Menulis itu…

Menulis itu mencipta karya, dan bisa menjadi maha karya.

Sabtu (7/5) kemarin, saya mengikuti Workshop Menulis Indah yang diadakan oleh Perpustakaan UMS. Sayang, peminatnya cuma sedikit, dari kursi yang disediakan banyak kursi yang tidak terisi, padahal ini acara yang bermanfaat, apalagi pembicaranya adalah GM Balai Pustaka, Mbak Intan Savitri atau yang lebih dikenal dengan nama Izzatul Jannah.

Dari workshop tersebut, banyak ilmu yang didapat, dan saya sendiri menganggap bahwa workshop ini adalah sebuah ‘Obat Pencahar Otak’ yang sudah lama saya cari, karena sebelum-sebelumnya saya merasa otak saya Sembelit, banyak sekali yang ingin dituangkan, tapi tak bisa keluar sama sekali. Dengan Obat Pencahar otak inilah, akhirnya saya jadi kebelet menulis. Ya, karena dengan menulis bisa memberikan kegembiraan dan menghasilkan kelegaan, baik itu kelegaa perasaan, kelegaan pemikiran, kelegaan materi, dan kelegaan jejaring.

Mungkin banyak juga teman-teman yang memiliki masalah yang sama dengan saya tadi, ya ‘Sembelit Otak’. Sering kali ide sudah menumpuk lama sekali di otak, hanya saja tidak bisa dikeluarkan, atau tidak ada saluran keluarnya. Kalau untuk masalah seperti itu, obatnya cuma satu: DIPAKSA KELUAR. ya, mau gak mau kita harus memaksa ide dalam otak kita keluar, bagaimana pun caranya, mungkin bisa dengan diskusi. dan kemudian ditulis. Lalu bagaimana kalau buat orang-orang yang kering ide? Yang ini juga ada solusinya, untuk yang seringkali tidak punya bahan menulis, bisa dimulai dengan menulis hal-hal di bawah ini:

  • diri sendiri atau pengalaman pribadi,
  • mimpi dan atau harapan,
  • pengalaman orang lain,
  • mitos,
  • pengamatan sekilas, atau kepedulian,
  • menanggapi tulisan orang lain,
  • dan mengubah atau meneruskan kisah orang lain.

dari poin-poin di atas, saya lebih tertarik pada ‘pengamatan’. ya, pengamatan atau observasi, akan memaksa kita untuk membuka seluruh indra yang kita miliki, mulai mata, telinga, perasa, pembau, dan bahkan hati kita. Bisa dibilang, saya bukan termasuk orang yang peka terhadap lingkungan sekitar, makanya poin pengamatan bisa jadi tantangan sendiri yang harus saya pecahkan.

Menulis, bisa menjadi dua macam, yaitu menulis fiksi dan menulis non fiksi atau ilmiah. Perbedaannya sudah cukup jelas bukan? Kalau fiksi cenderung tidak ada aturan yang mengikat, meskipun beberapa penulis mengemukakan ada beberapa unsur yang terkandung dalam tulisan fiksi (cerpen/novel), antara lain:

  • Pembuka,
  • Alur,
  • Konflik,
  • Karakter,
  • Ending,
  • Judul

Berbeda dengan tulisan fiksi, tulisan non-fiksi memang sedikit ribet, karena memerlukan banyak persiapan, dan aturan-aturan yang harus dipenuhi, ada beberapa langkah dasar yang harus diikuti dalam menulis tulisan non-fiksi/essay:

  1. Identify the essay topic
  2. Search the literature
  3. Review the literature
  4. Draw up an outline
  5. Organize your information
  6. Develop a list of key arguments
  7. Write the first draft of the essay, including the Body; introdution, and Conclusion,
  8. Compile the refrence list as you go,
  9. Proofread and revise the essay
  10. Polish your writing
  11. Second proofread
  12. Cross-check the in-text citations againts the reference list,
  13. Write the title page,
  14. Write the abstract,
  15. Final proofread
  16. HAND IN on time!

(Burton, 2002. Basic Steps in Essay Writing)

Kalau dilihat sekilas, poin-poin di atas memang sedikit ‘mengerikan’, namun kesemuanya itu ternyata bisa kita pahami dengan mudah, karena menulis non-fiksi ternyata tidak jauh berbeda dengan menghidangkan menu utama.

Langkah-langkah dalam menyajikan hidangan utama, bisa diaplikasikan dalam langkah-langkah menulis juga, antara lain:

  • Berbelanja bahan masakan= mengumpulkan bahan-bahan tulisan yang cocok dan terkait
  • Memotong-motong bahan = menguraikan, memilah sub bab, dan analisis yang sejalan maupun bertentangan.
  • Mencampur bahan dan menambahkan bumbu = membuat sintesis, menambahkan gagasan kita, dan menarik kesimpulan
  • Menyajikan hidangan = finishing touch tulisan kita.

Mudah bukan? 🙂

Selain itu, ada beberapa tips tambahan agar kita tetap produktif menulis, antara lain:

  • Mengelola waktu menulis. Tentukan dan tetapkan waktu khusus untuk menulis, atau pada waktu kapan biasanya kita bisa berkonsentrasi penuh, maka itu harus digunakan untuk menulis. Beri alokasi waktu khusus tiap hari untuk menulis.
  • Wajib menulis, meskipun tidak ada tema yang ingin ditulis, yang pasti tiap hari harus menulis, apa pun itu, yang pasti harus menulis, meski hanya beberapa kalimat.
  • Menetapkan komitmen untuk diri sendiri, agar bisa menghasilkan sebuah tulisan
  • Selalu berfikir kalau Menulis itu Genius, dan niatkan untuk berbagi.
  • Dan yang pasti, harus tetap menulis, walaupun pelan-pelan.. jangan sampai berhenti!

SELAMAT MENULIS!

*disarikan dari materi workshop by Moordiningsih dan Izzatul Jannah

18 komentar

  1. kenapa menulis masih terasa berat ya? padahal sudah aku coba semua itu caranya? Apa karena yang aku tulis adalah skripsi😦

  2. menulis menurut saya itu lebih baik dari sebuah ucapan yang tidak pernah tertuang dalam sebuah tulisan karena dengan adanya tulisan setidaknya kita sudah meninggalkan jejak yang kelak nantinya bisa dibaca oleh orang lain …

    Sebuah catatan atau tulisan bisa membuktikan sebuah eksistensi seseorang dalam menuang ide, cerita atau lainnya.

    Saya sendiri merasakan itu, terkadang walau harus mencuri waktu disela pekerjaan tapi ketika bisa membuat sebuah tulisan rasanya ada nilai kepuasan yang didapat …. apalagi jika sampai main petak umpet dengan atasan hahahaha

  3. (Maaf) izin mengamankan KETIGAX dulu. Boleh, kan?!
    menulis bisa disamakan dengan mebyiapkan masakan, ya?

  4. saya menulis maka saya ada..

  5. assalamu’alaikum Mba Nur…?
    iya ya kegiatan yang sering ada seperti itu kadang sering diacuhkan oleh beberapa mahasiswa…
    padahal itu bagus lho, buat memulai…
    lagi pula menuls bisa menjadikan kontak batin kita jadi terasah, cieeee.

  6. judulnya..persis seperti judul postingan saya berbulan-bulan lalu
    tapi yg ini lebih berisi, penuh tips..
    TFS, salam kenal🙂

  7. Hai salam kenal🙂
    Bener banget,,
    Menulislah,, karena dengan menulis kita mencatat sejarah dalam hidup kita
    Aku malah gak bakat nulis fiksi,, nulisnya berdasarkan non fiksi aja,,
    Lihat,,Dengar,, Rasakan kemudian tuangkan🙂

  8. menulis bagi saya adalah sebagai salah satu sarana curhat dan menumpahkan ide-ide di otak😳

  9. kelemahan saya dalam menulis adalah bahasa saya masih kaku😦

  10. Akhirnya update lagi!😀

  11. Mudah sekali, asalkan setiap kejadian kita tulis…. Sehingga akan terbiasa menulis. Salam kenal

  12. menulis itu indah
    seindah menjalin persahabatan di blog ini
    salam sukses/…

    sedj

  13. wow…. istilahnya keren juga ya… sembelit otak….

    seperti saya juga, udah mau nulis agi tapi belum dapat ide

  14. itu perrsis seperti di tempat kami, ada pelatihan menulis tapi mahasiswanya sedikit sekali yang berminat

  15. Saya punya jurus yang jitu juga. Hanya dua cara saja, yaitu: MENULIS & MEMBACA [TITIK!]

  16. Sindhu · · Balas

    Menulis tanpa membaca: Buta.
    Membaca tanpa menulis: Pincang.

    Salam kenal.
    http://0sprey.wordpress.com
    😀

  17. Menulis itu kesenangan yang terpendam🙂

  18. wew, ternyata banyak bener aturannya.

    ah, biarkan saja jari ini menari dengan bebas tanpa beban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: