Degradasi Akhlak dan Iman

Untuk semuanya… aku ingin mencurahkan isi hatiku yang akhir-akhir ini sedikit mengganggu kehidupanku.

Aku yakin ini bukan hanya perasaanku saja, tetapi merupakan kenyataan bahwa keimananku menurun tajam dibandingkan waktu SMA dulu. Hal itu bisa terlihat mulai dari cara berpakaianku yang sudah tidak begitu mementingkan tertutupnya auratku dengan sempurna, selain itu walaupun masih wajar tetapi pergaulanku dengan lawan jenis pun sudah tidak ada batasannya, dan yang paling parah dan paling aku sesali adalah aku sudah mulai dengan mudahnya meninggalkan sholat! Astagfirullah..

Sebenarnya aku sudah menyadari kalau hal ini salah, tetapi entah kenapa terasa sulit sekali untuk bergerak keluar dari jalan yang salah ini. Sepertinya yang bisa aku analisis hal ini terjadi dikarenakan lingkungan disekitarku tidak mendukung untuk peningkatan iman dan akhlak. ingin keluar dari lingkungan ini pun susahnya minta ampun, soalnya aku sudah stuck dan kepalang cinta dengan kehidupanku saat ini. Sungguh dilema yang sangat membebani hatiku, di satu sisi aku ingin membenahi diri untuk minimal bisa seperti diriku yang dulu meskipun waktu itu pun masih jauh dari baik, dan di sisi lainnya kehidupan di organisasi, pergaulan dan gaya hidupku ini sudah mulai mendarah-daging dan aku menikmatinya.

Atau mungkinkah kalau ini merupakan efek dari hilangnya kepercayaanku terhadap ‘orang-orang alim’ yang julukannya ikhwan-akhwat? soalnya aku melihat fenomena yang jujur saja aku tidak menyukainya, dimana ternyata mereka pun ‘maaf saja’ tidak bisa menjaga hati dan pergaulannya dengan lawan jenisnya, banyak sekali oknum yang ternyata berpacaran dengan sesama aktivis islam…dan kadang aku berpikir ‘lebih mending aku, masih bisa jaga hati’ dan dari situ paradigmaku tentang kehidupan aktivis islam berubah! aku sampai bisa menyimpulkan bahwa orang tanpa predikat ‘ikhwan-akhwat’ tetapi bisa menjaga hatinya itu lebih baik dari ‘ikhwan-akhwat’ yang ibadahnya kenceng tapi kelakuannya sebenarnya sama saja, bahkan tidak lebih baik. yaa..walaupun nanti keluar ungkapan “ikhwan/akhwat juga manusia” tapi tetap saja aku tidak bisa menerima itu.

tapi sumpah! walaupun begitu aku ingin berubah, aku ingin kembali ke jalan yang benar… aku merindukan saat-saat dulu ketika aku masih menjadi ‘aktivis islam’.

saat ini Aku butuh orang yang bisa mengingatkan aku, menegurku ketika aku salah, dan mengembalikanku pada kehidupan rohaniku yang dulu.. aku butuh pencerahan!

7 komentar

  1. wa…
    saia gak isa komentar dalam hal ini, jujur saja saia lebih buruk dibandingkan dengan kehidupanmu saat ini, aku mengenal Islam baru saat aku sudah “berumur” dan akan menjelang mati, yang penting tetep semangat dalam menjaga keharmonisan di dalam bersahabat, Allah Maha Tahu akan kejernihan hatimu..

  2. Nenden, aku punya stok tulisan terkait (ngga enak diksinya-terkait). Tulisan ini termuat (bukan dimuat) di tabloid Pabelan Pos tahun 2001. Aku lupa edisi berapa, tapi aku tahu, ini tulisan pertamaku di Pabelan Pos. Ketika itu, aku tengah menyandingkan kebenaran yang aku yakini, realitas di depanku, realitas yang seharusnya… termasuk Pabelan.

    Here we go….

    Fitrah

    Norma memang tak pernah luangkan kejengahan sedikit pun. Tampaknya, kompromi atau anulir tak berlaku baginya dan yang kutahu hanyalah dulangan pijakan angkernya yang kadang-kadang menyebalkan. Ia tak pernah sudi untuk sedikit peduli pada toleransi bikinanku; apalagi soal hasratku. Padahal, boleh dibilang, semua adalah hasil kerumunan perseteruan dialektis antara aku dan AKU. Ya, guliran inovasi luhur yang benar-benar berpijak pada hasil kontemplasi dan jelas-jelas berkualitas. Setidaknya, ia ada di ujung kegelisahanku yang tak pernah terkoyak; suci. Hasilnya, rasio, sebagai penerjemah inti kemafhumanku pun berlutut bingung waktu semua inginku mesti dipraktikkan.
    Bug!!! Cabikan kungkungannya makin terasa hambar saat ternyata, semua hal telah termanifes ke rangka sistem sosial; hasil pengondisian atau angkuhnya ketaklidan serta lazim yang bahkan, diazaskan. Kamikaze generasi revival pun akan konyol saat berusaha sentuh koridor ini. Benar, jibaku yang tak mampu gidikkan patronase nilai. Mungkin, hanya percikan-percikan legitimasi nafsu guna meminimalisasi riotnya jiwa bar-bar manusia.
    Aku tak tahu, apakah semua berarti bahwa radius kebenaranku akibat distorsi dan deviasi yang berlebih benar-benar nyata dan semakin melengang. Atau, ini justru wujud keniscayaan bahwa penelikungan adalah konsekuensi logis akselerasi perubahan peradaban. Ya, untuk yang beradab. Atau memang, ada sindrom baru tentang pemaknaan ingin. Atau, ada alat analisis yang tengah menggejala di kerongkongan dogma; tentang tepo seliro yang bernasabah. Ehm… dogma yang… memohon.
    Oya… ada sedikit keyakinan di lubuk hatiku saat aku ingin nikmati pola interaksi yang relatif permisif. Ada kecenderungan menggelegak untuk berkata sah. Tentu, ini tentang justifikasi; pengejawantahan pemaknaan cinta. Ya, pematahan substansi nilai lewat asumsi kasih sayang. Ya, tatkala keindahan dirasa bukan lagi eksploitasi hasrat semata, tapi ia juga buah akumulasi total efektifnya mesin penyeimbang. Ya, semua tentang muatan-muatan penghargaan terhadap kemanusiaan. Lantas, di dasar kerangka ini, ada pembahasaan yang memang terwujud dari murninya embrio ketaklidan yang sesungguhnya; nurani yang berwewenang dan pemahaman ingin atas nurani.
    Ups, keyakinan tersebut ternyata makin memaksaku untuk mengaku bahwa nuansa apologetik sedang aku bangun. Benar-benar terasa kuat desahannya. Parahnya, aku turut terpaku pada kemunafikan, ketika pemaknaan harfiah adalah prioritasnya. Konkretnya, ia adalah hegemoni atas rekayasa kebutuhan dan ketergantungan, terkikisnya kesucian fungsi-fungsi egaliter di muara tindakan, orientasi kebiadaban nafsu, dan nyali kegelisahan yang makin menciut. Aneh, tiba-tiba, aku menjadi tak berani tersengat lagi; surut untuk menabrak; dan tak minat pada lokus marginal. Gerenyet ‘kere’ terasa semakin membahana di sanubariku. Heh, etos brain dead virtually, kata Blur; pelantun Song 2.
    Hah!!! Gila… bahkan aku pun masih bingung saat aku butuh ‘makan’. Padahal, terang-terang itu naluriah. Dan untuk berimajinasi melawannya pun aku masih serasa terkoyak. Aku tetap saja bersikukuh untuk mengeliminasi kelaziman hasrat, sedang sisi jiwaku yang lain terkekeh.
    Dahi akalku berkernyit….
    Atau, pelenaan kemesraan God spot-ku???
    Mungkin, untuk sementara, inginku memang perlu bungkaman. Aku akan seruak binar-binar kepecundanganku lagi entah untuk yang keberapa kalinya. Aku butuh maknai apa itu cinta sesama dan, yang mutakhir, terminologi sohib. Aku mesti dorong, paksa, dan munculkan bahasa keikhlasan. Dan yang jelas, meraih parameter hakiki tentang demarkasi peran angkara dan kesucian tindakan.
    Mendadak, aku juga makin terkesima saat ternyata, logika ‘daripada’ dan ‘sekalian’ mewujud dalam jargon utama peleburan visiku. Semestinya, ia mampu menginspirasikan jalan alternatif yang mampu menjembatani gelegar hasrat dan jiwa limbung yang mengintip. Ya, jalan ketiga yang akan mampu memberikan poin akulturasi brilian. Kalau tidak, seperti biasa, ia malah membaiat predikat cinta duniaku.
    Berusik pun butuh energi berlebih. Sebenarnya, ia adalah energi positif saat semua hal dikoridorkan pada sedikit ingat; manusia akan merenda waktu bersama Munkar-Nakir kelak. Tentunya, di kancah kekuasaan mereka. Gereget nyelekit yang so pasti bikin kita tersungkur dan bangun untuk ribuan kali. Sebab, track record tentang banyak ingin akan tertuai bila ada kemurnian upaya; tanpa ragu tentang adanya sesuatu yang maha dari segala yang maha.
    Ha ha ha…. Sebenarnya, aku pun layak untuk terbahak. Ya, tersungging untuk sekadar keluhan yang tak bertaji; tersenyum untuk penginjak-injakan kerapuhan manusia. Heh, dalih fitrah, katanya. Atau, ehm… fitri. Ya, cerocosan yang bahkan tak mampu menggeliatkan pucuk eksistensi manusia; susah digapai, meski bukan berarti tak terjamah. Durasi kemunafikan peran untuk libido kesengsaraan memang harus disahkan. Kalau tidak, tak ayal, bicara status, bukan lagi sekelas binatang. Andai kelak, fosil Iblis mampu diotopsi pujangga teknologi, keakuanku mungkin bakal terhenyak untuk terakhir kalinya.
    Yap, temaram senja menyusul dan tak lagi termataharikan. Sejenak, simbol alam akan menjadi amunisi kelakar benak kita. Ia akan menjadi upaya permisif penuai kekosongan jiwa yang tampak semerbak; padahal ia wajib diberangus. Perkara keutopiaan, sebatas konsep, atau kepincangan hidup yang bahkan sampai berderit-derit, tampaknya bukan soal besar. Apalagi, tentang ‘kasihan’ yang akan bergelayut sepanjang masa. Sebab, aku tahu, pemangkasan rencana, setidaknya, akan berbuih kebahagiaan. Dan, ia benar-benar nyata.

    Jumat, 03 Agustus 2001
    22.13 WIB

  3. @arif giyanto

    wahh mas,, aq baca tulisanmu malah makin mumet mas.. mas..
    aq bingung maksudne opo,, maklumlah soale otakku kie kagak nympe nyerap tulisan tingkat tinggi kek gitu..
    hehe:D

  4. Tingkat tinggi?!! Nge-game kalee…. Kalo ditanya, aku juga suka bingung sendiri sama tulisanku. Haha….

    Pernah baca Derrida? Ada terminologi demarkasi kebenaran. Setiap kali kita bertemu dengan kebenaran yang kita yakini, berarti kebenaran itu bukan kebenaran. Sebab, kebenaran tak bisa dibatasi oleh apa pun.

    Begitulah manusia. Setiap saat mendamba kebenaran. Tapi setiap kali kebenaran itu diyakini, akan ada dahaga kebenaran yang baru.

  5. mudz069 · · Balas

    Aku pikir aroma “ketuhanan” itu mirip dengan BTS nya provider seluler………bila kita dekat sinyal itu akan terasa kuat dan kian melemah seiring dengan kian jauhnya kita dari “simbol-2” ketuhanan.

    Aku yakin aroma ketuhanan itu menguap dari jiwa kita secara gradual, secara perlahan, step by step.
    Dan untuk mendapatkan kembali sinyal yang kuat, aku rasa bisa dengan pembalikan proses.
    Kita ambil kembali “kebaikan” apa yang terakhir kali lenyap dari hati kita.
    Aku juga begitu kog, sering merasa jauh dari Tuhan [lha wong senenge nonton gambar anget-anget,wkeke], tapi kadang sebuah buku tentang surga, tentang bidadari mampu membangkitkan gairahku kembali untuk ber “khalwat” dengan sang maha pencipta.

    Selamat berjuang tuk kembali kejalan yang lebih benar.
    Ra usah tengok kiri kanan.Segenap ikhwan-akhwat itu hanya oknum, hanya godaan dan ujian semata.
    Bukankah orang baik itu harus diuji, fit n proper test agar ketahuan kadar kebaikannya ?

  6. aku merasa, apa yang kamu rasa.
    memang yang jadi masalah adalah diri kita sendiri nden (duh kenapa akhirnya balik manggil pake ini ya???). mungkin iman kita memang belum cukup kuat untuk kita pijaki. iman kita sedikit demi sedikit tergores oleh realitas yang ada di depan kita. pergaulan kita, aktifitas kita, kerja kita, dan roda hidup kita.

    untunglah menulis membuat kita jujur, sudah satu langkah lebih maju ketika kita menyadari suatu kesalahan yang ada di diri kita. terkadang aku malah sok gak mau mengakui, sok malu kalo “busuk”-q diketahui sama orang lain. malu ketika apa yang diprasangkakan orang terhadapku itu tidak benar. misal saja, orang mengira aku itu pinter linux (biasane karena aku njabat dadi ketua KPLI Solo), padahal aku juga newbie linux. Yagh walau side effect dari status itu memang sangat berpengaruh. Hal ini nyatanya juga ada di bagian kerohanianku. Gak perlu tak contohkan kan?

    Kadang memang teman yang akan menjadi benteng kita nden. Aku sendiri memang agak jadi introvert. Tertutup sama orang, aku sudah jarang bisa percaya sama orang. gak tahulah sejak kasus tahun lalu. aku gak bisa share sama orang. dan ternyata ini juga berakibat pada share lebih dalam soal agama.

    aku sangat merindukan masa-masa kuliah dulu, ketika dimana, ada temen-temen yang mengingatkan aku ketika aku salah. memberikan semangat ketika aku lengah😦 . tapi hidup tetaplah hidup. Hidup harus berputar. Kita akan tetep hidup jika kita tetap ikut berputar. (halah)

    wes, sekarang langkah awal sudah dibuat. tinggal kita mau mengkoreksi atau tidak. semangat nden, aku pun kadang kadang juga merasa dibawah.

    nb : pesen yang terkadang aku luput menjalaninya. tetaplah di forum kajian. karena itu akan membuat kita recharge ketika iman kita drop.

    hiks, rodo bekaca-kaca aku nulise

  7. @mas kur..

    hehehe,, thx masukannya..

    realy2 bermanpaat..

    ya..mudah2n smua ni bisa jadi langkah awal untuk memperbaiki diri,

    amin..amin..

    tetap semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: