Keluh Kesah VS Syukur

ke·luh kesah segala ucapan yg terlahir krn kesusahan (kepedihan dsb); #KBBI

Keluh kesah, mungkin memang menjadi bagian hidup manusia. Sepertinya tak ada manusia yang tidak pernah mengeluh di dunia ini. Jadi memang hal tersebut bisa dianggap wajar. Tapi, kalau menghabiskan hampir sepanjang waktu dengan mengeluh..?

Jujur, saya sering banget merasa sebal kalau ada orang yang ‘dikit-dikit ngeluh’, baik itu di status-status social network-nya, atau secara langsung diucapkan. Bahkan, suara lenguhan nafas yang dalam pun cukup mengganggu. Apalagi yang mengeluh dan bersedih karena cinta, dan menganggap diri sebagai orang yang paling menderita dan tidak beruntung di dunia. Bukan bermaksud melarang orang mengeluh, hanya saja saya heran, bukankah dengan mengeluh itu tidak menyelesaikan apa-apa?

Perasaan sedih dan menderita, sebenarnya bisa dihindari ketika kita tidak mengizinkan hati kita untuk merasakan hal tersebut.

Ya, itu sebuah kalimat yang selalu saya amini dan selalu saya coba untuk diimplementasikan dalam keseharian selama ini, dan hasilnya cukup signifikan. Saya menjadi orang yang tidak pernah berlarut-larut dalam kesedihan.

Ada cara paling ampuh untuk menghindarkan keluh kesah, rasa bersedih dan rasa menderita dalam hidup, yaitu dengan bersyukur. Bersyukur untuk setiap hal dalam hidup ini. Ketika hati dilanda sedih karena kita kehilangan sesuatu, kenapa kita tak bisa bersyukur atas semua yang masih kita miliki? Ketika kita akan mengeluh terhadap sebuah masalah, alangkah baiknya kita bayangkan orang-orang yang menghadapi masalah lebih berat, dan rasa syukur akan terbit dalam hati, dan setelah itu bahagia telah menanti.

Saya jadi ingat sebuah anekdot yang bilang kalau orang Sunda itu apa-apa selalu disyukuri, contohnya ketika mengalami kecelakaan yang menyebabkan cacat, mereka malah mengucap ‘alhamdulillah‘, bersyukur masih tetap hidup. Dan sebenarnya memang hal tersebut yang harus dilakukan, karena dengan bersyukur menyebabkan hidup lebih ringan.

Melihat segala sesuatu dari sisi yang positif, mengimani bahwa Tuhan telah membuat skenario hidup yang sempurna, dan selalu bercermin pada orang-orang yang lebih menderita, akan menjauhkan kita dari perasaan sedih, menderita, dan tidak beruntung. #selfnote

Yakin kalau kamu orang yang paling menderita di dunia?

12 komentar

  1. tapi manusia tidak selalu bisa bersikap positif. kadang keluh kesah dihalalkan, asal dalam dosis yang pas😀

  2. Saya juga pernah tuh lihat foto itu nde salah satu slide show pas seminar… sedih juga jdinya…. salam kenal ya… mampir di blog saya…

  3. Maaf nih nyasar jauh pertanyaannya…,, gimana sih caranya biar postingan terbaru kita bisa tampil di bengawan.org?

  4. mengeluh cukup porsiya aja heheheh
    baguss postiganya bermanfaat….

  5. Johar Manik · · Balas

    Nice post…. .
    Segalanya ada kadarnya, insya Alloh jika mengikuti aturan yang tekah di firmankan, insya Alloh segalanya penuh barokah… .

  6. Manusia itu diuji sesuai dengan kemampuannya.. Jadi tidak pantas kita mengeluh.

  7. Mirip dengan orang Sunda, orang Jawa juga punya bahasa “Untung Mung”. Ketika kecelakaan, “Untung mung lecet”, “Untung mung tugel sikile”.🙂

  8. Irfan Handi · · Balas

    Saya terkadang mengeluh mas, tappi itu karena sesuatu terjadi jauh diluar dugaan saya. tapi setelah membaca artikel ini fikiran saya sedikit terbuka, bahwa masih banyak orang yang jauh lebih menderita daripada saya. Terimakasih telah berbagi.

  9. ummm,,, makasiy yah artikelnya bagus, keep to share GAN

  10. numpang ngebaca, visit back ya?

  11. Sekarang kayak Syahrini tuh, “alhamdulillah yah..”:mrgreen:

  12. bersyukurlah atas semua yang terjadi dalam hidup ini…salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: