Tersesat? GPS Saja…

Saya merupakan orang yang kesulitan menentukan mana arah utara, selatan, barat atau timur, bahkan tak jarang saya tidak bisa membedakan mana kanan dan kiri. Jujur hal tersebut membuat saya tidak mampu memetakan rute jalan mana yang telah atau harus saya lewati. Dengan kondisi seperti itu, saya sukses dianugerahi gelar sebagai Navigator Gagal.

Pernah satu saat saya bersama teman-teman kuliah berencana menghabiskan liburan di Pantai Nampu, Wonogiri. Tempat itu merupakan hasil rekomendasi saya. Semuanya peserta liburan sepakat, karena sebelumnya tidak ada yang pernah mencapai tempat tersebut dan semua berhasil terpengaruh oleh bujuk rayu saya. Di tengah-tengah perjalanan, kami tiba-tiba terhenti karena sopir tidak tahu ke mana lagi rombongan seharusnya bergerak. Mereka pun akhirnya bertanya kepada saya arah mana yang harus diambil. Dengan PD tingkat tinggi dan insting yang saya miliki, saya menyarankan untuk mengambil salah satu jalur. Saat itu mereka percaya saja, karena menganggap saya tahu jalannya.

Tapi ternyata, semakin lama tidak ada tanda-tanda kalau rombongan mendekati tempat tujuan, padahal matahari sudah semakin meninggi. Karena teman-teman saya curiga, akhirnya mereka bertanya pada saya, “Nden kamu tahu jalannya kan? Kamu pernah ke Nampu kan?,” tanya mereka. Saya cuma bisa nyengir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sejak saat itulah mereka menjuluki saya sebagai Navigator Gagal dan mereka bilang kalau mereka tidak akan pernah percaya lagi dengan arahan yang saya berikan.

Semakin lama hal tersebut semakin melekat, dan saya pun semakin sadar kalau saya memang tidak memiliki bakat dalam ilmu navigasi, terlebih kata ‘tersesat’ semakin akrab ketika saya sudah menjadi seorang wartawan di sebuah harian lokal di Solo. Setiap kali saya liputan menjelajah kampung-kampung dan tempat baru di Solo, sudah hampir bisa dipastikan saya bakal tersesat saat pulang, kalau pun tidak saya akan melewati rute baru yang lebih jauh dari perjalanan pertama.

Suatu ketika, harapan saya untuk terbebas dari belenggu disorientasi arah dan rute itu mulai muncul, ketika saya memiliki ponsel pintar yang ditanami Global Positioning System (GPS). Saya bahagia. Karena yang sata tau fungsi dari GPS itu untuk mengembalikan orang-orang yang kehilangan arah atau tersesat. Saat itu, ekspektasi saya terhadap GPS sangat tinggi.

Namun sayang, jika sinyal atau kualitas ponsel pintarnya sangat terbatas, akurasi posisi menjadi masalah. Seringkali posisi di GPS dan posisi nyata di lapangan terpaut sampai 500 meter. Hal tersebut tentunya menjadi kendala untuk orang-orang yang sedang membutuhkan arahan ke suatu tempat. Apalagi untuk orang yang memiliki disorientasi arah dan rute seperti saya.

Pernah suatu kali saya akan menuju ke tempat narasumber saya untuk wawancara, karena tempatnya agak pelosok, saya mencoba menggunakan GPS untuk mencapainya. Tapi setelah berputar-putar beberapa kali, saya tetap tidak bisa menemukan tempat tersebut, padahal saya telah mengikuti arahan dari GPS dan juga memanfaatkan kompas yang sama-sama tertanam di ponsel saya. Waktu semakin sempit, dan deadline semakin mendekat, saya sampai frustasi karena tidak berhasil mencapai tempat yang saya tuju. Akhirnya saya coba tanya kepada tukang becak yang parkir di pinggir jalan, dan dengan penjelasannya akhirnya saya bisa sampai ke tempat tujuan saya, dan ternyata tempat itu sudah saya lewati beberapa kali.

Sejak saat itulah, saya mulai tidak menaruh ekspektasi terhadap GPS dan berpindah ke GPS lainnya. Salah satu teman saya dengan senyum terkembang memberitahu saya, kalau GPS yang paling akurat itu, ya GPS (Gunakan Penduduk Setempat), alias bertanya pada orang atau penduduk yang berada di sana. Ya, tak salah pepatah yang bilang Malu Bertanya Sesat di Jalan, dan saya mengamini perkataan teman saya tentang GPS paling akurat tersebut, toh kasus tersesat di Nampu pun berhasil dipecahkan dengan bertanya pada warga di sana.

tulisan ini dipublish juga di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/05/08/tersesat-gps-saja/

About these ads

17 pemikiran pada “Tersesat? GPS Saja…

  1. GPS itu paling sering sy makenya cuman kalo lagi di kota besar, misalnya lagi di Jakarta yg sinyalnya cenderung stabil dan jarang orang yg bisa ditanyain. you know lah jekardah. LOL
    kalo lagi di desa2 terpencil kek gitu emang lebih mending nanya langsung, lebih detail jawaban aseli orang sana.. bisa kenalan lagi,, syukur2 bisa kenal cowok cakep #eh #gagalfokus :D

  2. Bila menggunakan GPS tak berhasil juga ya tanya tukang becak ya, Mbak, hehehe…, toh GPS juga akhirnya (Gunakan Penduduk Setempat).

    Kalo saya masuk Kota Solo, biasanya muter-muter ga tahu arah keluar lagi untuk menuju Jogja. Sungguh, selalu saja begitu; entah sudah berapa kali. Akhirnya, ya pake GPS (arti yang kedua), hehehe….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s