Di Gang Sempit Itu…

Hari Kamis, seperti biasa Rindang -seorang siswi kelas 2 SMA- pulang ke rumahnya di sore hari, dia harus mengikuti latihan Karate di sekolahnya. Rindang seorang Karateka yang berprestasi, dia selalu menang dalam kumite dan dojo, dia murid kesayangan dan dikagumi karateka lainnya, memang dia seorang wanita yang agak tomboy.

Rumahnya ada di ujung gang sempit yang tidak bisa dilewati kendaraan, sehingga dia harus berjalan kaki setelah turun dari angkot. Tak seperti biasa, hari Kamis ini Rindang pulang lebih malam karena tadi dia harus membantu seorang ibu-ibu yang dicopet, dia mengejar pencopet itu dengan masyarakat sekitar dengan semangat, setelah pencopet itu tertangkap, dia berontak, kemudian Rindang melawan dan mulai melancarkan cudan cuki dan maigeri jitunya kepada si pencopet sehingga pencopet itu pun lumpuh dan dibawa massa ke kantor polisi.

Rindang selalu semangat untuk hal-hal seperti itu karena darah pahlawan mengalir dalam dirinya, maklumlah karena kakeknya seorang veteran pejuang kemerdekaan dan ayahnya seorang anggota kepolisian. Walaupun dia anak tunggal, tetapi dia sama sekali tidak manja dan selain itu, dia sangat percaya diri walaupun memiliki tubuh yang sedikit ‘melar’. Dia merupakan contoh yang cukup bagus untuk dijadikan seorang teladan bagi perempuan-perempuan lain yang kurang percaya diri karena kekurangan fisik.

Hari itu setelah membantu si ibu-ibu tadi, Rindang merasa tidak enak hati, ada yang aneh, dia merasa dibuntuti orang lain dari tempat si ibu kecopetan sampai ke depan gang rumahnya. Tapi Rindang tetap berusaha untuk tenang sampai ada kejadian aneh di gang sempit itu.

Mungkin karena hari sudah gelap, pikiran aneh mulai muncul di kepala Rindang, dia selalu berpikir yang agak paranoid, walaupun dia seorang karateka tetapi dia tetap takut pada yang namanya hantu, apalagi saat itu adalah malam Jumat yang diyakini banyak orang sebagai malam yang angker. Oleh karena itu Rindang semakin mempercepat langkahnya, dia teringat tentang perasaan anehnya, dan dia masih merasa dibuntuti. Karena pikiran Rindang sudah tak menentu, akhirnya dia memutuskan untuk berlari dan ternyata orang yang membuntutinya pun ikut berlari sambil memanggilnya. Rindang semakin mempercepat larinya dan tiba-tiba sebuah batu kecil menyambut Rindang, dan akhirnya Rindang jatuh, dia tidak sanggup berlari kembali karena dia tidak bisa mengangkat tubuhnya, kakinya terkilir. Kemudian orang yang membuntutinya itu mendekatinya.

Rindang tak sanggup melihat ke belakang, gambar-gambar aneh mulai direfleksikan memori otaknya. Orang itu semakin mendekat, mendekat dan mendekat sampai akhirnya orang itu menyentuh tubuh Rindang. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh Rindang, karena sudah tak kuat lagi menahan rasa takutnya itu akhirnya Rindang menangis. Kemudian orang yang membuntutinya itu merasa panik dan mencoba menenangkan Rindang, bukannya menjadi tenang, tetapi Rindang semakin memperkeras tangisannya dan mulai membabi buta meninju sekelilingnya sambil tetap memejamkan mata.

Ternyata orang yang membuntuti Rindang itu bisa menangkis pukulannya dan terlihat lihai melakukan itu. Kemudian dengan sekuat tenaga orang yang membuntuti itu memegang tangan Rindang dan mulai membekap mulutnya. Dan akhirnya Rindang tak bisa berbuat apa-apa.

Orang yang membuntuti itu menghela nafas –lega bisa ‘melumpuh’kan Rindang-, desahan nafasnya itu terdengar jelas di telinga Rindang yang masih belum berani untuk membuka matanya. Tak lama kemudian orang yang membuntuti Rindang itu mulai membisikan sesuatu di telinganya. Rindang benar-benar tak mau mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh orang yang membuntutinya itu, tapi apa daya, suara orang itu tetap terdengar di telinganya.

Setelah membisikan sesuatu ke telinga Rindang, orang yang membuntuti Rindang itu mulai melepaskan tangannya dari mulut dan badan Rindang, kemudian orang itu memegang kaki Rindang dan mulai memijat kaki Rindang yang terkilir itu. Rindang pun mulai berani untuk membuka matanya yang terpejam itu. Lalu Rindang memandang orang yang membekapnya tadi, Rindang kaget dan benar-benar tak percaya, badan yang kekar, kulit gelap dan senyuman manis nampak di matanya. Ternyata orang yang membuntutinya tadi adalah Senpai Abu, guru karatenya.

Rindang benar-benar malu dan merasa aneh, kenapa Senpai-nya melakukan itu. Akhirnya Senpai Abu menjelaskan panjang lebar, sehingga Rindang mengerti. Ternyata Senpai Abu hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Rindang telah membantu Ibu yang kecopetan tadi yang merupakan istrinya Senpai Abu.

Setelah menjelaskan itu, si Senpai meminta maaf karena telah membuat Rindang takut dan segera meminta izin untuk pulang karena istrinya telah menunggu di depan gang sempit itu. Rindang pun tersenyum dan memaafkan Senpai Abu.

Akhirnya Rindang lega dan meneruskan langkahnya menuju rumah. Senyumnya sering terkembang ketika dia mengingat kejadian yang memalukan barusan. Kemudian, ketika Rindang sedang melangkah tenang suara jejak langkah terdengar kembali. Rindang mulai menyiapkan rencana untuk mengerjai Senpai Abu –pikirnya-, setelah dia maju beberapa langkah dia membalikkan badannya tiba-tiba dan berteriak untuk mengagetkan Senpai Abu. Tapi, sungguh kaget Rindang ketika dia menjumpai tak ada seorangpun di belakangnya, sepi. Perasaan paranoid dan memori otaknya mulai merefleksikan kembali gambar-gambar aneh dan mengerikan. Keringat dingin benar-benar mengucur deras di sekujur tubuh Rindang sekarang, kakinya mulai melayang lemas dan akhirnya dia berlari secepat kilat menuju rumahnya yang sudah mulai tampak di matanya.

Dec, 11st 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: