Kurikulum Liberal Arts; Tawaran Menarik bagi Pendidikan Indonesia

Pada saat ini, orientasi dari lulusan perguruan tinggi kebanyakan adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi perguruan tinggi untuk mempersiapkan setiap lulusannya agar dapat diterima di dunia kerja.

Untuk itu penentuan kurikulum yang diterapkan pada sebuah perguruan tinggi ikut andil dalam menciptakan kualitas lulusan, dan salah satu tawaran menarik untuk menjawab tantangan di atas adalah Kurikulum Liberal Arts.

Pengertian Liberal Arts
Istilah Liberal Arts berasal dari kata artes liberales yang sering digunakan di Eropa pada abad pertengahan. Ini bukan berarti sama dengan ‘seni’ yang dipahami pada zaman sekarang, namun lebih mengacu pada cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah pada waktu itu.

Hal ini disebut liberal (Latin: liber, bebas), karena mereka ditujukan untuk melatih kecerdasan dari orang bebas, sebagai anti tesis dari artes illiberales, yang digunakan untuk kepentingan ekonomi. Liberal Arts bukan digunakan untuk mencari nafkah, namun untuk mempelajari sains. Biasanya kurikulum liberal arts merupakan kombinasi antara filsafat dan teologi yang disebut juga sebagai skolastikisme.

Cabang ilmu yang dipelajari liberal arts ada tujuh dan dapat diklasifikasi menjadi dua grup terpisah. Grup pertama adalah mempelajari tata bahasa, retorika, dan logika atau dialektika. Dengan kata lain, grup pertama biasa disebut sebagai kajian bahasa atau artes sermocinales.

Grup kedua terdiri atas aritmatika, geometri, astronomi, dan musik. Sering juga disebut sebagai disiplin matematika-fisika atau artes reales/physicae.

Grup pertama sering dianggap sebagai grup dasar, di mana cabang-cabang ini juga disebut sebagai artes triviales, atau trivium. Secara falsafah, ini berarti suatu pertigaan pada jalan. Sebagai kontras dari mereka, ada disiplin matematika fisika atau artes quadriviales atau quadrivium yang sering juga disebut sebagai perempatan pada jalan.

Tujuh liberal arts adalah anggota dari sistem pembelajaran yang dimulai dari cabang bahasa sebagai tahap pertama, cabang matematika sebagai tahap kedua, dan sains sebagai tahap akhir.

Pada sistem pendidikan modern, yang termasuk ke dalam liberal arts itu adalah studi mengenai teologi, sastra, filsafat, sejarah, bahasa, matematika, dan sains.

Dewasa ini sistem pendidikan liberal arts telah dipraktekkan di hampir semua universitas di Barat, dalam pendidikan tingkat undergraduate (setaraf dengan S-1 di Indonesia).

Tujuan dari liberal arts adalah untuk memberi pengetahuan umum agar para mahasiswa memiliki dasar pengetahuan kuat yang akan menjadi bekal kepada mereka dalam dunia kerja dan dalam menempuh karier profesional atau karier ilmiah yang lebih tinggi.

Apabila diinterpretasikan secara lebih luas, orang yang mendapat pendidikan liberal arts adalah orang yang bebas untuk memilih satuan atau paket mata kuliah yang diminatinya sebagai bekal apabila ia terjun di dunia kerja.

Konsep Kurikulum Liberal Arts
Agus Suwignyo dalam bukunya Dasar-dasar Intelektualitas (2007), menengarai program ini pada dua muatan, yaitu dalam perspektif kurikulum pendidikan sebagai kurikulum objek kajian, dan disposisi sikap sebagai kurikulum tersembunyi.

Kurikulum objek kajian berkaitan dengan ilmu yang dipelajari, mencakup sains formal, sains alam empiris, dan sains sosial empiris. Sementara kurikulum tersembunyi berhubungan dengan etos keilmuan dalam suatu disposisi sikap yang melekat pada kepemilikan ilmu. Disposisi sikap merujuk pada kemampuan mencetuskan gagasan otentik yang mendasari sikap dan perilaku kelimuan.

Pendidikan liberal art menekankan pada pengembangan kemampuan berfikir dan menalar, yakni pengolahan kompetensi untuk menemukan dasar rasional bagi suatu gagasan dan sikap, disamping juga mengolah kopetensi-kempetensi yang umum dan mendasar.

Umum artinya tidak spesifik atau khusus; mendasar artinya esensial dan tidak pragmatis. Pendidikan liberal art juga mencakup keseluruhan dimensi kemanusiaan secara utuh, yakni manusia sebagai mahluk yang menalar, berinteraksi dan berkembang, dan menciptakan individu yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab.

Penerapan/ implementasi Liberal Arts
Prinsip bahwa mahasiswa harus memiliki pengetahuan cukup mendalam mengenai sesuatu yang khusus juga tidak boleh dilupakan. Karenanya, tujuan dari pendidikan liberal arts adalah memproduksi para lulusan yang tahu sedikit mengenai banyak subjek dan tahu banyak tentang satu subjek (to know something about everything and to know everything about something). Dari prinsip itu, lahirlah sistem yang dinamakan major dan minor.

Setelah mencapai tahap tertentu (atau telah mencapai sejumlah SKS tertentu,-red) dalam studinya, mahasiswa diberi peluang untuk menentukan disiplin apa yang akan menjadi minat utama (major) dan disiplin apa yang menjadi pelengkap (minor).

Misalnya, seorang mahasiswa bisa saja memilih kombinasi major-minor yang tak terbayangkan di negeri ini seperti major pramedikal (untuk menjadi dokter) dengan minor sejarah, politik, atau ilmu budaya. Ketika ia memilih suatu major, universitas telah menentukan mata kuliah-mata kuliah apa saja yang tertera dalam paket itu, demikian pula pada waktu ia memilih minor.

Liberal Arts di Indonesia
Seperti dikutip dari situs Uni Sosial Demokrat (unisodem.org) sampai saat ini wacana untuk menerapkan konsep liberal arts di Indonesia baru terdengar dari Universitas Indonesia, Prof Gumilar Rusliwa Somantri tak lama setelah ia menjabat sebagai rektor baru Universitas Indonesia (UI) tahun 2007 mengemukakan gagasan untuk mempraktikkan sistem liberal arts pada satu-satunya institut pendidikan tinggi yang menyandang nama bangsa dan negara ini.

Rektor baru UI itu lebih jauh mengatakan bahwa UI harus mempraktikkan education and research without walls, kegiatan pendidikan dan riset tanpa dipisah-pisahkan oleh dinding-dinding ilmu dan dinding-dinding fakultas. Sampai saat ini, penerapan konsep liberal arts di UI sudah sampai pada tahap kerjasama perancangan kurikulum pada 6 Februari 2009 dengan Yayasan Pendidikan Jaya yang telah menerapkan konsep liberal arts pada seluruh aspek pendidikan dari tingkat pra-sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi secara berkesinambungan di Yayasan Pendidikan Jaya.

Fenomena di UMS
Sampai saat ini, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) masih belum menerapkan sistem kurikulum liberal arts, namun hal tersebut telah diwacanakan oleh rektor UMS, Prof. Dr. Bambang Setiaji.

Dia menjelaskan bahwa UMS harus mencoba konsep liberal arts yang dari konsep tersebut akan menghasilkan para lulusan yang memiliki ilmu yang spesifik. ”Dengan kurikulum liberal arts ini nantinya para lulusan dari UMS akan memiliki ilmu dan keterampilan yang spesifik, dan hal tersebut sangat dibutuhkan di dunia kerja. Sehingga nantinya para lulusan akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan,” katanya.

Sebagai kurikulum baru yang belum pernah dicoba di UMS, penerapan kurikulum liberal arts harus dipersiapkan dengan matang. Dimulai dari persiapan administrasi yang harus sudah siap dan terorganisir dengan baik, karena dengan konsep bebas mengambil mata kuliah yang diinginkan dapat menyebabkan administrasi bekerja lebih ekstra dalam merapikan segala hal yang tidak terstruktur.

Selain itu, sosialisasi dan pemberian pemahaman kepada dosen dan mahasiswa tentang kurikulum ini harus ada, hal tersebut dilakukan untuk menghindari kebingungan dan kesalah pemahaman konsep, karena masih banyak dosen dan mahasiswa yang belum mengerti bahkan belum mengetahui tentang apa itu sebenarnya kurikulum liberal arts.

Selain itu, survei mengenai tingkat kemauan dan partisipasi civitas akademika tentang penerapan konsep ini harus dilakukan agar diketahui apakah kurikulum ini dapat diterima atau tidak ketika diterapkan.

Meskipun kurikulum liberal arts masih belum diterapkan, tetapi Bambang Setiaji mengungkapkan bahwa fakultas hukum telah merespon dengan positif wacana penerapan kurikulum ini dengan membebaskan mahasiswa untuk mempelajari bidang-bidang ilmu lain, seperti ilmu teknologi informasi, ekonomi dan lingkungan.

Sehingga mahasiswa lulusan fakultas hukum bisa memiliki kosentrasi dalam hukum perbankan, cyber law, dan hukum lingkungan. Dan hal ini mengindikasikan bahwa fakultas hukum bisa menjadi fakultas pertama yang menerapkan konsep kurikulum liberal arts di UMS.

“Sampai saat ini, fakultas hukum menanggapi wacana kurikulum liberal arts dengan sangat baik, dan saya berharap untuk kedepannya semua fakultas di UMS dapat sepakat untuk menggunakan kurikulum ini, sehingga UMS bisa menjadi universitas yang menggunakan kurikulum liberal arts,” tutupnya.

6 komentar

  1. Fakultas Hukum? Hmm… Aidul ini emang banyak tingkah.

  2. tciely · · Balas

    kalau ada liberal art di ums aku maw ambil elektro ah…. haaahaaaa gaya!!!! ya mengko gen ketemu kabel

  3. westalah, enak dadi enginer

  4. cita-cita penerapan konsep liberal arts sudah ada di Univ Paramadina dengan Liberal Arts-nya Kafha..yang berdiri jauh sebelum Gumilar ngomong soal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: