Kekerasan Anak bagai Fenomena Gunung Es

ImageSeorang bayi yang belum genap berumur satu bulan, dengan kulitnya yang masih me­merah, terpejam di kasur. Ketika terbangun dan menangis, seorang perempuan muda meng­gendong dan menyusui bayi tersebut. Perempuan itu merupakan korban perkosaan atau kekerasan seksual terhadap anak, yang melahirkan awal bulan ini.

Sebut saja namanya Bunga, 16. Perempuan belia tersebut terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya ketika diketahui sebagai korban perkosaan. Ia mengaku sempat frustrasi dan tidak bisa berpikir apa-apa sebelum akhirnya ditampung di tempat rehabilitasi Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen sejak tiga bulan lalu. Saat ini Bunga putus sekolah dan masih fokus untuk merawat anaknya yang tidak berdosa.

Kisah bunga tersebut hanya potret kecil dari fenomena kekerasan dan diskriminasi kepada anak yang berkonflik dengan hukum. Berdasarkan jumlah kasus yang ditangani APPS, dalam jangka waktu 2005-2011 ada sekitar 147 kasus kekerasan yang melibatkan anak. Antara lain 30 korban kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), 55 korban kasus perkosaan, 59 kasus pencabulan dan tiga korban perdagangan manusia. “Kasus tersebut hanya yang tampak di permukaan saja yang kebetulan berurusan dengan hukum. Di luar itu saya yakin ada lebih banyak lagi kasus yang belum terdeteksi. Ini seperti fenomena gunung es,” jelas Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi, ketika dijumpai Espos di kantornya, Sabtu (21/7).

Dari semua kasus yang ditangani APPS, sebagian besar korban mengalami diskriminasi dalam hak untuk mendapatkan pendidikan. “Korban rata-rata mendapatkan diskriminasi dengan dikeluarkan dari sekolah. Sebagian besar sekolah beralasan karena peraturan sekolah tidak memperbolehkan ada siswanya yang hamil,” jelasnya.

Meski demikian, APPS terus berusaha untuk menekan agar anak korban kekerasan tersebut men­dapatkan hak yang sama dengan anak lain­nya dalam mendapatkan pendidikan. “Korban ka­mi dampingi dan kami komunikasikan dengan pi­hak sekolah agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.”

Berdasarkan konvensi hak-hak anak interna­sio­nal, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kan­dungan. Semua anak mempunyai hak untuk me­dapatkan perlindungan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Berdasarkan itu, APPS memperjuangkan agar tidak boleh ada diskriminasi pada anak korban kekerasan, selain itu masyarakat dan pemerintah pun harus ikut berperan dalam proses rehabilitasi dan refungsionalisasi sosial anak korban kekerasan. “Rehabilitasi dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Itu harus dilakukan karena anak merupakan generasi penerus bangsa, agar tidak ada lost generation,” paparnya.

Selain itu pada perayaan Hari Anak Nasional tahun ini yang jatuh pada Senin (23/7), pemerintah mengharapkan hasil berupa adanya kebijakan daerah untuk meningkatkan akses layanan keagamaan bagi anak, pendidikan dan perlindungan anak, utamanya bagi anak-anak yang kurang beruntung sesuai dengan situasi, kondisi dan kemampuan daerah. “Kami selalu berusaha untuk terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan Sragen sebagai kota yang layak anak, salah satunya dengan APPS, karena selama ini kami memang belum pernah terlibat secara langsung,” jelas Kabid Pemberdayaan Perempuan Pemkab Sragen, Titiek Budi Hastuti.

source: Harian Solopos Edisi Senin, 23 Juli 2012

7 komentar

  1. Di kelurahanku Jebres Solo juga sdh terbentuk PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) Perempuan dan Anak… saat ini tengah membahas SOP (standard operation programme) hal ini jg menjadi bukti bahwa perempuan dan anak memang layak mendapat perlindungan, agar kedepan tidak lagi kita dengar istilah diskriminasi….

  2. Saya kok masih tidak setuju dan mungkin tidak pernah setuju dengan peraturan “siswi yang diperkosa dan hamil harus dikeluarkan dari sekolah”. Saya rasa mereka juga punya hak untuk mengenyam pendidikan. Bahkan untuk siswi yang hamil di luar nikahpun menurut saya layak untuk sekolah. Mereka sudah terpuruk dengan kondisi mereka saat ini, kok negara sepertinya malah memberatkan dengan mengeluarkan mereka dari sekolah. Ah embuhlah daf, kok malah curhat😀

  3. iya ini, tidak di bantu untuk bangkit malah di putuskan hak untuk mengenyam pendidikannya. bagaimana indonesia bisa maju kalau begini

  4. semoga hal ini menjadi kesadaran kita bersama, dan APPS pun dibentuk di banyak daerah

  5. Tina Latief · · Balas

    bunga-bunga…
    kenapa selalu bunga yang dianiaya..

    seperti penyakit, atau tepatnya penyakit yang membutuhkan obat. Masalah seks bebas laki-laki seperti itu sepertinya tidak ada obatnya ketika belum melakukan sebuah penganiayaan [dibaca penyaluran hasrat bukan pada tempatnya], kalau masih lajang bisa disebabkan karena tidak bisa menikah..
    kalau sudah tidak perjaka alias berumah tangga berart ada sesuatu dikeluarganya baik itu ekonomi, kasih sayang dan tempat penyaluran hasrat..
    Tidak salah, hanya ini penyakit yang perlu diobati..

  6. Ikut nyimak Gan….

  7. betul banget…emang bisa melting kalo ditangani dg benar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: