereka berbeda-beda..

6 komentar

  1. memang mbak jeruk, kita gak bisa menyenangkan semua orang,
    terlalu memikirkan untuk menyenangkan orang banyak membuat lelah hehehe…..
    salam

  2. setuju, beda kepala tentunya akan berbeda cara pandangnya…

  3. suka kalimat ini “Nak, Lihatlah, jika kita hanya menuruti perkataan/pikiran orang lain, maka tidak akan pernah ada habisnya dan bingunglah kita jadinya.”

  4. perspektif ni tergantung dengan pengalaman orang tu juga

  5. mendengarkan orang lain itu penting agar kita semakin kaya dengan cara pandang, tapi kita juga penting untuk mempunyai keyakinan sebagai pegangan, begitu ya mbak….

  6. jangan menderkan orang lain, dengarkan hati nurani sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: