Candi Sari Cepogo

Candi Sari merupakan salah satu situs peninggalan purbakala yang berada di derah Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali.  Candi bercorak hindu ini pertama kali ditemukan sekitar tahun 1967. Bukit tempat beradanya Candi Sari tersebut dipercaya sebagi sumber mata air yang penting bagi kehidupan warga sekitar. Oleh karena itu, situs sejarah tersebut dikeramatkan oleh warga.

Candi tersebut dikelilingi oleh beberapa desa yang warganya masih memegang kepercayaan dan menjaga kelestarian candi tersebut, antara lain desa Candirejo, Candisari dan Josari. “Warga selalu menomorsatukan candi ini untuk diziarahi, biasanya kalau mereka akan mengadakan hajat, sebelumnya selalu memberikan sesaji di candi ini,” jelas Wido Walyadi, juru kunci Candi Sari sejak 1970.

Sebelum diberi nama Candi Sari oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, candi tersebut bernama Candi Sono. Sono berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti anjing. Disebut demikian karena konon dengan penglihatan gaib, candi tersebut merupakan kerajaan yang dijaga oleh seekor anjing berwarna hitam mulus.  “Dulu kala, waktu hujan pertama kali banyak warga yang terserang kutu anjing, padahal di daerah sini tidak ada anjing. Sehingga itu dipercaya dari anjing yang menunggui candi,” papar Wido.

Wido juga menceritakan pernah ada kasus warga yang tiba-tiba sakit setelah mengambil tanaman di sekitar candi untuk pakan ternak tanpa permisi. Selain itu, mitos yang berkembang di sana adalah warga sering mendengar suara-suara tanpa rupa dari candi tersebut. “Biasanya setiap awal dan akhir bulan suro, kalau dilihat secara gaib candi itu ramai dan sering digelar wayangan,” jelasnya.

Di bukit tempat Candi Sari tersebut berada, terdapat sebuah pohon beringin besar yang bisa jadi penanda bagi orang yang akan berkunjung ke sana. Para pengunjung cukup mencari arah menuju pohon beringin yang kabarnya ditanam oleh Sinuhun Hamengkubuwono X. “Masih banyak yang sering datang ke sana, niatnya macam-macam ada yang bersemedi juga mencari pusaka,” jelasnya.

diterbitkan juga di rubrik Asale SOLOPOS edisi Minggu 3 Mei 2012

About these ads

4 komentar

  1. Tina Latief · · Balas

    asik, terbit juga di solopos.. beruntung nih bisa baca langsung dari blognya teteh :D
    ah, kalau di jakarta mana ada yang seperti ini. Kebanyakan tinggal patung. Yang paling baru malah ada patung MH Tamrin yang harganya miliaran itu..

  2. wow…………

  3. menarik tulisannya

  4. wiwh blog yg bagus..

    main2 ke blogku mbak http://www.gugusmile.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.895 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: