Nomaden

Akhir-akhir ini, aku telah dicap sebagai orang nomaden oleh teman-teman kuliah dan kantorku. Lantas, kenapa aku dapat julukan seperti itu? Soalnya nih, aku sudah diusir dari kost lamaku, dan sampe sekarang aku belum bisa pindah ke kostku yang baru, karena kamar kosong itu adanya setelah wisuda pertengahan agustus. Ya jadi secara terpaksa, sekarang aku tidak punya tempat berlindung. Jadinya, setiap malam aku habiskan dengan mengungsi di tempat temanku, atau kadang tidur di kampus, tergantung keberuntungannku malam itu.

Nih buat yang belum tau apa arti Nomaden tuh tak ambil dari wikipedia..

Bangsa Nomaden atau bangsa pengembara, adalah berbagai komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain di padang pasir atau daerah bermusim dingin, daripada menetap di suatu tempat. Masyarakat yang berpindah-pindah tempat tetapi bukan di padang pasir atau daerah bermusim dingin, disebut sebagai kaum gipsi.

Saking udah terkenalnya aku sebagai orang Nomaden, sampai-sampai ada alumni LPM Pabelan yang secara khusus memberikan semangat nomaden dan mengirim message ke Pesbukku seperti ini:

Nomaden itu….
Nomaden itu sikap. Sikap untuk menyiasati keadaan. Namun sebenarnya, nomaden itu pilihan. Pilihan untuk merasakan hidup tanpa tempat yang bernama rumah. Tapi bagiku nomaden itu aksi gaya.

Aku jadi inget ketika masih menyandang status mahasiswa. Apalagi menjadi mahasiswa yang dengan sadar dan tanpa paksaan bergabung dalam organisasi macam Pabelan. Sebagai catatan aku memilih hanya Pabelan organisasi yang aku ikuti. Tidak seperti kawan-kawan yang lain yang terperangkap dalam organisasi ekstra macam HMI, IMM, PMII dan KAMMI. Bahwa kemudian aku berkecimpung dalam Solidaritas Mahasiswa Peduli Tanah Air (SMPTA) di tahun 1997-1998 adalah perkara untuk mensikapi keadaan.

Meski secara sah memiliki kamar kos di sebuah wisma di daerah Gonilan, jarang sekali kamar itu aku masuki. Kantor Pabelan, biarpun seperti yang mungkin Nenden rasakan saat ini, adalah tempat aku melepaskan penat. Bagaimana tidak? Kegiatan pagi hingga sore tentu saja seperti mahasiswa yang baik tentu di kelas fakultas. Habis itu ke perpustakaan. Habis itu hunting, diskusi. Asyiknya kalau diskusi di kantor tercinta, kru Pabelan sering dibarengi anak-anak Teater Kidung yang sedang latihan dialog atau vokal. Sementara di kantor, kami menyeduh kopi dan sedikit demi sedikit menyruputnya. Diskusi yang aku maksud di sini bukanlah diskusi yang berat seperti yang mungkin Nenden bayangkan. Nenden boleh menamainya dengan obrolan. Obrolan diawali dengan dibukanya sebuah persoalan ringan, tapi dibahas dengan ringan pula. Namun yang kemudian berjalan, sebenarnya kami telah melakukan olah pikir. Karena kami membeberkan persoalan yang ringan itu dengan kritis, sistematis dan dengan pisau analisis. Hal yang menyenangkan, biarpun kami dari latar belakang fak yang berbeda kami mampu menjaga obrolan itu secara objektif, independen dan tentu saja tanpa prasangka. Cukup menyenangkan. Itu kenapa kami (aku dan beberapa kawan) sering tidur di Pabelan. Sampai beberapa hari aku tinggalkan kamar kosku hingga kadang-kadang aku kangen dengan empuknya kasur, bantal dan guling. Suatu hal yang tidak kita dapatkan di kantor Pabelan kan?

***

Ada yang menarik di luar sana. Dan itu menggoda untuk dirasa. Untuk itu kita perlu ke sana. Meninggalkan kamar kos yang kita sayangi. Celana jean, kaos oblong dang jaket lusuh menempel di badan. Di punggung sudah pasti bagpack. Isinya, di kantong samping ada sabun mandi, sikat dan pasta gigi, handuk kecil. Sedang di kantong depan ada buku bacaan, buku catatan dan bolpoin. Sedang di kantong utama ada kaos dan celana jean (sekali lagi jean), dan tidak lupa celana dalamnya. Karena, meski kita suka kluyuran bukan berarti kita nggak memperhatikan bagian dalam kan? Jadilah kita backpacker. Tidur di pos polisi pinggir jalan pun jadi. Atau emper toko. Syukur bisa menemukan mushola.

***
Di tahun 1997 – 1998 (Saat itu kamu umur berapa ya Nden?). Adalah masa pergerakan mahasiswa. Penguasa makin represif. Aparat tak lagi menjadi alat negara tapi menjadi- maaf-‘anjing’ penguasa. Hukum tak berdaya dihadapan penguasa. Ekonomi terpuruk. Apa kita mahasiswa diam saja. Situasi tersebut membuat diri ini yang seorang jurnalis (mahasiswa), juga tergerak untuk bergerak. Aksi. Lawan. Maka tak heran jika kemudian hari-hari adalah setting aksi, konsolidasi, membangun jaringan di kota lain, mimbar bebas, unjuk rasa dan demo. Segala polah tingkah itu mengharuskan untuk meninggalkan kamar kos yang tersayang. Tidur di kamar kos kawan satu ke kamar kos kawan yang lain.

Boleh jadi 55% hidupnya di kantor Pabelan, 20% di kos dan sisanya di jalan. Menjadi nomaden, saya kira belum menjadi soal.

Dari message tersebut aku bisa mengambil kesimpulan kalo hidup secara nomaden itu memang menggoda, apalagi kalo bisa jadi backpacker keliling dunia (impianku selama ini).. tapi satu kendala besar.. yaitu aku itu CEWEK.. masih belum lumrah di daerah sini seorang cewek berkeliaran gak jelas gak punya tempat tinggal.. jadi dilematis.. huff!!

*menikmati sisa-sisa waktu bernomaden*

27 komentar

  1. ya dimulai dulu dari nomaden idealitas..

  2. hihihi… jadi inget waktu kuliah dulu… ga pernah ada dikos… tidur dikampus… kadang mengungsi di kosnya temen… padahal punya kos sendiri, tapi hanya dipake buat nyimpen barang dan nyuci pakaian aja… :D

  3. idem karo mas iqbal
    secara mben podo cah lab’e.
    urip luweh akeh nak lab :D
    kost cuman buat nyimpen baju sama nyuci

    setelah dari lab pindah puskom
    he3, wes pokoke memanfaatkan segalas fasilitas
    yang ada lah nden :p

    mben pas sma juga, aku nginep’e nak masjid
    sekolah. muleh nek weekend :D, untung mben
    pak bone apikan. dadi nek bengi kok moro
    nak rumahe. makan geratis :D

  4. mari nomaden…

  5. secara bahasa kasar…
    nomaden itu kan berpindah – pindah tempat
    dan orang yang berpindah – pindah tempat itu adalah 2 tipe manusia
    yang pertama dia adalah kontraktor ( orang yang sukanya kontrak sana kontrak sini)
    dan yang kedua adalah orang kaya yang ingin berlibur,hahahaha

    jadi intinya
    nomaden adalah salah satu kegiatan orang sukses

  6. perjuangan mas.. semoga tetep semangat

  7. sebelum keliling dunia…cobalah keliling indonesia dulu…negeri tercinta kita yang menyimpan banyak sekali pesona… :)

    btw, link saya kok belum ada ya… link kmu sudah ada di blog beta lho.. :D

  8. Wah untung aku cowok jadi bebas………..

  9. backpacker? weleh pengen aku

  10. ah, pikiran saya juga nomaden kok

  11. Waw, ternyata jeruknya nggak jadi layu nih mbak. :roll: :D Haiyo maju terus n lebih sumangat ngeblog lagi. Chatting yah :D

  12. selamat menjadi backpacker :D

  13. Salam kenal, weleh Nenden aku jadi keinget jaman kala masih jd pegawai di surabaya tiap hari pindah dari rumah temen ke rumah temen yg lain. Don’t worry be happy. ciri mereka yg bakal sukses tuh selalu susah sedih dahulu. Salam

  14. btw kalau berkenan boleh tukeran link ya. thanks

  15. Hallo mBak!

    Tuker Link ya…

  16. Enak banget hidup nomaden itu, tapi kalau sudah punya anak gak bisa lagi kasian sekolah wara-wiri, mana atuh jerukna

  17. koyo aku nden, nlayap terus, gak mudeng rumahe mana….

  18. adityahadi · · Balas

    mau cewek kek, mau cowok kek … yang penting keteguhan hati

    y itung2 belajar berjuang jadi survivor pas backpackingan ntar
    saya sendiri juga punya keinginan buat keliling dunia, n tujuan utama saya dala berpacking ria : SWISS … bismillah ajah y, orang sabar disayang pacar, hee

    mampir y ke rumah kutu : http://adityahadi.wordpress.com

  19. eh… kalau masih kurang nomaden, bisa juga sesekali tidur di rumahku, nemenin Nanin…
    *tapi pas aku ndak di rumah lho*

  20. Semangat, mbak jeruk!

  21. legiunnaire · · Balas

    aku ya pengen back paker,

  22. ha nek cerita kuwi kan nomaden secara idealis (karena punya kos), lha nek kowe kan nomaden karena terpaksa..ra duwe kos…

  23. wah nomaden
    belum pernah ngerasain tuh yang namanya jauh dari rumah sendirian apalagi sampe nomaden gitu, cerita yg seru.

    sewaktu kuliah rumah deket kampus jadi pas skripsi ya mending pulang tidur d rumah timbang d kampus paling pas deket sidang baru nginep 3 hari 3 malem d kampus.

    salam kenal,

    erwan

  24. Aku saiki yo nomaden kiye mbak. (http://www.wandisukoharjo.com) muga-muga ora nyepam :roll: :D
    ===
    Dolan yuk, hapdet yuk :roll:

  25. Nama Nomaden Gue ambil Mnjdi Nama Sebuah band Bwt Band Gue sendiri. . . Why???? Coz Band Yang Berpindah-pindah Adalah Bukan Band Yang Monoton. . . Gag Itu-itu Az!!!
    N gag Ngebosenin. . .

  26. wah kalau pindah-pindah tempat jaman kuliah dulu biasa jeng, namanya aja mahasiwo, kalau aku pernah nampung orang nomaden 2 tahun di kosku, gratis tis tis

  27. Terimakasih tulisan dan informasinya. Kunjungi juga Semua Tentang Pakpak di GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.952 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: