Di mana(kah) Tuhan?*

Sebuah pertanyaan yang cukup menghenyak, atau bahkan merupakan sebuah pertanyaan yang mudah dijawab. Pertanyaan itu muncul dan cukup membuat aku berpikir dua kali beberapa hari terakhir ini.

Berawal dengan pertemuan yang tidak disengaja di kantor LPM Pabelan (selanjutnya disebut kantor), seorang laki-laki datang ke kantor dan mungkin memang ditakdirkan untuk bertemu denganku.

Setelah menjelaskan tujuannya datang ke kantor untuk mempelajari dunia jurnalistik, pada saat itu kami belum sempat ngobrol banyak karena aku harus membuka sebuah acara kunjungan dari salah satu gerakan mahasiswa islam, oleh karena akhirnya kita saling bertukar no HP.

Dengan semangat 45, aku tetap menerima tawarannya untuk berdiskusi tentang dunia jurnalistik, soalnya aku pikir dia bisa menjadi salah satu anggota LPM Pabelan yang baru.

Karena kesibukanku yang cukup padat, menyebabkan jadwal diskusi kami selalu tertunda, sampai akhirnya di hari sabtu, ketika aku lembur malamnya dan belum sempat mandi sampai pukul 8.30an pagi, tiba-tiba ada seseorang datang mencariku, dan ternyata itu dia.

Dengan terpaksa karena telah datang, maka langsung aku temui saja dirinya. Awalnya diskusi kami memang hangat menbicarakan tentang topik dunia jurnalistik, walaupun sebenarnya aku pun masih belum paham dan mengerti tentang itu, tapi aku mencoba untuk tetap menanggapi setiap pertanyaan-pertanyaannya.

Sampai pada akhirnya tempat diskusi kami harus pindah ke luar kantor, karena kantor sudah mulai ramai dengan para calon peserta seminar.

Mulai dari sana, arah diskusi kami mulai melenceng, bukan hanya masalah dunia jurnalistik, tetapi sampai pada topik dan pertanyaan-pertanyaan ‘berbahaya’ yang dia lontarkan.

Pada awalnya dia bertanya ‘agama mbak apa?’, mulai dari situ perasaanku sudah tidak enak, aku tahu ini merupakan sebuah pertanyaan jebakan, karena tidak mungkin seseorang bertanya agamaku apa setelah jelas-jelas dia melihat aku mengenakan kerudung.

Karena aku tidak ingin terjebak dengan pertanyaannya itu, maka aku jawab ‘tergantung, dari perspektif mana dulu agama itu dilihat’. Dan aku mulai menjelaskan panjang lebar sampai pada akhirnya aku tidak mengiyakan agamaku islam, tetapi aku berdalih dengan jawaban ‘islam itu dien, bukan agama’.

Ketika aku balik bertanya apa agamanya, dia dengan lantang langsung menjawab Atheis. What?! Sempat kaget pada awalnya, tapi aku mulai mencoba mengendalikan diri dan mencari tau kenapa dia bisa menyebut dirinya atheis.

Dengan panjang lebar tapi eksplisit, dia bercerita bahwa dia sedang mencari tuhan yang sebenarnya, dia tidak mau terus didikte oleh orang-orang yang menyuruh dia dengan banyak aturan, dan mengatasnamakan perintah tuhan.

Hhhh…aku cukup banyak menghela nafas, aku harus sabar, tapi aku takut karena dasar agamaku saja masih belum cukup kuat. Aku sudah tau bahwa dia mengeluarkan pernyataan-pernyataan para tokoh atheis dulu yang kurang lebih menyebutkan bahwa Tuhan itu merupakan sebuah hasil dari pemikiran manusia yang diciptakan agar ada sesuatu yang dapat ‘mengendalikan’ manusia dan membuat manusia hidup dalam sebuah aturan.

Dengan banyak alasan dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang cukup menyudutkan aku dan tuhanku itu, menyebabkan aku sempat berpikir bahwa semua yang dikatakannya itu cukup masuk akal, bahkan entah kenapa sempat ada pikiran aku untuk mengamini bahwa tuhan itu tidak ada, astaghfirullah…

(to be continue)

19 komentar

  1. Kalo ada keinginan membela, membunuh, menghakimi, bahkan mengingkari Tuhan, ada beberapa kesalahan di dalamnya.
    1. Tuhan jelas realitas yang tak bisa dijangkau oleh apa pun. Namanya juga Maha. Bila ia bisa dikriteriakan, termasuk menyebutnya dengan kata ‘Tuhan’ atau ‘Tidak Bertuhan’ atau ‘Gusti’ atau ‘tempe penyet’, tidak akan mewakili realitas Tuhan yang sesungguhnya. Jadi, realitas Tuhan yang ‘dipersoalkan’ adalah kesalahan berpikir. Karena itu tidak logis.
    2. Sewaktu ada pernyataan ‘Tuhan Tidak Ada’ (there is no god-lagunya Extreme, pelantun More Than Words), Tuhan telah mati, Tuhan telah gagal, ada bentukan realitas baru untuk menggantikan Tuhan yang dipahami pada umumnya. Jadi sebenarnya, Tuhan yang ditiadakan adalah bentuk ‘kriteria Tuhan yang Baru’. Karena, seseorang yang meniadakan Tuhan akan mencari pengganti, berupa eksistensi ‘ketuhanan’ yang lain. Intinya, cuma beda nama aja.

    Nenden, rasionalisasi terhadap Tuhan sebenarnya adalah sebentuk kerinduan yang sangat atas eksistensi Tuhan. Banyak cara diekspresikan. Dan untuk keseriusan itu, hanya Tuhan yang tau konsekuensinya. Jadi, kayanya si Cowo cuma butuh temen ngobrol aja. Kali aja dia pengen tau web, tapi malu-malu. Wakakak!!

    Take care.

  2. Oia, buat judulnya direvisi, ya. Bukan Dimana Tuhan, tapi Di Mana(kah) Tuhan? (Reporter Pabelan Pos gitu lobh!!)

  3. ternyata ada juga orang atheis di INDONESIA ini, padahal kan di KTP-nya ada tulisan AGAMA, selama ini ditulis APA YAH?????

    eling lagune UNGU……

  4. tidar99 · · Balas

    ptanyaan yg sama pernah saya temui dan saya jawab “Aku Tuhan”…lalu yg bertanya jadi pusing
    so daripada kita dibikin pusing orang lain mending kita bikan pusing aja orang tersebut hehehe..so
    sblm bertanya dimana Tuhan,tanyalah dulu pada diri sendiri,siapa saya?
    lam nal ya..:)

  5. Tak save disik, tak baca dirumah, internet mahal.

  6. dimana ya?

  7. Mbak NEnden, mungkin temennya tersebut bisa bertanya kepada Richard Stephen Gosal, seorang mantan atheis dan aktivis kIRI..

  8. ………..Aku jauh, engkau jauh. Aku dekat, engkau dekat……….

    Penggalan lirik lagu milik Bimbo sepertinya menjawab sebagian dari pertanyaan kita tentang dimana Tuhan.
    Kita memang membutuhkan cahaya keTuhanan saat kita dalam ketakutan dan butuh perlindungan.

    Meski eksistensi ketuhanan bisa didekati dengan ilmu biologi yang akan sanggup mengantar kita menyusuri zygot, sel, kromosom sampai cetak biru berupa DNA, ataupun didekati dengan ilmu fisika yang akan membuat kita tahu bahwa bumi ini hanyalah noktah kecil di jagadraya ataupun didekati dengan ilmu komputer yang akan membuat kita sadar bahwa untuk menandingi otak kita dibutuhkan perangkat seberat 2 ton………jalan terbaik untuk mendekatinya tentu dengan metafisika, dengan matahati.
    Tak salah kiranya para resi, begawan dan rosululloh [awalnya] memilih tempat sepi dan menyendiri untuk bisa “berdialog” dengan Tuhan.

  9. jangan takut dong berbicara tentang TUHAN mbak Nenden, mosok dianggap berbahaya ?
    semoga pertemuan dengan tu cowok membuat mbak Nenden juga ikut bermenung, mempergunakan rahmat akal budi untuk memberi pertanggungjawaban rasional tentang TUHAN.
    salam

  10. Tuhan ada di surga?? hmmm..

  11. Dimana(kah) Tuhan ?*

    simple aja…di hati🙂

  12. (setelah baca dirumah) Pengalaman saya juga sama, sampe sekarang saya 4 kali kenal sama orang atheis, mereka cenderung kritis dan apa yang dia katakan selalu dikaitkan dengan realitas, mereka kurang mempercayai keajaiban, gaib, bahkan mukjizat sekalipun, memang keajaiban bukan hal yang pantas untuk di dakwahkan, tetapi bagi saya yang memang belum begitu pintar beragama, tidak ada satupun manusia yang bisa membuat Kitab se jenius Al Quran, itu sudah cukup membuat saya yakin jika Islam itu benar dan belum berubah..dan saya yakin Islam itu benar-benar agama dari Tuhan, agama yang dari sebuah Wahyu, saya sakin sekali itu…

  13. Tuhan Ada didalam hati kita masing (bagi mereka yang beriman)

  14. Tuhan itu ada dimana-mana… Ada dihati… Wahn ini sih kelas atas pertanyaanya…

  15. dimana-mana…

  16. @Arif Giyanto
    Hehehe…Tuhanmu mesti tempat penyet. kalau iya, berarti podho mas. hehehehe…

    @Nenden
    Dimanakah Tuhan?

    Ada banyak jawaban dari satu pertanyaan tersebut.

    1. Tuhan ada diatas langit. (berarti pada saat yang sama tidak ada di bumi)
    2. Tuhan bersemayam di Arsy-Nya. (Tuhan di Arsy-Nya itu lagi tidur atau nonton TV yach?)
    3. Tuhan ada dimana-mana (bahkan mungkin di dalam sepatu)
    4. Tuhan bersama orang-orang yang hancur hatinya. (ini nih hadits Qudsi)
    5. Pertanyaan tersebut jangan dijawab. Karena pertanyaan itu salah. Tuhanlah yang menciptakan “dimana”. Maka tidak mungkin Tuhan terikat oleh “dimana”.

  17. jadi tu orang nggak mau diatur, tanya aja mbak dia dulu kuliah nggak? kenapa mau diatur dosen, atau dia kerja nggak? kenapa mau diatur bosnya
    he he piss man

  18. yang jelas saya percaya kalau Allah itu ada, Dia mengatur segalanya..semua makhluk yang ada di semesta ini membutuhkanNya sedangkan Ia tidak membutuhkan kita.
    Berpikirlah dengan jernih wahai saudariku…jangan sampai terpeleset pada logika-logika terbatas manusia…
    Bahkan nabi Ibrahim pun mendapat jawaban akan ke-esa-an Allah, karena ia mencari jawaban itu dengan jujur dan pasrah..
    siapa yang mencari, dia akan menemukan…
    semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: