Makanan Shock!!

Ini cerita tentang sebuah makanan yang benar-benar membuat saya dan teman saya (sebut saja Sari) Shock! Jadi perhatian, untuk pembaca yang tidak tahan dengan kekerasan dan hal-hal yang berbau menjijikan, harap segera berhenti membaca dan memalingkan wajah SEKARANG!

(hahaha..bercanda, bercanda. Gak se-extreme itu koq)

Pada suatu hari di Bulan Desember, tepatnya Senin tanggal 15, saya sebagai redaktur majalah memutuskan untuk mulai hunting, ditemani reporter dan teman saya Sari, kami mulai mengelilingi Kota Solo untuk mencari sebuah sekolah robot. Saat itu saya memang ditugaskan oleh Pemred Majalah untuk memegang rubrik IPTEK, sehingga saya memutuskan untuk mengangkat Robot di dunia pendidikan. Setelah sempat kesasar satu kali, akhirnya kami dapat menemukan sekolah robot yang dimaksud. Setelah sampai di sana, akhirnya kami bagi tugas, saya yang mengambil gambar (fotografer), dan Sari mewawancari pengelola sekolah itu. Proses pencarian berita itu dimulai pukul 14.15an dan berakhir sekitar pukul 15.30an. Setelah puas mencari informasi, akhirnya kami memutuskan untuk sedikit refreshing, jalan-jalan sambil mengisi perut. Karena kebetulan kami sedang berada di daerah Manahan (Gelora Manahan), maka kami mencari makan di daerah sekitar situ.

Daerah Manahan bisa dibilang sebagai pusat wisata kuliner bagi para turis, baik itu turis domestik maupun turis dari luar, oleh karena itu disana bisa kita lihat banyak sekali kios yang menjajakan berbagai jenis makanan, mulai dari makanan khas solo, sampai makanan junk food. Saking banyaknya makanan yang ditawarkan, menyebabkan kami sedikit bingung untuk memilih menu apa yang akan kita makan sore itu. Ketika ditanya Sari “Den, mau makan apa?”, saya berpikir cukup lama dan menjawab “Terserah kamu, atau nyari makanan khas Solo aja, masa’ udah setaun lebih di Solo tapi koq aku belom pernah tau dan nyicipin makanan Solo” tandasku. “Sar, emang makanan khas Solo apa gitu?” saya pun balik bertanya, “hmm..apa ya Den? Aku juga gak tau.” jawab Sari dengan ragu-ragu. Selang beberapa waktu setelah jawaban terakhir itu, akhirnya Sari memutuskan untuk mengajak saya mencicipi TENGKLENG. What is that? Bukankah yang saya tau itu adalah sayur tulang? Kenapa sayur tulang, karena ya isinya emang tulang belulang. Saya sempat menolak itu, tapi Sari meyakinkan saya kalau tengkleng ini beda, ya saya hanya bisa mengalah, apalagi saya melihat di spanduknya Tengkleng Sapi. Ya mungkin ini beda, biasanya kan yang diTengkleng itu kambing, dan saya sedikit tidak begitu suka dengan makanan berbau kambing. Akhirnya kami pun memilih tengkleng menjadi menu makan sore kami.

Perasaan saya sudah tidak enak ketika masuk ke dalam kiosnya itu, tapi kadung masuk masa’ mau keluar lagi, akhirnya Sari pun memesan 2 porsi tengkleng di tambah teh anget untuk saya dan es teh untuknya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesanan kita datang, perasaan tidak enak pun semakin menguat. Disana kami masing-masing di sodori satu mangkok penuh tengkleng, satu piring nasi ditaburi bawang goreng, piring plastik kosong, dan satu buah kobokan lengkap dengan irisan lime. Saya sempat bingung, ini gimana cara makannya? Ternyata, satu buah piring kosong itu untuk tulang sisa yang sudah kita emut. OK! Kami pun mulai menyiapkan mental untuk melahap makanan di depan kami itu. Setelah mulai menganalisa isi dari semangkok penuh tengkleng itu, saya pun menyimpulkan kalau itu bukan daging sapi, tetapi kambing. Oh My God! Hal pertama yang membuat saya shock saat itu. Ingat, tadi saya mau diajak makan tengkleng ini karena berpikir kalau tengkleng ini berbeda (karena merk-nya saja tengkleng sapi). Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya saya menarik nafas dalam-dalam dan berfikir “ini gak bakal seburuk yang saya bayangkan”, kemudian saya pun menyantapnya. Walaupun dengan perasaan tertekan, tapi saya bisa memakan sedikit demi sedikit makanan tulang-belulang itu.

Di tengah perjalanan, saya mengidentifikasi isi mangkok itu dan Oh My God! Hal kedua yang membuat saya shock! Ternyata yang ditengkleng itu bagian kepalanya, karena saya bisa mengenali ada rahang dengan sederet gigi yang nampak menyeringai kepadaku di sana. Tidak! Hal itu benar-benar membuat saya tidak sanggup melanjutkan perjalanan untuk menghabiskan makanan itu. Akhirnya saya angkat bagian rahang itu dari mangkok dan saya simpan di piring plastik. Saat melihat timbunan tulang sisa emutan milik Sari dan punyaku, saya pun sedikit bercerita paranoid kepada Sari, “Sar, jangan-jangan ni sisa tulang entar dikumpulin terus dikasih bumbu lagi Sar. Nanti jadinya tengkleng daur ulang. Hii..!”, Sari hanya tersenyum mendengar ocehanku sambil menjawab “Gak mungkin lah, Den”. Kemudian tanpa niat menghabiskan tengkleng itu, saya pun mulai menginvestigasi tengkleng yang tersisa. Ketika saya menemukan sebuah bagian yang kenyal dan berbentuk bulat, saya pun mulai memainkannya dengan garpu, “lucu, kek apa aja. Sar, ini apanya sih?” tanyaku, “itu matanya, Den.” sahut sari. Mendengar jawabannya itu sontak saya terkejut, “uhyek.. gilee..beneran nih matanya? Untung aja kagak dimakan. Untung..untung..”. Setelah itu, saya total berhenti berhubungan dengan tengkleng itu, dan memutuskan untuk segera beranjak dari kios itu. Sari yang bertugas membayar tengkleng itu, dan saya mendengar satu hal yang mampu membuat saya sangat shock, dan ini benar-benar yang paling mengejutkan diantara yang lainnya. “Totalnya 32ribu.” jawab si ibu penjual tengkleng ketika ditanya berapa total yang harus dibayar. “Busyet dah! Gile aja, duit segitu bisa buat jatah makan gue lima hari Sar!” ungkapku dalam perjalanan pulang. Setelah itu, saya berjanji dan bertekad pada diri saya, kalau saya tidak akan sekali-kali lagi makan tengkleng, dan makan-makanan yang berbau kambing. Trauma aku!!!

6 komentar

  1. Greatings, Interesting, I`ll quote it on my site later.
    Have a nice day
    AlexAxe

  2. kekekeke …

    Coba ke Mbok Galak depan depag. Tar traumanya jadi hilang.
    Kambing kan bisa meningkatkan vitalitas.

    Kalo trauma dengan tulang mending carinya yang gule jangan yang tengkleng. Soalnya kalo di lihat dari ceritanya sudah “jijik” duluan. Dinikmatin aja.

  3. ini mah gag cerita yang menyeramkan tetapi cerita yang menggelikan.

    coba kamu merasakan masakan khas Rembang yang bernama sayur Merico, pasti nanti kan tergila – gila
    hahaha

  4. jiakakakak, saya juga pernah mabuk tengkleng… karena saking banyaknya yang masuk ke perut, eh dalam perjalanan pulang mabok, nggliyeng jalan pun sempoyongan… ampun dj… abis itu kapok ga beli disana lagi, tapi ngga trauma dengan makanan ini, kalo ditawarin… hajar bleh… :p

  5. Tengkleng dan masakan lain dari daging kambing itu ueeeenak poooolllll loh. Kalo aku sih memang penggila wedhus, xixixixixi

  6. jaremu enak meneh wedus balap don…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: