Keranjang Belanja

Ada sesuatu yang menarik yang ingin saya ceritakan tentang keranjang belanja, hampir setiap orang yang pernah berbelanja, pasti mengerti tentang benda ini.

Sebenarnya yang ingin saya ceritakan disini, bukan tentang keranjang belanjanya itu sendiri, melainkan tentang isinya. Beberapa hari yang lalu (tepatnya awal bulan, biasa.. heboh-hebohnya belanja kan pas saat itu), saya memang berniat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di mini market dekat kos saya. Kemudian tanpa diduga saya bertemu dengan teman saya, dan dia sedang berbelanja juga, dengan menggunakan keranjang belanja. Kemudian semuanya berawal dari sini, saya iseng saja liat keranjang belanjaannya, ingin tau sebenarnya dia belanja apa, dan begitu pula sebaliknya, dia melihat-lihat isi keranjang belanjaan saya.

“Kalau dulu, keranjang belanjaan ini isinya cuma penuh dengan makanan saja.” – temanku.

Isinya macam-macam, mulai dari sabun mandi, pasta gigi, deterjen, dan peralatan sehari-hari lainnya, tapi ada satu hal yang cukup menggelitik, ada beberapa kosmetik disana, mulai dari lipgloss, eyeliner, maskara, sampai penjepit bulu mata yang saya pun tidak tau bagaimana cara memakainya. Hai! Apa yang aneh dari situ? Mungkin untuk sebagian orang (apalagi perempuan dewasa), item-item tersebut tidak aneh, malah biasa. Tetapi, jika dibandingkan dengan saya dan teman saya (yang dari dulu emang rada cuek masalah penampilan), hal tersebut benar-benar luar biasa. Bisa dibilang progres, atau apa ya? Yang pasti, sepertinya faktor usia benar-benar memengaruhi semuanya.

Sekarang sudah mulai berpikir jangka panjang tentang masa depan, baik itu kerjaan, pasangan, dan lain sebagainya, termasuk penampilan. Tapi seringkali dipikir-pikir, kita itu kecepetan atau malah terlambat untuk memulai proses ini..? Terlalu cepat, soalnya kita (sebenarnya saya saja) yang menganggap sebenarnya itu semua belum perlu, toh saya belum punya suami, atau kerjaan yang menuntut untuk berdandan, tapi kadang mikir terlambat jika dibandingkan dengan anak SMA zaman sekarang yang sudah akrab dengan peralatan kosmetik. Setidaknya, sekarang sudah mulai ada keinginan untuk dandan dan merawat diri, ya meskipun dibalik itu semua ada niat terselubung, saya tidak peduli, yang pasti saya dan teman saya itu mulai menikmatinya, atau bahasa kerennya bisa dibilang ‘belajar’.

Pertemuan di mini market malam itu berakhir dengan kalimat, “Semoga cepet ada yang nikah, biar kita bisa bereksperimen pake make up ini.”😀

Sekarang pertanyaannya: sebenarnya waktu yang pas bagi cewek untuk merawat diri itu kapan sih? Ada yang bisa jawab pertanyaan ini?

didedikasikan untuk inem

8 komentar

  1. kalian saling mendandani aja,

    sari ndandani kowe, kowe ndandani sari. kan sama2 belajar.. hehehe

    1. wehh.. keenakan si sari sing dadi ayu nuu.. :p

  2. Mas Boy Rohmat · · Balas

    Yang biasa-biasa saja dech, udah cantik kog. Aku suka yang alami saja.
    Kalau menurutku, waktu yang pas bagi cewek untuk merawat diri itu sejak mempunyai suami, jadi suami termanjakan😆.
    :opps:

    1. wahh.. sip deh mas boy,
      emang kalo yang berlebihan juga malah gak enak dipandang, kaya’ tante-tante ntar.. iya kan..?😀

      sipp.. seharusnya perempuan hanya berrias untuk suaminya..🙂

  3. akupun merasakan hal yg sama nden….
    perubahan yg tak disadari datang dengan sendirinya.. *halah

    1. curcol kie ceritane?
      hahaha :))

  4. joe_hardz · · Balas

    mulai belajar tu harus mulai agar dapat membedakan antara tepung terigu dan bedak…………..

  5. mbayangke yen nenden dandan…hmmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: