Dilematika Mahasiswa dan Demokrasi

demo

“Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota… bersatu padu rebut demokrasi. Gegap gempita dalam satu suara demi tugas suci yang mulia. Hari-hari esok adalah milik kita, terciptanya masyarakat sejahtera. Terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa ORBA. Marilah kawan mari kita nyanyikan Sebuah lagu tentang pembebasan…”

Apa yang pertama terlintas ketika mendengar kata demonstrasi? Sebagian besar dari kita pasti akan menjawab “Mahasiswa“.

Saya rasa Gerakan Reformasi 98 dan keberhasilan penggulingan Orde Baru merupakan hasil kerja keras para mahasiswa yang dengan rela hati turun ke jalan, menyampaikan aspirasinya dan selalu meneriakkan perubahan. Setelah kejadian tersebut, mahasiswa akhirnya selalu identik dengan demo atau aksi turun ke jalan. Selain itu, mahasiswa menjadi elemen masyarakat yang paling ditakuti oleh pemerintah, karena “mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan”. Betapa hebatnya kekuatan mahasiswa, hingga bisa menumbangkan sebuah rezim yang telah bercokol di Indonesia selama 32 tahun, dan itu merupakan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. *setidaknya itu bayangan yang kutangkap ketika berumur 8 tahun*

Lalu bagaimana dengan sekarang?

Setelah 12 tahun berlalu, ternyata belum ada kekuatan dari gelombang mahasiswa yang mampu menyaingi Gerakan Reformasi 98 baik itu di Solo Raya, maupun Indonesia. Menyoroti  fenomena di Solo Raya, dan khususnya di kampus UMSku yang tercinta saat ini gerakan mahasiswanya bisa dibilang –mohon maaf- ‘mandul’. Baik dari Badan Eksekutifnya maupun dari Organisasi Pergerakan lainnya. Masih belum kita dengar sebuah aksi yang benar-benar WAH! Bahkan dibeberapa momen penting pun sering terlewat. Sebenarnya siapa yang salah? Memang, kita tidak bisa serta merta menyalahkan Badan atau organisasinya, karena saya yakin dari dalam organisasi tersebut sebenarnya ada Visi atau Misi untuk menyuarakan aspirasi dan demokrasi, tapi mungkin yang kurang hanya dari ketepatan aksinya.

Salah satu faktor yang bisa membuat sebuah aksi turun ke jalan bisa dibilang sukses adalah jumlah massa yang ikut andil di dalamnya. Dan target utama dari massa aksi tentunya adalah mahasiswa, yang didaulat sebagai agent of change. Tapi sungguh ironis bila melihat mahasiswa zaman sekarang, tampaknya mereka sudah mulai antipati pada hal-hal seperti itu. Buktinya beberapa waktu yang lalu ada sebuah aksi yang digelar di depan kampus UMS, sungguh miris ketika melihat jumlah massa yang ikut aksi tersebut hanya berkisar belasan orang saja. Padahal sebelum aksi dimulai sudah ada usaha penggalangan massa dengan orasi keliling kampus. Tapi sayang, tak ada mahasiswa yang tertarik untuk bergabung terhadap aksi tersebut, bahkan ketika diperhatikan yang ada hanyalah gumaman dan tatapan ‘aneh’ yang mengisyaratkan ‘nggak ada kerjaan aja ikut demo’.

Karena saya penasaran dengan fenomena tersebut, maka dengan sengaja saya lempar sebuah pertanyaan di Wall Facebook salah satu temanku yang kebetulan merupakan ketua salah satu organisasi mahasiswa, “Ketua ‘salah satu organisasi mahasiswa’ koq tadi nggak ikut aksi di depan kampus?”. Tak disangka, ternyata respon yang masuk dari pertanyaan itu banyak juga, dari banyak orang pula, salah satunya ada yang bilang: “wah.. emang dengan demo bisa bikin Indonesia jadi lebih baik?”, “lagi pula, mahasiswa itu ngapain, nilai jelek-jelek mau ikut mengubah Indonesia? Seharusnya perbaiki diri sendiri dulu”, “Tugas mahasiswa sekarang tuh nyari ilmu yang banyak,belajar yang rajin,  setelah lulus, nilai bagus, masuk ke sistem pemerintahan, baru ubah sistem yang amburadul di Indonesia”, dan pernyataan lainnya yang senada.

Dari penyataan-pernyataan di atas, saya berfikir kembali, ya pernyataan itu benar dan tidak bisa disalahkan, tugas mahasiswa pada dasarnya memang untuk menuntut ilmu, lagipula seringkali miris melihat para aktivis-aktivis kampus bergelar MA (Mahasiswa Abadi), apa kata orang-orang jika mahasiswanya saja susah lulus, mau jadi apa nanti di masyarakat? Tapi, di sisi lain siapa juga yang akan meneriakkan demokrasi dan menyuarakan aspirasi jika bukan mahasiswa? Kita masih butuh mahasiswa-mahasiswa yang kritis, responsif terhadap perkembangan Indonesia.

Pada akhirnya saya simpulkan, tak ada yang salah menjadi seorang aktivis atau akademis, jadilah aktivis yang kritis, atau jadilah akademis yang berprestasi, atau lebih baik lagi menjadi seorang aktivis dan akademis, jadi mahasiswa yang mampu mengawinkan dan menyeimbangkan antara keduanya itu. Dari itu semua tak ada pilihan yang salah, yang salah adalah menjadi mahasiswa yang apatis dan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri, hedonis, tak memiliki sedikit pun kepedulian terhadap pendidikan dan negara, *dan sepertinya yang ini benar-benar banyak saat ini*.

Ya, apa pun pilihannya, tetap satukan tekad untuk perubahan ke arah yang lebih baik. HIDUP MAHASISWA!!!

22 komentar

  1. Kalo saya sebagai mahasiswa.. lebih milih belajar sajalah.. memperbaiki diri kita dulu… ^^ *Piss*

    1. sepakat..sepakat…
      tak ada yang salah dengan pilihan itu,
      asal jangan jadi mahasiswa asal-asalan..🙂

  2. Hidup Mahasiswa,,,

    aq setuju ma pendapatnya mbak Nenden..hehhhe🙂

    1. pendapat yang mana?
      banyak lho pendapatku di atas.

      1. hahha,, pokoknya pendapat yg itu,,
        ikut turun ke jalan klu judulnya ikut-ikutan juga g bgus,, trus klu diem aja di kos belajar gak, aktivis juga gak malah lebih g bagus…
        ya seperti itulah…..
        hehhe…..

  3. menurutku demonstrasi itu sekedar media menyalurkan aspiri. tapi menurutku sekarang ini malah keblabasan dan sudah tidak mewakili aspirasi mahasiswa (ada yang menunggangi) sehingga ujung-ujungnya dari demo cuma sekedar liputan di tv malah kurang mengena. mending sebagai seorang yang intelek bisa menyalurkan melalui media 2.0 (web, blog, jejaring sosial).

    Saya juga setuju jika kita memperbaiki aklak dan intelek kita dulu. Bukannya gajah dipelupuk mata kita sendiri tidak tampak?? kenapa kita mencari kuman di orang lain. Sehingga kelak kita memimpin mempunyai sikap yang tidak sama dengan kondisi saat ini..
    hehehe.. maaf tarlalu banyak ngoceh.. *lanjut nggoreng ikan*

    1. wow,, akhirnya kecepatan mengetikku 48 words perminutes.. hehehe

      48 wordsSpeed test

      1. wahh.. mesti tak kejar kamu mas!
        next: 50 words/minute
        hahaa

  4. Mahasiswa memang harus bergerak..
    karena mahasiswa adalah roda putaran perubahan..
    hanya saja aksi dan anarkisasi yang dilakukan hanya tepat pada saat pemerintahan di indonesia ada pada zaman otoriter, rezim yang berkuasa..
    tapi kalau sekarang zaman sudah berbeda..
    kita aksi bahkan sampai mengepung istana pun.. belum menunjukan hasil yang positif..
    kita memang harus bergerak,,, tapi bukan dengan cara itu..
    kita cari cara lain untuk menyuarakan aspirasi kita..
    HIDUP MAHASISWA..

    1. SEMANGAT!
      yang pasti jangan cuma jadi mahasiswa Kupu2..

  5. kalau kamu cuma berpikir jadi mahasiswa itu belajar..dan belajar…tanpa mau tau kepentingan bangsa, trus opo bedanya kamu sama anak SMA, mahasiswa adalah agen perubahan, jalankan tridharma perguruan tinggi. Demo adalah cara terakhir yang harus ditempuh untuk menyampaikaan aspirasi. di tahun ’98 bukan hanya mahasiswa yang bergerak, anak2 SMA pun yang bersatu dalam OSIS dan PRM juga maju. kalau dulu musuh mahasiswa adalah 1 yaitu soeharto, sekarang mahasiswa tidak punya musuh. demo mahasiswa sekarang memalukan, hanya mengedepankan anarkis (kapan terakhir demo tanpa anarkis, hanya PKS dan HTI yang bisa). kalau kamu masih kuliah dan cuma kenal kampus-kos-kantin balik SMA aja.

    1. koq ‘kamu’ sih? serasa mendakwa diriku saja,
      aku kan gak gitu mas.. haahaha,

  6. yang penting kata Made In China harus hilang dari bumi pertiwi ini.. ¤Lhoh, gak nyambung..¤

    Kalau saya jadi mahasiswa yang dipikir ya LaPen, LaSem, & LapRes..
    xuxu,.,

  7. demo boleh, asal gak usah ngajak temen mogok belajar

  8. belum bisa diatas 49 words/minutes.. selalu berkutat di 48.. Terpaksa latihan ngetik lagi dengan software typing master

  9. Iya..kalo bisa belajar diutamakan biar cepet lulus..kasihan ama orang tua yang susah-susah cari uang buat biaya kuliah..😐

  10. tp beberapa (baca: banyak) mahasiswa skrg lebih sering “berdemokrasi” ke “mal, pusat perbelajaan dan media hedonis” lainnya😀

  11. btw OOT dikit, nih theme nya “jeruk” banget gt🙂

  12. hidup mahasiswa! sampe sekarang pun saya belum pernah ikutan demo… males…😀

    Oiya, selamat mba Nenden tak kasih award, silahkan ambil di http://masiqbal.net/anugerah-terhormat-top-blogger-2010-dan-beautiful-blogger-award.php

  13. hidup mantan mahasiswa !!!

  14. Oh, tidak Gagal Pertamax ane Gan…..

  15. Kalo demo buat gagah-gagahan, jelas banyak yang ga suka. Tapi kalo ga setuju demo cuma gara-gara takut dibilang kurang gagah dari yang suka demo buat gagah-gagahan, jelas ini gagah-gagahan yang mandul.

    Kalo tak ingin dianggap sok gagah-gagahan, ga usah bilang orang lain tidak lebih gagah, hanya karena, sekali lagi, takut dianggap kalah gagah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: