Menjelajah Ruang dan Waktu Bersama Gesekan Cello Asep Hidayat

Permainan cello ekspresif dan emosional yang dibawakan Asep Hidayat mampu menghipnotis para penonton yang hadir pada Pentas Cello Solo, di Balai Soedjatmoko, Minggu (12/2). Selain itu para penonton pun diajak untuk bertualang menjelajahi ruang dan waktu melalui komposisi musik yang dipilihnya.

Penonton ikut larut dalam petualangan musik yang dibawakan Asep. Mereka yang sebagian besar anak muda, ikut mengentak-entakan jari tangan, mengangguk-anggukkan kepala, atau sekadar menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri, seiring irama musik yang dihasilkan cellis asal Bandung tersebut.

Dalam petualangan musik malam itu, pertama-tama Asep mengajak penonton untuk ikut ke daratan eropa pada zaman barok. Suara hujan di luar ruangan yang berpadu dengan alunan cello melengkapi suasana sendu ketika komposisi pertama dari Johann Sebastian Bach mengalun di ruangan Balai Soedjatmoko. Saat Suita no 5 karya komposer Jerman itu dimainkan, penonton tampak serius mengamati permainan cello Asep.

Suasana berubah dari yang mulanya sendu, menjadi lebih semangat ketika penonton diajak ke Rusia pada abad ke-20. Komposisi 5 etude for cello karya Dmitry Kabalevsky yang berirama lebih cepat membuat penonton ikut mengangguk-anggukan kepala, dan hujan yang masih turun tersamarkan suara cello yang semangat khas Negeri Beruang Merah itu. Saat menggesek cellonya, tak jarang Asep menghela napas, dan memainkan mimik mukanya.

Kemudian pria yang malam itu menggunakan baju koko berwarna putih tulang, mengajak penonton kembali ke tanah Eropa. Kali ini Inggris yang menjadi tuan rumah ketika komposisi gubahan Benjamin Britten dimainkan. Asep membawakan empat bagian dari Suita no 1 yaitu Canto Primo, Lamento, Canto Secondo, dan Serenata.

Hampir di setiap kali ketika akan mengawali komposisi musik yang dibawakannya, Asep mengelap dan menyetem senar cellonya, serta membenarkan posisi cello dan tempat duduknya. Hal tersebut jelas kentara ketika Asep kembali ke hadapan penonton setelah jeda beberapa menit. Kemudian Asep mengawali sesi ke dua dengan membawakan komposisi Lamentation gubahan komposer dalam negeri, Fahmi Alatas. Pada kali ini, Asep mengajak penonton untuk merasakan suasana penderitaan korban konflik Palestina dan Israel.

Terakhir, dosen pengajar Institut Seni Indonesia, Jogja ini mendaratkan penonton di Negeri Matahari Terbit, dengan komposisi Bunraku karya Toshiru Mayuzumi. Pada komposisi terakhir ini, permainan yang dinamis tercipta dari hasil kolaborasi musik tradisional Jepang Samisen dan musik opera Cina kuno. Asep mengakhiri seluruh penampilannya dengan riuh tepuk tangan penonton, meski hujan di luar belum reda.

7 komentar

  1. Itu fotonya Asep?
    Heran, lampu panggung biasanya remang2, itu bisa flat.

  2. Tina Latief · · Balas

    jadi inget film titanic…
    pemain cellonya seperti itu…hihihi

  3. beruntungnya bisa liat langsung. aku malah belum pernah liat orang main cello secara langsung. pernahnya cuma liat di tv.

  4. tentu asyik sekali menikmati acara ini, hmm… jadi kepengen….

    1. iyaa jadi pengen juga deh bisa dateng ke acara-acara model gitu🙂

  5. jadi pengen denger aslinya.
    selama ini suka permainan celo kelompok ThePianoman, coba check di Youtube, partitur celo untuk 10 orang dimainkan dalam 1 celo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: