Apakah 353,5 tahun belum cukup?

WTO(World Trade Organization)atau Organisasi Perdagangan Dunia, yang notabene sebagai ‘polisi’, dan seharusnya dapat melindungi, menjaga dan mangayomi setiap bagian dari dunia perdagangan, sekarang tidak lebih seperti bangunan yang terlihat kokoh dari luar, tetapi keropos di dalamnya.

Bisa kita lihat, di satu sisi WTO sebagai organisasi multilateral mengeluarkan segala kebijakan untuk menciptakan keadaan adil antara petani negara maju dan berkembang. Segala teori dikeluarkan untuk memperkuat kebijakannya tersebut. Negara-negara berkembang menerima, mendukung dan melaksanakan maksud baik WTO tersebut, karena mereka beranggapan semua yang dilakukan ‘polisi’ itu benar. Tetapi di sisi lain WTO tidak bisa mengantisipasi kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh negara maju. WTO tidak bertindak tegas untuk ‘menghukum’ negara maju tersebut, karena WTO memang dibangun oleh negara maju tersebut sebagai ‘alat’ yang bisa digunakan mereka untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga walau bagaimana pun keadilan tak akan pernah tercipta apabila negara maju masih berkuasa untuk menggerakkan WTO tersebut. Selama itu terjadi, kebijakan-kebijakan yang diambil pasti sebenarnya memihak pada negara maju yang memotori WTO tersebut.

Keputusan terbaik yang seharusnya bisa negara-negara berkembang ambil adalah secepatnya keluar dari ‘cengkraman’ WTO, dan membuat WTO tandingan yang benar-benar diprakarsai oleh negara-negara berkembang itu sendiri, walaupun tidak setangguh WTO asli, tetapi setidaknya dapat dengan sepenuhnya memihak terhadap kepentingan negara-negara berkembang ini. Jangan terus mau dibodohi dan jangan pernah mengharapkan perlindungan atau apapun dari lembaga yang didirikan oleh salah satu atau beberapa negara maju. Sekalipun PBB. Karena tidak akan pernah lepas dari hal-hal yang seperti terjadi dalam badan WTO yang dijadikan ‘alat’ oleh mereka.

Begitu pula IMF (International Moneter Fundation) yang telah menjadi lintah darat untuk setiap negara yang meminjam dan bantuan kepadanya. Tidak segan-segan mereka (IMF) memasang bunga yang luar biasa besarnya yang bertujuan untuk mencekik dan menghancurkan bangsa-bangsa ‘kecil’ seperti Indonesia. Hal ini tak lain dan tak bukan adalah salah satu bentuk imperialisme modern, yang tanpa kita sadari merupakan bentuk penjajahan di bidang ekonomi.

Saya sangat setuju dengan pendapat Kwik Kian Gie yang dikutip dari Harian Rakyat Merdeka pada tanggal 21 September 2003, “Kalau kita mau lepas dan tidak tergantung pada IMF, ya harus total. Apa pun yang menyangkut IMF juga harus segera diselesaikan sekalipun menurut formula IMF, utang kita baru bisa turun menjadi tuga miliar dollar AS pada tahun 2007 dan pada saat itu kita baru lepas dari IMF”.

Jangan pernah lagu keluar dari mulut harimau seperti IMF, karena semakin lama kita di dalamnya, semakin lama juga darah kita dihisap habis. Maka secepatnyalah kita seharusnya keluar dari mulut harimau itu walaupun dengan keadaan yang mengenaskan dan tragis. Lebih baik kita mati terhormat, daripada harus mati dimakan ‘harimau’ IMF itu. Jangan pernah takut kalau kita keluar dari IMF kita pasti tidak akan bisa hidup. Kita harus percaya diri dengan kemampuan kita. Indonesia memiliki sumder daya alam yang sangat melimpah. Indonesia sangat kaya, sebenarnya kita tidak perlu harus sampai meminjam dana pada lintah darat tingkat dunia itu, seandainya manusia-manusia kita mau bersusah payah dan bekerja keras untuk mengoptimalkan sumber daya dan kekayaan alam yang kita miliki. Tapi hal itu kembali kepada mental bangsa kita juga, seperti yang kita tau dan kita rasakan bangsa Indonesia itu malas dan hanya ingin enaknya saja, jadi memang susah kalau dari awalnya kepribadian kita tidak dirubah.

Ternyata, semuanya berawal dari mental suatu bangsa, semakin bagus mentalnya, maka semakin kuat pertahanannya agar tidak mudah digoyang oleh ‘lintah darat’ seperti IMF dan WTO. Mulailah benahi diri kita yang juga merupakan bagian dari Bangsa Indonesia dan jangan pernah mau menjadi jajahan lagi, setelah kita puas menerima penjajahan selama 353,5 tahun secara fisik.

opini pertama saya, ditulis tahun 2006

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.962 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: