13 untuk Angga

13. Yap, angka yang sering dianggap sebagai angka sial. tapi berbeda mungkin untuk adik laki-lakiku. Agnan Lengganagara (Angga; Aga), bisa jadi menganggap angka tersebut sebagai  angka keberuntungan, karena dia lahir pada tanggal itu. yaa..setidaknya anggapan tersebut bisa dia camkan sampai 14 tahun ke belakang. Kenapa? karena pada usianya yang genap menginjak angka 15 tahun di tahun ini, dia malah menghabiskan harinya dengan kesedihan. Tanggal 13 Juli 2009 ini, merupakan hari pertamanya mondok (tinggal dan sekolah di pondok pesantren). Mungkin karena sebelumnya belum pernah mondok, dan sekalinya mondok langsung dilempar jauh ke Solo ini, jadinya dia agak shock, dan menyebabkan kemarin waktu aku, mama, dan bibiku datang mengunjunginya, dia cuma menangis dan ingin pulang ke Cianjur saja. Ya menyakitkan waktu melihat dia, kasihan sekali… alasannya sih karena dia nggak ngerti apa yang dibicarain teman-temannya, soalnya dia emang belum bisa bahasa Jawa, jadinya dia ngerasa sendirian gak ada yang menemani. Sebenarnya kejadiannya sama seperti diriku waktu pertamakali pindah ke Solo ini. Oleh karena itu, aku tetap meyakinkan mama kalau Angga begitu cuma sebentar saja, sampai tahap adaptasinya selesai. Karena sebelumnya mama sempat goyah dan hampir berpikiran untuk mengeluarkan Angga dari situ. Karena aku agak memaksa mama untuk melepaskan Angga, dan membiarkan saja dia seperti itu, mama bilang kalo Angga dan Aku itu beda, dia menyebutkan kalau aku emang udah dari dulunya mandiri, dan Angga emang belum pernah ditinggal seperti itu meskipun dia anak laki-laki paling tua.

Banyak pertanyaan, kenapa Angga gak disekolahin di Cianjur saja. Mama  punya alasan kuat untu itu. Angga, sebagai anak laki-laki, sekaligus laki-laki paling tua dirumah, punya tanggung jawab besar yang nantinya harus bisa menjadi pengganti Bapak yang udah tiada, ya sebenarnya aku pun sebagai anak pertama benar-benar punya beban yang berat pula karena harus bisa menjadi pengganti ibu nanti, dan mendidikku adik-adikku. Pemilihan pondok pesantren dikarenakan mama tidak mau, anak laki-lakinya tersebut terjerumus menjadi anak nakal karena kurang bimbingan dari sosok ayah yang seharusnya bisa dicontoh. Selain itu, keseimbangan pendidikan ilmu dunia dan akhirat sangat penting. Lalu, kenapa harus SOLO? bukannya di Cianjur atau daerah Jawa Barat juga banyak pondok pesantren? Nah, untuk pertanyaan satu ini, mama bilang kalau itu permintaanya Angga sendiri, agar bisa didekatku. Yahh..apa pun alasannya Angga, hal tersebut mengungkapkan kalau Angga memang percaya dan menggantungkan harapannya padaku.

Kejadian kemarin siang di Pondok itu, cukup membuatku pilu ketika melihat `penderitaan` Angga, dan usaha mama yang benar-benar ingin membuat Angga menjadi anak yang baik saling bertubrukan. Tapi mudah-mudahan, yang dipilih  ini menjadi yang terbaik bagi semuanya. Yaa, Angga.. memang awalnya kamu mungkin akan merasa tersiksa di pondok, tapi yakinlah, lama kelamaan pasti bakal menyenangkan dan kamu bakal dapat hikmahnya.. dan ingat, itu semua demi masa depanmu.. Mama sayang padamu ga! Teteh doakan supaya Aga cepat betah di pondok sana, segera hapus air matamu, coba pandang masa depan, dan nikmati masa-masa di pondok yang akan segera menjadi indah.. SEMANGAT!!🙂

12 komentar

  1. pertamax…..
    sering2 ajak kopdar wae…nanti juga betah…

  2. halo nden !
    pengalaman adikmu koyo aku 11 tahun yang lalu,
    hari pertama masuk asrama (tingkat SMU) yang nangis,
    saiki, aku ora menyesal, temen2 banyak banget, dari mana-mana,
    belajar banyak budaya,
    ditemenin dulu di awal2, …

    salam

  3. tiga belas emg gak selalu membawa sial…..contohnya beta bulan kemaren jg dapet gaji 13….he..he….🙂

  4. jadi ingat masa lalu…..
    info yang menarik, trim’s

  5. Sebenarnya masuk pondok itu bukan jaminan kalo kelakuannya bakalan bagus lho ya, itu semua tergantung pribadi masing2. Kamu sering2 aja njengukin adikmu. Jangan lupa bawa makanan kalo pas lg njenguk. :p

  6. EMang dipondokke neng ndi?? Assalam to?
    Yen di assalam sepengetahuanku malah banyak dari luar. Bahkan dari sabang sampai merakue (ngomonge bapak guru disitu).
    Baru sekali ditinggal jauh orang tua ya emang gitu. Apalagi belum pernah jauh dari orang tua. Kamu tu harus sering2 jenguk. Biar dia terbiasa dulu..

  7. ouw based on true story ya>>>…hem saya juga sebnarnya ada sedikit keinginan mondok dulu, tapi baru terasa sekarang keinginan itu begitu kuat,,,,sayanmg yah

  8. Aduh jauh sekali, Tetapi sangat bagus agar Angga belajar mandiri di usia dini, Semoga dia menjadi anak yang tegar, kuat, Sholeh, memang pilihan tepat di usia belasan seperti itu kalau gak diarahkan bisa salah langkah, seperti anak-anak muda jaman sekarang wah puyeng, aku ponakan yang nakal minta ampun, Mamanya gak mau nitipin dia di pondok

  9. dadi kelingan mben pas aku awal-awal nak asssalam nden. jan koyo anak ucul kae. bendak bar ashar mesti nangis nak samping mesjid. kangen karo wong tuo. tapi yo pas awal-awal tok, bar wes jalan yo.. ora.

    sering-sering didampingi pas awal, tapi soyo suwe di tinggal. ben luweh mandiri. lagian emang adimu nak pondok ndi, mosok ra ono sek nggo boso indonesia? kurang konco paling….

  10. adityahadi · · Balas

    hee … tetep semangat !!! Buat orange n dedeknya y…

    saya juga pertama kali suka ngerasa kesepian, smuanya tergantung kita sendiri, klo kita mw berubah …insya Allah bisa. tetep kabarin soal dedeknya yahh … ^^

  11. ciko pny jojo · · Balas

    q jg dr SD sll dpt nomor urut 13 bahkan mpe kuliah pny nim yg blknge 13. tp its oklah…..qt sm2 anak ptma cew pula….jgn jadikan bban walau sebenarenya q jg beban bgtz nich………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: