Awas, Gedung Wayang Orang Sriwedari Berhantu

source: wikipedia

Ketika akan menyaksikan pertunjukan wayang orang, dalam benak kita pasti sudah terbayang akan disuguhi pementasan yang apik, dengan gerak tari gemulai, dialog yang berbobot, kostum yang menawan dan para pemain wayang orang yang berparas cantik dan tampan. Tapi apa jadinya ketika kita sedang khusyuk menyaksikan pementasan itu, tiba-tiba ada sesosok makhluk menyeramkan berada di sekitar kita?

Jangan takut, itu bukan penampakan hantu penunggu Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari, melainkan konsep baru pementasan wayang orang. Tren pentas hiburan Indonesia yang seringkali mengusung tema-tema horor , tercermin dari banyaknya film-film lokal yang menjadikan hantu sebagai pemain utamanya. Hal tersebut membuat sutradara pentas Wayang Orang Sriwedari, Sulistianto terinspirasi untuk membuat pementasan wayang orang menjadi lebih menarik.

Sulis menjelaskan bahwa konsep ini dibuat agar menarik perhatian dan meningkatkan minat masyarakat untuk menonton wayang orang. “Saya sudah buat delapan cerita horor, ceritanya ada yang berasal dari lakon wayang yang mati penasaran,” jelasnya dengan antusias ketika ditemui di GWO Sriwedari. Strategi ini juga untuk menunjukkan kepada masyarakat kalau pertunjukkan wayang itu tidak selamanya kaku dan monoton.

Saat ini, setiap pementasan rutin wayang orang, GWO Sridewari yang berkapasitas 500-800an orang tidak pernah dipenuhi penonton. Selalu banyak kursi kosong yang berderet rapi merindukan diduduki penonton wayang. Anggota staf pengelola GWO, Dwi Santoso menjelaskan jumlah pengunjung maksimal yang datang ke GWO hanya seratusan orang. “Ramenya juga tidak setiap malam, hanya pas malam minggu, atau liburan saja,” tuturnya.

Untuk mendongkrak jumlah pengunjung, maka dalam satu bulan sekali lakon horor ini dimainkan. “Nanti tokoh horornya akan mengelilingi ruangan dan mendatangi penonton, agar suasana mencekamnya lebih terasa,” jelas Dwi. Sedangkan untuk keterangan pementasan lakon horor ini memang tidak dicantumkan di jadwal pertunjukan. “Untuk jadwalnya memang sengaja tidak dipublikasikan, agar penonton penasaran dan akan datang ke GWO terus, selain itu juga bisa menjadi kejutan untuk penonton,” jelasnya.

Lakon horor ini sudah berjalan beberapa bulan terakhir, dan selama ini responsnya cukup baik. “Kalau lakon seperti ini, malah anak-anak yang senang,” tutur Dwi. Hal menarik lainnya adalah ketika tokoh horornya dimainkan oleh seniman pria dengan tata rias yang maksimal, membuat keseramannya lebih dari sekadar tokoh hantu yang menggunakan tata rias laiknya kuntilanak. “Kalau yang main tokoh hantunya yang laki-laki, malah banyak pemain wayang lainnya pun ketakutan, dan izin tidak masuk,” jelas Dwi sambil tersenyum.

Memang banyak perubahan yang terjadi terhadap GWO Sriwedari ini sejak Pemerintah Kota Solo memberikan perhatian lebih. Mulai dari penataan ruangan yang lebih bersih dan rapi, serta peningkatan kesejahteraan untuk para pemain wayang. Tapi ternyata hal tersebut belum mampu meningkatkan minat masyarakat terhadap wayang orang secara signifikan. Oleh karena itu berbagai strategi dilakukan oleh pengelola GWO Sriwedari untuk tetap menghidupkan pergelaran warisan leluhur tersebut.

Untuk ikut berpartisipasi menjaga kebudayaan tersebut, maka diharapkan masyarakat memberikan apresiasinya terhadap pertunjukan itu dengan menyaksikan secara langsung pementasan wayang orang Sriwedari. Jadi, selain ikut nguri-nguri kebudayaan jawa, kalau beruntung Anda akan didatangi tokoh seram yang jadi andalan lakon horor Wayang Orang Sriwedari ini.

9 komentar

  1. semoga dengan pementasan unik ini, pagelaran wayang orang bisa tetap ada bajkan selalu dinanti… kalo ke Solo, aku mau nonton juga ah…

  2. nonton yuk *eh

  3. wis suwe ra nonton nang solo kih…ra ngerti njerone GWO saiki koyo opo😀
    iki sing tak tonton nang jakarta -> http://joulecar.web.id/2012/03/kebudayaan-jawa-di-ibu-kota/

  4. wow…. tokoh horornya mendatangi penonton, hihihihi…..

    –>> salam kreatif pak sutradara….

  5. JoSSSSSSSSS. Jdi pengen nontono wayang orang

  6. Pernah sekali lewat pinggir gedung ini ketika acara wayang orang digelar (kelihatan dari luar) saat itu penontonnya masih sudah mulai jarang, sekitar tahun 1991 atau 1992 ya, saya rada lupa

  7. Dunia perwayangan jangan sampai punah dan terkikis oleh keadaan,, hehe,, ayo kita dukung terus dunia perwayangan..🙂

  8. thanks for this nice article, love it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: